Tujuh Belas Hari

Foto ini adalah tribute untuk semua tenaga medis dan non medis yang musti pakai masker sepanjang waktu

Hari ini tepat hari ke-17 sejak kali pertama social distancing berlaku bagi diriku sendiri. Hari ke-17 sejak secara resmi diminta kerja dari rumah dan tidak keluar rumah kecuali benar-benar butuh. Kalau situasinya normal, 17 hari biasanya berlalu dengan kilat. Tapi belakangan ini, waktu seakan-akan melambat.

Biasanya aku suka waktu yang berjalan lambat. Santai. Tenang. Nggak capek. Seringnya aku benci menyadari betapa cepatnya hari berganti. Tapi tidak kali ini. Minggu malam yang berbeda karena 17 hari berlalu dan rasanya lama sekali. Corona berhasil menyalakan tombol ‘pause‘ pada aktivitas manusia bumi yang bergerak ‘fast forward‘. Aku selalu menganggap bahwa wabah ini adalah topik ujian yang sama untuk sebagian besar penduduk dunia. Topik ujian boleh sama, tapi soal ujian bisa beda-beda. Ada yang diuji karena positif Covid menjadi takdirnya, atau takdir orang yang ia cintai. Ada yang diuji dengan kehilangan teramat dalam. Ada yang diuji karena kondisi ini membuat nafkahnya tak selancar biasa. Ada yang harus menahan diri karena tak bisa bertemu keluarga, tak bisa pulang kampung. Ada yang terkurung di rumah, tapi ada juga yang tidak bisa pulang ke rumah.


Sekolompok orang ada yang udah setengah gila karena mendekam di kosan sendirian. Cukup banyak juga yang tersiksa karena situasi ini mengacaukan semua rencana yang sudah disusun sejak lama. Ada yang sedang menunggu pertemuan atau kesempatan berharga lainnya dan khawatir akan penundaan yang entah sampai kapan. Kelompok lain, mereka yang hidupnya relatif lancar tapi sudah mati bosan atau rindu pada kehidupan pra-corona.

Untukku, masa ini sudah berjalan 17 hari dan aku tidak berani bertanya sampai kapan ini semua harus terjadi. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya wabah ini bisa selesai. Aku setuju bahwa realistis itu perlu. Tapi terhadap kasih sayang dan kekuasaan Allah, aku memilih untuk berhenti menggunakan otak dan rasa, lalu membiarkan iman yang bekerja. Kata Ustad Omar Sulaeiman, menjadi Muslim itu artinya harus punya ‘healty balance between hope and feel‘.

Satu hal lagi, percayalah bahwa aku, kamu, kita dan mereka adalah manusia-manusia terpilih yang dikehendaki-Nya mengalami ini semua, dan ini bukan kejadian biasa. Daruratnya bisa sampai mengalahkan kewajiban laki-laki solat jamaah di mesjid, karena menghindari mudarat lebih utama. Semoga kejadian spesial ini berhasil membuat kita juga menjadi lebih spesial di hadapan-Nya.

Semoga setelah ini ada rentang kesabaran yang bertambah, level kesyukuran yang meningkat, serta jiwa kepasrahan yang semakin kuat karena sadar betapa lemahnya kita sebagai manusia.

Semoga kita sama-sama lulus ujian ini dengan nilai yang memuaskan :).

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah.

Salam,

Venessa Allia