Surat yang Romantis

Hai. Assalamualaikum. Meet me again!

Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah event bernama Quran Talk yang dibikin sama Yuk Ngaji Bintaro. Acaranya diadakan di Skup Gelato Bintaro (deket Mc.D sektor 9). Narasumbernya ada Mbak Ratu Anandita, Mas Mario Irwinsyah dan yang paling bikin saya penasaran, ada timnya @quranreview hadir di event ini.

Sudah pernah denger tentang @quranreview? Jadi ini adalah akun Instagram yang isinya mengupas ayat-ayat Al Quran dengan cara yang menyenangkan. Tagline mereka adalah “Quran is Millenial-able”. Jadi sesuai tagline, cara mereka mengkomunikasikan Al Quran pun fresh dan menggunakan analogi-analogi yang relate sama millenial. Sebagai old soul lady yang nggak merasa masuk generasi millenial (walau secara definisi, aku masih millenial loh, haha), saya pun merasa nyambung banget sama penjelasan-penjelasan @quranreview. Pada setiap post mereka mengupas 1-2 ayat Al Quran, dan Masya Allah membaca isi “unboxing” ayatnya bener-bener kasih pesan bahwa Quran itu deket banget sama kita, dan ayat-ayat Quran (tanda-tanda kebesaran Allah) itu ada di every single thing kehidupan manusia.

Nah menariknya lagi dari si @quranreview ini, mereka mengupas Al Quran juga dari sisi linguistik Bahasa Arab-nya, jadi buat saya yang qadarullah lagi belajar Bahasa Arab level pre-basic-beginner, yaa jadi makin tertarik ajaaa. By the way, soal Bahasa Arab, akhirnya setelah ikut IDW kemarin (please check my previous post), saya bisa memahami kenapa harus Bahasa Arab yang jadi bahasa Al Quran. Karena memang bahasanya itu precise dan detil banget. Satu kata itu bisa menggambarkan satu kejadian yang spesifik. Kebayang ga? Jadi ya cocoklah buat bahasa kitab suci yang di dalamnya juga memuat hukum-hukum. Bahasa hukum kan nggak boleh bias, harus tepat dan jelas, persis seperti karakter Bahasa Arab. Detil Bahasa Arab ini juga yang membuat bahasanya jadi indah banget. Ibarat karya seni yang mahal, pasti punya banyak detil, ada keteraturan dan ketidakaturan, unik dan sulit untuk ditiru. Yaps, persis Bahasa Arab juga begitu. Masya Allah.

Balik lagi soal event Quran Talk yang tadi saya sebut di awal. Tim @quranreview (sebenernya bukan tim sih, yang hadir cuma 1 orang, wkwk) menyampaikan materi soal surat Ad-Dhuha ayat 1 -5. Pas banget timing-nya, Sabtu Dhuha di Bintaro kita bahas soal surat Ad-Dhuha. Surat yang dari SD sudah saya hafal tapi baru paham maknanya sekarang, dan ternyata isi suratnya tuh romantis dan menyentuh sekali, huhu. Lets we unboxing these ayahs together :).

Latar belakang turunnya surat ini adalah ketika Rasulullah SAW sedih banget karena sudah cukup lama wahyu Allah nggak turun. Rasulullah sedih dan merasa Allah tinggalkan, terus Rasulullah SAW curhat ke Khadijah r.a. Kata Khadijah kurang lebih begini “Tidak mungkin Allah meninggalkanmu ya Rasulullah, Allah mengawali ini dengan baik, maka pasti mengakhiri ini semua juga dengan baik”. Beneran istri sholehah, bikin adem, real role model.

Long story short, turunlah surat Ad Dhuha. Ini saya copy paste 5 ayat pertama (berikut terjemahannya) yang dibahas waktu Quran Talk aja yaa.

وَالضُّحَىٰ (Demi waktu matahari sepenggalahan naik)

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (dan demi malam apabila telah sunyi (gelap) )

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ( Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu)

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ (Dan sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan))

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.)

Pada ayat yang pertama, ada huruf وَ yang menunjukan Allah bersumpah demi waktu dhuha. Hal ini menunjukan waktu dhuha itu termasuk hal yang sangat penting. Manusia aja nggak mungkin bersumpah dengan sesuatu yang receh (misal “gue bersumpah demi chiki ball rasa keju”, sounds silly kan). Di lihat dari sifatnya, waktu dhuha itu juga merupakan saat di mana matahari sudah bersinar terang tapi nggak panas kayak matahari jam 12 siang. Ibu-ibu aja jemur bayinya di waktu dhuha karena diketahui matahari saat dhuha itu banyak vitamin D-nya. Jadi memang banyak keutamaan. Nah, Al Quran itu ibaratnya seperti Dhuha, bersinar terang tapi nggak bikin kepanasan.

Waktu dhuha itu penting, Allah saja bersumpah menggunakan waktu tersebut. Jadi jangan dilewatkan sembarangan, jangan males solat dhuha dan dzikir pagi.

In Allia’s mind as lesson learned #1

Masuk ke ayat kedua, Allah menyebutkan tentang malam. Nah kalau penjelasannya @quranreview nih, malam ini adalah ibarat hati di saat tidak ada Quran. Gelap gulita. Ini nih kalau katanya @quranreview, isi Quran tuh juicy banget. Analoginya tuh tepat. Nah, masuk ke ayat ketiga, ayat yang paling saya suka, Allah mulai menghibur Rasulullah dan menegasikan kekhawatiran Rasulullah sebelumnya dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan meninggalkan Rasulullah dan tidak pula benci padanya. Pada ayat ketiga ini juga digunakan kata مَا, secara bahasa kata ini digunakan ketika membuat negasi (ingkaran) sekaligus melakukan koreksi. Kalau ngikuti analoginya @quranreview, misal ada yang nanya sama kamu “Kamu selingkuh ya?”, terus kamu jawab “Saya nggak selingkuh, karena saya tahu dosanya dan saya sayang suami saya dan anak-anak kami jadi saya nggak mungkin selingkuh.” Nah, untuk mengungkapkan negasi dan penjelasan (koreksi) sebagaimana di atas, yang dipakai sebagai negasi adalah مَا. Yah kurang lebih kemarin penjelasannya secara bahasa seperti itu. Semoga saya nggak salah tangkep, wkwk.

Pada ayat ketiga ini juga ada kata قَلَىٰ (sayangnya saya lupa kata dasarnya apa). Menurut penjelasan @quranreview, قَلَىٰ ini tuh maksudnya kondisi dimana sesuatu yang berguna itu dibuang setelah habis dipakai, analoginya kayak deterjen gitu deh, habis dipakai buat ngilangin noda di baju yaa dibuang gitu ajaaa. Nah disini kelihatan lagi bagaimana luar biasanya Bahasa Arab, satu kata saja bisa mendefinisikan satu kejadian. Hal-hal seperti ini nggak akan berasa kalau hanya baca terjemahan.

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat ketiga Surat Ad-Dhuha, Allah itu nggak akan pergi, kayak siang dan malam yang hadir setiap hari. Allah nggak akan pergi.

In Allia’s mind as lesson learned #2

Ayat keempat wajib dicamkan oleh siapa aja yang lagi hopeless. Allah lagi-lagi menghibur Rasulullah SAW dengan berkata bahwa hari esok itu lebih baik daripada yang permulaan. Permulaan itu maksudnya saat ini, jadi Allah membesarkan hati Rasulullah dengan mengatakan bahwa hari esok itu pasti akan lebih baik. Kebayang nggak sih kalimat ini disampaikan oleh Allah langsung ke Rasulullah yang lagi sedih karena berasa ditinggal, myeeeeee. Secara tersirat, sebenarnya ayat ini juga meminta kita untuk percaya sama Allah.

Dalam asumsi dan pikiran manusia yang mengkhawatirkan masa depan bakal kayak apa, maka perlu untuk kita (saya) ingat kembali makna ayat ini ketika Allah mengatakan hari esok akan lebih baik dari saat ini. Trust Allah.

In Allia’s mind as lesson learned #3

Masuk ke ayat kelima, di sini Allah kembali menghibur Rasulullah SAW dengan menjanjian akan memberikan sesuatu hingga hati Rasulullah menjadi puas. Nah menariknya, sebenarnya di ayat ini tidak ada keterangan lebih detil yang mau diberikan itu apa (kalau di terjemahan sih disebutkan karunia). Jadi ternyata tafsirnya, kalau di Quran nggak disebut secara jelas apa yang akan diberikan, artinya yang akan diberikan itu luaaaas bangeeeet. Itulah mengapa di Quran juga nggak disebutkan apa yang akan didapatkan cewek nanti di surga (kalau cowok kan well described yaa dapat apa aja di surga), alasannya karena cewek itu by default punya banyak keinginan, dan di surga nanti mereka akan dapat semua yang diinginkan. Masya Allah.

Menyadari diri ini adalah wanita yang banyak keinginan sampai kadang bingung sendiri, hehe, yakin aja kalau semua keinginan itu nanti achieved di surga. Makanya selagi masih hidup yang penting sekarang bukan caranya menggapai keinginin duniawi semata, tapi yang penting gimana caranya biar bisa masuk surga :).

In Allia’s mind as lesson learned #4

Saat membahas ayat kelima ini juga, @quranreview menyebut alasan sebenarnya mengapa Rasulullah sedih. Wahyu yang sudah lama tidak turun ternyata membuat Rasulullah SAW sedih karena lama tidak mendengarkan Al Quran lagi.

Jangan-jangan selama ini kalau saya sedih, karena lama nggak berinteraksi sama Quran 🙁

In Allia’s mind as lesson learned #5

Oke, demikianlah hasil ‘unboxing‘ lima ayat pertama surat Ad-Dhuha yang berhasil saya catat sehingga bisa saya tulis ulang disini. Sebenarnya sih ayat-ayat selanjutnya juga sempat dibahas, tapi cuma sedikit-sedikit gitu, mungkin karena keterbatasan waktu, dan sayangnya saya nulisnya nggak utuh, jadi kalau ditulis ulang khawatir salah pengertian, hehe.

Tambahan terakhir deh, yang ini walaupun nulisnya nggak utuh tapi saya cukup ingat karena dijelasin agak panjang. Soal makna ayat ke-11 dimana Allah bilang:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan/nyatakan.)

Ternyata yang dimaksud nikmat disini adalah kenikmatan yang dirasakan ketika ada kesulitan lalu mendapatkan pertolongan Allah. Menyiarkan atau menyatakan kenikmatan yang seperti ini akan baik jika didengarkan oleh orang yang lain, terutama jika mereka sedang dalam kesulitan karena akan memberikan harapan bagi mereka juga akan pertolongan Allah. Hati-hati menyiarkan kenikmatan, karena kalau nggak diperhatikan niatnya, khawatir bisa terjerumus riya.

It’s a wrapped! Ushikum wa iyya nafsi bi taqwallah. Jazzakumullah khairan untuk @quranreview , panitia Quran Talk dan pemateri lainnya yang sudah membuat saya jatuh cinta dengan Surat Ad-Dhuha. Keep up the good work! Semoga Allah memberkahi semua usahanya untuk membuat kita lebih dekat dan lebih paham lagi sama isi Al Quran. Thank you also for two scoops of the gelato, I’ll be back again to try another flavor, Insya Allah :).

Salam,

Allia

Pengalaman Pertama Datang Kajian Sirah Nabawiyah Terang Jakarta

Hai! Assalamualaikum.

Di minggu siang yang alhamdulillah panas ini, saya ingin berbagi pengalaman sehabis datang kajian Sirah Nabawiyah bersama Ustad Abi Makki yang diadakan oleh komunitas Terang Jakarta (TJ). Jadi, singkat cerita, sudah cukup lama saya tahu bahwa setiap Kamis jam 19.00 di Mesjid Raya Pondok Indah, ada kajian Sirah Nabawiyah yang diorganisir sama Terang Jakarta. Sudah beberapa kali ingin datang ke sana, tapi ada aja alasan nggak bisanya (mostly alasan yang nggak terlalu penting). Alhamdulillah, Kamis kemarin Allah mudahkan saya untuk hadir. Sekitar jam 16.30 sudah cabut dari kantor di Rasuna Said (fyi, jam kantor saya 08.00-16.30), jam17.30 udah sampai di Pondok Indah doong. Ngopi bentar di Anomali Coffee samping masjid, biar nggak ngantuk pas kajian, hehehe.

Tepat ba’da Isya kajian Sirah bersama Ustad Abi Makki dimulai, and it was super exciting. Denger cerita Ustad Abi Makki selama 2 jam nggak kalah seru dari nonton bioskop 2 jam, bahkan ini jauuuh lebih luar biasa. Ya namanya juga nyeritain kehidupan Rasulullah SAW, utusan Allah yang paling mulia dan paling baik akhlaknya, pastinya bukan cerita kehidupan yang biasa-biasa aja. I think I got the complete package by attending the event: ilmu, semangat, inspirasi, positivity, sekaligus merasa terhibur, and the most important feeling: calm and fulfilled

Finally, waktu kajian kemarin saya menyimpulkan sebuah teori. Teorinya benar atau salah, silahkan dibuktikan sendiri.

Obat dari jiwa raga yang lelah adalah majelis ilmu.

Kenapa? Karena majelis ilmu selalu akan membawa kita untuk berpikir kembali tentang visi tertinggi: surga, kehidupan terbaik di akhirat yang abadi. Fokus kita jadi teralih, it is not only about how to live this life well, but a lot more than that, hot to get “there”? How to get Jannah? Lelah babak belur di dunia juga jadi terobati dengan sendirinya, karena kita jadi sadar, dunia ini cuma sementara aja, capeknya nggak akan selamanya. Plus, jadi sadar juga, lelah di dunia juga suatu kebaikan, asal lelahnya bikin kita deket sama Allah, lelahnya bikin kita bisa pulang ke surganya Allah. Hehehe, saya obviously bukan ustadzah, tapi ada satu dalil yang sampai kepada saya, Nabi Muhammad SAW bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ


“Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya,”apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab,”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).”

Riwayat At-Tirmidzi

Di tulisan selanjutnya, saya ingin sharing secuil ilmu terkait materi kajian Kamis kemarin. Topiknya tentang Yaumul Furqon (masa-masa setelah Perang Badar). I have some notes in my book, let me rewrite on this blog. Kajian Sirah Nabawiyah Terang Jakarta Insya Allah akan ada di setiap Kamis minggu pertama setiap bulannya (jadi cuma 1 bulan sekali). Insya Allah jam 19.00-21.00 WIB di Mesjid Raya Pondok Indah. Jangan khawatir laper, karena disini ada bazar, dan di sekitar mesjid juga banyak tempat jajan, hehe.

Sebagai penutup, paragraf terakhir ini adalah sedikit bahan berpikir terutama bagi diri saya sendiri untuk bisa lebih serius hadir kajian, khususnya kajian Sirah Nabawiyah.

Dear myself,

1. Sudah berjuta kali syahadat, tapi seberapa kenal sih saya sama Nabi Muhammad SAW? Lebih dari itu, seberapa cinta saya dengan Rasulullah SAW yang sungguh saya butuhkan syafaatnya? Seberapa rindu saya dengan Rasulullah SAW yang hingga akhir hayatnya pun masih memikirkan nasib umatnya? Logikanya, mana mungkin mau cinta dan rindu, kalau kenal pun hanya sekedarnya.

2. Masih kepikiran kalau kajian sepulang kerja itu capek banget? Think again, kalau saya masih bisa main sepulang kerja, maka apa dasarnya saya nggak bisa kajian sepulang kerja? Dont let syaitan defeat your sincere intention.

Ya Nabi Salam ’AlaikaYa Rasul Salam ’AlaikaYa Habib Salam ’AlaikaSholawatullah ’Alaika

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah (Aku menasehati kamu semua dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah.)

Ar-Rahmaan, Ar-Rahim

“ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ”

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”(Q.S. Al-Fatihah:1)

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, sebuah ayat yang saya yakin sangat akrab bagi umat muslim, bahkan yang non-muslim sekalipun. Ayat yang selalu ada di setiap solat, juga disebutkan di setiap akan memulai aktivitas. Translasi ayat ini pun sangat mudah diingat, tapi menariknya ternyata translasi yang berlaku umum selama ini belum dapat menggambarkan makna sesungguhnya dari Rahmaan dan Rahiim. Kalimat basmallah ini bisa jadi sudah ribuan kali kita ucapkan dengan lisan, saatnya kita pahami makna ayat ini dengan hati. Seriously, I am amazed by this verse, and you should too.    

Pengertian Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dijelaskan pada video kajian Ustad Nouman Ali Khan (NAK) yang berjudul Ramadhan Gems 2019 Day 3. Pada kajian tersebut, Ustad menjelaskan tentang dua hal utama, yaitu pengertian dasar dari Rahmaan dan Rahiim, serta perbedaan diantara keduanya. Oke, saya bahas soal pengertian dasar dari Rahmaan dan Rahiim dulu yaa (tentu saja berdasarkan penjelasan dari Ustad NAK, hehe)

Dalam bahasa Inggris, kata Rahmaan sering ditranslasikan sebagai mercy, atau dalam bahasa Indonesia biasanya diartikan sebagai pemurah atau pengasih. Translasi ini sebenarnya kurang tepat karena sifat mercy berlaku saat seseorang yang akan diberikan maaf atau kemudahan sedang berada dalam kesulitan. Misal seorang murid yang akan diberi nilai jelek oleh gurunya, lalu murid tersebut meminta keringanan dari si guru, maka disebutlah dia meminta mercy (belas kasihan) dari guru. Sementara kata Rahmaan pada Surat Al-Fatihah ayat 1 tidak berhubungan sama sekali dengan kondisi seperti itu. Selain itu dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, terjemahan Rahmaan dan Rahiim seperti memiliki makna yang sama, padahal Rahmaan dan Rahiim adalah dua nama Allah yang maknanya berbeda.

Kata Rahmaan dan Rahiim berasal dari kata dasar yang sama yaitu rahmah. Kata rahmah ini berhubungan dengan kata rahim (uterus) ibu. Jadi dalam konteks ini sebenarnya, Allah memberikan nama-Nya untuk dijadikan sebutan bagi perut/uterus ibu (organ dimana janin akan berkembang sebelum lahir ke dunia). Sekarang muncul pertanyaan baru dong, “Mengapa Allah menggunakan kata rahim?”

Coba kita perhatikan bagaimana hubungan antara seorang ibu dengan bayi di kandungannya. Seorang ibu akan setengah mati menjaga kandungannya, tanpa si bayi tahu apa yang ibunya lakukan. Ibu mengalami segala sakit dan ketidaknyamanan saat hamil, tapi ibu tidak mengeluh, dia bahkan menikmati dan mensyukuri kehadiran janin dalam rahimnya. Dan saatnya tiba, sang ibu harus berdarah-darah bahkan sangat dekat dengan kematian untuk dapat melahirkan bayinya ke dunia. Tidak seperti hubungan antara manusia yang lainnya, hubungan ibu dan bayi dalam kandungan adalah hubungan cinta tanpa syarat (unconditional love). Seorang ibu tidaklah memberikan mercy (belas kasihan) kepada bayinya, tapi dia memberikan cintanya, perhatian serta perlindungan kepada sang bayi tanpa si bayi tahu apa yang ibunya telah lakukan. Dan begitulah cara Allah mencintai hamba-Nya, sementara kita manusia tidak memahami betara besar perlindungan, kasih sayang dan cinta yang Allah anugerahkan.

Selanjutnya Ustad NAK membahas perbedaan antara Rahmaan dan Rahiim, dan menurut saya penjelasan ini mindblowing. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam kata Rahmaan. Dalam Bahasa Arab, pada kata yang memiliki bunyi ‘aan’, maka berarti 3 hal:

  1. Kata tersebut bersifat sangat ekstrem (saya iseng cek di google translate Indonesia-Arabic, saya input sangat lapar, dan keluar hasilnya jayie jiddaan). Dengan demikian Rahmaan bermakna bahwa kasih sayang dan cinta Allah itu jumlahnya sangat ekstrem, bukan kasih sayang dan cinta yang biasa-biasa saja.
  2. Kata tersebut juga bermakna terjadi saat ini juga (it is happening immediately! right now!). Analoginya seperti ini: Misal si X cerita ke si Y kalau si Z itu anaknya sabar banget, tapi saat si X cerita, si X kan tidak benar-benar tahu apakah saat itu si Z dalam kondisi sabar atau tidak (bisa aja kan saat si X cerita ke si Y soal kesabaran si Z, si Z malah lagi marah-marah sama tukang ojek). Sementara, jika bunyi –aan ada dalam satu kata maka menyatakan bahwa kualitas itu sedang terjadi saat itu juga. Dengan demikian Rahmaan berarti bahwa kasih sayang dan cinta Allah yang ekstrem itu sedang menghujani kita saat ini juga.
  3. Poin ketiga adalah bagian paling serem, karena kata tersebut juga bersifat tidak permanen. Misal kata jiddaan (sangat lapar), logikanya orang yang lagi dalam keadaan lapar banget pun akan hilang laparnya dengan misal sepotong roti. Dengan demikian akan ada sesuatu yang dapat menghilangkan keadaan tersebut. Begitu pula dengan Rahmaan, ada sesuatu yang dapat menyingkirkan kita dari kasih sayang yang dahsyat ini. Ada hal-hal yang jika kita lakukan akan dapat mendiskualifikasi kita dari kualitas ini. Hal ini sekaligus yang membedakan Rahmaan dengan Rahiim.

Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat memahami hal ini. Rahmaan adalah untuk semua manusia di bumi, diberikan kepada semua orang termasuk orang-orang yang bangga dengan dosanya, orang-orang yang menghina Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Al-Quran. Sementara Rahiim yang berarti selalu mencintai dan menyayangi (bersifat permanen). Rahiim hanya untuk orang-orang yang beriman dan untuk akhirat.

Kembali lagi ke Surat Al Fatihah Ayat 1. Misal Allah katakan bismillahir-rahmaan, maka artinya cinta Allah adalah ekstrem dan saat ini, tapi bisa jadi tidak selamanya. Kalau Allah katakan bismilahir-rahim, maka berarti cinta Allah akan selamanya tapi tidak ada jaminan terjadi saat ini. Melalui Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, Allah ingin kita mengerti bahwa cinta Allah adalah Rahmaan dan Rahiim. Allah memberikan cinta dan kasih sayangnya saat ini dengan mengatakan Ar Rahmaan dan menyayangi kita di masa depan dengan mengatakan Ar Rahiim.

Ada beberapa pertanyaan menarik. Pertama, kenapa Allah tidak katakan Rahiim dulu baru Rahmaan? Karena tentu saja Allah memahami ciptaan-Nya. Saat manusia menghadapi masalah saat ini (misal sakit, lapar), kita tidak dapat berpikir tentang masa depan. Ketika kondisi kita saat ini dipastikan sudah terjaga, barulah diri kita akan mulai berpikir tentang masa depan.

Kedua, diantara banyak nama Allah, mengapa Rahmaan dan Rahim yang dilekatkan dengan Bismillah (dengan menyebut nama Allah)? Ada dua hal:

  1. Allah memilih dua nama ini untuk kita sebut saat memulai segala sesuatu. Allah ingin kita sadar bahwa apapun yang kita lakukan dapat terjadi karena Allah mengizinkannya (kasih sayang Allah).
  2. Ketika ketika kita mengatakan Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dan usaha kita masih gagal, maka kita kita harus sadar bahwa kasih sayang dan cinta yang Allah berikan adalah berdasarkan sudut pandang-Nya, dan manusia bisa jadi tidak selalu dapat memahaminya. Contoh kisah Nabi Yusuf, bandingkan pengorbanan yang Nabi Yusuf alami dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan oleh masyarakat luas karena dirinya (baca kisah Nabi Yusuf).

Kesimpulan terakhir, apapun yang terjadi pada hidup kita, jangan lupa sisi ini, bahwa Allah tidak pernah berhenti mencintai, tidak pernah berhenti menyayangi hamba-hamba-Nya.

Sumber: Bayyinah Institute