Precious Thing You Never Have

Hari ke sekian. Malam ke sekian. Jalan yang sama. Rutinitas yang tidak banyak berubah.

Audi baru saja turun kereta. Bagai gerak otomatis dia langsung menuju gerbang keluar, mengambil bagian dalam antrian panjang orang-orang yang ingin pulang. Kakinya rasanya pegal sekali sepanjang hari, masih bagus hari ini dia bisa duduk di kereta. Tahukah Anda bahwa kursi kereta adalah barang mewah bagi semua pejuang commuter line? Heft, lelah sekali hidup di kota ini, waktu habis bagai sibuk sendiri. “Oh Tuhan, layakkah hamba mengeluh?” bisik Audi dalam hati.

Lepas dari gerbang, langkah Audi menuju parkiran. Mobilnya parkir di lokasi yang agak jauh dari pintu masuk, itulah risiko jika berkhianat pada waktu subuh. Habis sembayang subuh malah tidur lagi. “Ya sudahlah, aku memang selemah itu” kata Audi pada dirinya sendiri, lemah.

Dalam langkahnya menuju mobil. Entah pada langkah yang ke berapa. Kalut itu, tidak diminta tidak diundang, muncul lagi. “Bukan hidup seperti ini yang aku mau” keluh Audi. Keluhan kesekian di hari ini.

Sepanjang jalan menuju mobilnya, Audi berpikir. Terus dan terus berpikir, hingga di ujung jalan dia temukan kesimpulan. Audi tersenyum.

Kalau kata Allah untuk saat ini lebih baik begini, maka apa yang bisa lebih baik lagi?

Kalau kata Allah rezeki untukmu saat ini adalah ini, apa kau mau menafikannya, menolak bahkan tidak menghargainya karena sedikit hal lain yang belum kau punya?

Kalau kata Allah “Aku sayang padamu hamba-Ku. Kaulah ciptaan-Ku”. Maka mau apalagi selain percaya pada-Nya?

Hanya sedetik setelah kesimpulan itu Audi temukan. Tak diantar tak diundang, tiba-tiba saja setan nakal berbisik dari sebelah kiri Audi “Kamu yakin semua akan baik-baik saja? Because I dont think so.” Seringai setan memang biadab. Pakai ngomong English lagi.

Audi menarik napak panjang, lalu meludah ke sebelah kiri. Dia membentak tegas dalam hati, “Pergi kau setan. Kesabaranku adalah bukti kasih sayang Tuhan padaku, the precious thing you never have

Setan melengos pergi.
Audi masuk ke dalam mobil.
Kalutnya sudah berhenti.

Bebas: Sebuah Review Film

Bebas. Lepas. Kutinggalkan saja semua beban di hatiku. Melayang dan melayang jauh, melayang dan melayang.

Iwa K.

Siapa yang nggak tau lagu itu?

Kamu nggak tau? Kamu pasti belum lama hidup di dunia :p

Itu adalah penggalan lirik dari mega hits tahun 90an. Sebuah lagu dari Iwa K, “Bebas”. Judul yang sama dengan film yang baru saja saya tonton, dan menjadi inspirasi untuk tulisan pertama di blog baru ini (ciyeee), setelah lama sekali sodara-sodara saya nggak blogging, akhirnya pecah telor jugaaaa.

Anyway, sebelum saya bahas filmnya, pengen cerita sedikit. Awalnya sempet bingung, mau nonton Bebas atau Joker ya? Waktu pertama dengar ada film Joker saya nggak tertarik sama sekali, tapi terpengaruh juga sama netizen Instagram yang muji-muji filmnya. Jadi penasaran kaaan. Tapi perang batin juga, anak cupu kayak gue kuat nggak yaaa nonton Joker, ahaha

Ini kebingungan nggak penting banget sebenarnya. Nonton keduanya atau tidak nonton sama sekali pun nggak ngaruh apa-apa. Tapi saya udah niat dari beberapa hari yang lalu, Sabtu ini saya pengen me time. So, panas matahari siang tadi tidak menyusutkan niat hati untuk pergi ke luar. Sempet mikir juga mending nonton di The Breeze atau AEON ya (hashtag TangselLyfe). Lagi-lagi kebingungan yang tidak penting. Akhirnya memutuskan nonton di The Breeze karena nyari parkir di AEON Sabtu siang bisa lebih susah dari nyari kerja.

Jadi siang tadi, jam 13.40 saya keluar rumah, jam 14.15 udah masuk studio dooong. Efisien sekaliii hidupkuuuu.

Kenapa akhirnya memutuskan nonton film Bebas, instead of nonton Joker yang lagi jadi buah bibir di social media.?

Karena saya tuh tipe pencari hiburan yang sangat mempertimbangkan mental health. Jadi untuk perkara tontonan, saya menghindari film horor, thriller atau film yang ceritanya terlalu suram, seperti Joker. Mending nonton yang aman-aman aja deh, ahaha. Percaya sepenuhnya bahwa Joker film yang bagus, but not for me :). Buat yang nggak tau film Bebas ini tentang apa, nih lihat dulu trailernya.

Yaps, ini adalah film produksi Miles, disutradarai oleh Riri Riza, dan ternyata ceritanya diadopsi dari film Korea berjudul Sunny. Pertama lihat trailernya, ya udah yakin aja sih sama produksinya Miles pasti nggak akan sembarangan. Terus lihat pemainnya, eye candy semua, dan bisa dibilang dari dua generasi. Film ini memang menceritakan kehidupan sebuah geng di masa mereka SMA dan kehidupan 23 tahun kemudian setelah mereka dewasa. Jadi dalam satu film ada dua cerita gitu, zaman dulu dan sekarang. Apa yang saya suka dari film ini yaitu karena menceritakan 2 kondisi, jadi kayak bisa melihat big picture kehidupan si tokoh dan refleksi ke diri sendiri gitu. Jadi bisa terhubung sama cerita filmnya karena menyadari bahwa dalam 23 tahun, memang banyak hal yang berubah, tapi tetap aja ada hal yang exactly sama. Kayaknya film ini Bebas ini memang berusaha menyampaikan hal tersebut. Bayangin dulu zaman SMA diri kita kayak apa, lalu saat ini seperti apa. Apa yang dulu kita inginkan, dan sekarang menjadi apa. Apa yang berubah, dan apa yang tetap bertahan?

Premis filmnya sederhana, Vina (Marsha Timoty) tidak sengaja bertemu dengan Kris (Susan Bachtiar), temen segengnya waktu SMA, yang ternyata sudah divonis dokter bahwa usianya tidak lebih dari 2 bulan lagi. Kris yang kangen banget sama geng SMA mereka, minta tolong Vina untuk mengumpulkan geng mereka lagi. Dari situlah ceritanya berawal dan mengalir selama 120 menit. Kalau ada yang bertanya, bosen nggak sih 120 menit nonton film drama Indonesia?

Jawabannya tidak. Tau nggak kenapa?

Scoring film ini isinya lagu hits 90an. Ya gimana nggak nonton sambil nyanyi dalam hati terus senyum-senyum sendiri kan yaaa.

In my sotoy opinition, film ini emang ditargetkan buat pria wanita dewasa muda yang ngalamin masa remaja di tahun 90an. Bakal relate banget sama scoring-nya, jokes-nya, dan mungkin ya pengalaman life changing-nya. Sebenernya sih ada bagian-bagian yang menurut saya agak zonk dan belum terceritakan dengan baik, misalnya kenapa sih Suci (Lutesha) karakternya galak banget kayak punya masalah khusus atau hubungan Vina dan anaknya yang kayak ada masalah tapi nggak jelas aja. Tapi bisa jadi karena film ini memang menuturkan dua cerita sekaligus jadi yaa nggak bisa detil-detil banget kali yaaa menggali karakternya. Sama satu lagi yang gue nggak suka, beberapa karakter anak SMA bandel di film ini bikin saya bertanya-tanya, ini sekolahan gurunya ngapain aja sih kok bisa anak sebandel itu eksis di sekolahan? Ngeri soalnya bandelnya.

Oke deh, terakhir, saya mau buat quick question untuk recap beberapa hal tentang film ini (ada spoiler dikit nggak apa-apa ya).

Siapa 3 pemain favorit kamu di film ini?

Marsha Timoty yang selalu menawan hingga ku tak paham,
Maizura (i know her, dia peserta The Voice Indonesia season 2), dan Lutesha (aktingnya waktu plot twist oke banget).

Seberapa suka sama film ini? Suka banget, suka aja atau biasa?

Suka aja. Film ini enjoyable cuma menurut saya belum masuk kategori wajib ditonton 🙂

Bagian paling disuka?

Waktu Vina muda (Maizura) dibilang imut terus tiba-tiba ada lagu Cerita Cinta. Kesel-kesel gimanaaaa gitu.

Menurut kamu message film ini tentang apa?

tentang menerima bahwa barangkali yang terbaik adalah membiarkan mimpi masa remaja tetap menjadi mimpi yang manis, juga tentang mensyukuri takdir Allah, tentang totalitas bantu temen, dan terakhir tentang menikmati hidup sih, jangan sampai capek-capeknya hidup bikin lupa buat menikmati kehidupan itu sendiri (deep kan gueeeee)

Terkahir, boleh bawa bocah nggak kalau nonton film ini?

TIDAK. Dialognya ada yang kasar, ada adegan berantem dan relatively dewasa . Kasian kalau anak-anak udah didedahin hal-hal begini duluan. Ini film buat dewasa muda. Jangan bawa anak-anak yaaa please.

Oke cukup. Sekian dulu ceritanya. Saya akan menulis lagi dalam waktu dekat, InsyaAllah. Semoga dari yang receh ini masih ada manfaatnya yaaaa. Yang tidak berfaedah mohon tinggalkan dan maafkan :).

Thanks for coming. Thanks for reading.

Salam,

Allia

Untuk Hati Yang Lain

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lembut.
Hati yang mudah menangisi dosa,
serta mudah tersentuh kebaikan,
juga mudah merasakan yang manusia lain rasakan.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang kuat.
Hati yang tahan digempur omongan,
serta teguh pada niat baik,
juga keras menolak apa yang Pemilik hati tidak inginkan.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lapang.
Hati yang sanggup bersabar,
serta dipenuhi prasangka baik,
juga selalu ingat keberlimpahan.

Terakhir, aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lain.
Hati yang melengkapi hati ini.
serta yang jatuh pada hati ini.
juga yang menangkap jatuhnya hati ini.

Aku berdoa kepada Tuhan, saat ini, ketika jutaan butir hujan turun ke bumi dan ditangkap oleh malaikat-malaikat yang turut mendengar doa-doaku.
Semoga Allah, Tuhan pemilik hati setiap insan mengabulkan.

thealliaproject

Aamiin.

Salam,
Venessa Allia

Siapa Berani jadi (C)PNS? (Part 2)

Hi guys! (tolong dibaca ala vlogger Youtube)


Kalau kamu sampai ke halaman ini, saya anggap kamu sudah membaca tulisan saya sebelumnya, artinya kamu sudah meluruskan niat dan siap jadi PNS terbaik. Kalau belum, saya mohon untuk kamu untuk membaca dulu tulisan saya sebelum ini, supaya kamu tidak buang-buang energi ikut rekrutmen padahal nggak siap atau nggak suka dengan pekerjaan PNS itu sendiri.


Oke, sip! Let’s make it fast.
Berdasarkan pengalaman merasakan sendiri seleksi CPNS di Kementerian ESDM dan ngobrol dengan beberapa teman, saya ingin berbagi beberapa hal. Sekali lagi ini bukan informasi teknis, kalau yang teknis, silahkan baca di website atau media sosial kementerian/lembaga (K/L) yang kamu minati. Jangan males baca!


1. Seleksi CPNS dimulai dari seleksi administrasi.

Sangat sederhana, kamu cuma harus unggah dokumen, submit dan tunggu pengumuman. Yang harus diunggah juga nggak ada yang aneh-aneh amat: Ijazah dan transkrip (nggak boleh surat keterangan lulus ya, harus ijazah asli), nilai TOEFL terbaru, surat pernyataan, dan lain sebagainya sesuai syarat K/L atau pemerintah daerah yang buka formasi. Kayaknya selagi dokumen yang kamu unggah sudah benar dan lengkap, dan sesuai dengan syarat administrasi, harusnya bisa lulus sih tahap ini. Saya nggak tau apakah ada faktor lain yang bisa bikin nggak lulus seleksi administrasi. Jadi yaa pastikan saja men-submit semua persyaratan setelah yakin benar dan lengkap. Seinget saya kalau udah submit nggak bisa di-cancel deh. Untuk menghindari faktor-faktor non teknis, sebaiknya juga jangan mepet-mepet amat submit-nya.

2. Kalau ada syarat administrasi yang kurang jelas, jangan sungkan untuk bertanya ke K/L tersebut.

Mereka pasti punya call center. Dulu saya sempet ingin apply di Bappenas, tapi ada persyaratan yang kurang jelas, lalu saya coba WA nomor call center yang tertulis di pengumuman, dan mereka cukup fast response kok. Kalau ada yang nggak jelas, mendingan ditanya daripada berkesimpulan sendiri.


3. Kalau udah lulus tahap administrasi, maka kamu akan memasuki tahap seleksi Tes Kompetensi Dasar dengan sistem Computer Assisted Test (CAT).

Nah menurut saya bagian paling susah dari tes CPNS adalah CAT ini, karena sistemnya efektif mengeliminasi banyak orang, hehehe. Kalau saya sih menyarankan kamu untuk belajar sebelum CAT, walaupuuun ada aja sih manusia-manusia beruntung yang lulus CAT tanpa belajar. Saya sendiri termasuk kelompok yang belajar sebelum CAT, karena dari dulu saya nggak pernah bisa cukup percaya diri untuk ikut ujian (apapun) tanpa belajar sama sekali. Buku-buku soal tes CPNS yang banyak dijual di toko buku itu membantu kok. Pilih buku yang ada rangkuman materinya, terutama untuk bagian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), jadi sambil ngerjain soal bisa sambil baca-baca materi. Rata-rata temen saya yang nggak lulus CAT itu gagal di bagian TWK, jadi mungkin butuh extra effort untuk belajar TWK. Senior saya di kantor pernah bilang, soal CAT itu tiap tahun sebenarnya berulang. Mungkin benar, tapi masalahnya kemungkinan soalnya itu ada banyaaaak bangeeet. Kalau saya nyaranin untuk belajar materi UUD 1945 termasuk amandemennya karena soal-soal kayak gitu sering banget keluar. Ohiya simulasi CAT di website BKN juga bisa dicoba tuh, cukup membantu.
Kalau tahun lalu (2017), yang lulus CAT itu sejumlah kebutuhan formasi dikali tiga. Jadi kalau formasi yang kamu inginkan itu butuh dua orang, maka yang lulus CAT paling banyak adalah 6 orang. Saya lihat di pengumuman CPNS ESDM, syarat tersebut masih sama (nggak tau kalau di K/L lain ya, tapi mungkin sama). Aturan ini membuat lulus saja tidak cukup tapi nilai kamu juga harus bisa setinggi-tingginya supaya masuk rangking. Saran saya adalah cari nilai sebanyak-banyaknya dari Tes Karakteristik Pribadi (TKP), karena menurut pengamatan saya merhatiin soal TKP di buku latihan soal, jawaban-jawaban TKP yang nilainya 5 itu ada cirinya. Coba kerjain soal-soal TKP di buku jadi bisa membayangkan tipe-tipe jawaban yang nilainya 5 supaya bisa dapat skor setinggi-tingginya. Sebisa mungkin raih nilai tinggi disini karena rada suram kalau ngarep nilai tinggi dari TWK, hehehe. TWK itu punya kemungkinan soal yang random dan banyak. Saya inget banget waktu itu dapat soal tentang UU Agraria, yang mana saya tidak tahu sama sekali jadi nebak deh jawabnya. Seleksi TKD itu memang tidak bisa menjaring kompetensi teknis kamu, jadi mau kamu punya kompetensi sebaik apapun, seleksi ini memang tidak akan bisa melihatnya karena (kayaknya) tujuan TKD memang bukan buat itu, tapi untuk mengeliminasi banyak orang melalui mekanisme yang fair menjadi beberapa orang terpilih yang untuk selanjutnya akan disaring berdasarkan kompetensi.

4. Sabar

 Ini nasihat umum tapi penting banget. Tes CPNS itu beda dengan saat kamu seleksi kerja di swasta. Tes ini diikuti lebih banyak orang. Namanya kegiatan yang melibatkan banyak orang, pasti ada banyak keinginan dan banyak hal yang harus diurus. Jadi ya sabar aja. Ikuti aja aturan mainnya. 

5. Jangan pernah berpikir untuk mainan duit supaya lolos seleksi.

Kalau kamu masih kepikiran hal-hal kayak gitu, maka otak kamu perlu di upgrade karena udah ketinggalan zaman setidaknya 20 tahun. 

6. Kalau udah lulus SKD, maka selanjutnya adalah SKB.

Di sini saya tidak punya tips khusus selain jaga kesehatan, jaga kewarasan dan banyak-banyak berdoa. Pokoknya ikutin aja aturannya dan lalukan yang terbaik. Inget, prinsip “let God do the rest” itu baru berlaku kalau kamu udah “do your best”.

Okee, semoga bermanfaat. Silahkan jika ada yang ingin ditanyakan, semoga saya punya jawaban, hihi.Untuk kita semua yang lagi mengusahakan apapun itu dalam hidup kita, semoga Allah meridhoi usaha kita.  Stay positive guuuys!

Salam,

Venessa Allia

Siapa Berani jadi (C)PNS? (Part 1)

Jauh sebelum 19 September 2018 ketika banyak banget kementerian, lembaga dan pemerintah daerah membuka formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), beberapa teman mengontak saya dan nanya-nanya soal proses seleksi CPNS serta apa aja yang harus dipelajari. Saya jadi kepikiran, mungkin ada manfaatnya kalau saya nulis sedikit tentang pengalaman rekrutmen dulu. Beberapa informasi informal yang sifatnya based on experiences. Kalau soal teknis mah baca aja di pengumuman resmi kementerian/lembaga (K/L) yang buka lowongan. Zaman sekarang pemerintah juga udah melek media sosial, dan secara umum menurut gue media sosialnya sudah difungsikan dengan baik, termasuk terkait pengumuman atau FAQ rekrutmen. Ohiya, sekali lagi tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saat gue berproses di rekrutmen CPNS Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Setiap K/L bisa punya proses rekrutmen dan syarat yang berbeda, walaupun secara garis besar alurnya akan sama karena sudah diatur oleh Badan Kepegawaian Negara. Jadi yaa jangan lupa baca secara teliti syarat dan proses rekrutmen CPNS K/L yang kamu mau yaa.


Tapi sebelum ituuuu, sebelum kamu mulai mempersiapkan semua dokumen persyaratan. Ada baiknya kamu tanya dulu sama diri sendiri. Beneran mau jadi PNS? Udah siap jadi pemerintah yang selalu dituntut dapat membuat kebijakan? Udah siap masuk hutan birokrasi yang tidak semudah itu direformasi?


Berdasarkan 8 bulan pengalaman jadi CPNS, ada beberapa poin konsiderasi yang menurut saya layak untuk dipikirkan sebelum kamu mulai capek-capek mengikuti proses rekrutmen. Kenapa hal ini harus dipikirkan sejak awal, karena menurut saya, ikutan proses seleksi itu artinya kamu harus siap kalah sekaligus siap menang. Kalau kalah, ya yakini saja bahwa usaha yang dilakukan dengan ikhlas adalah ibadah yang akan dihargai Tuhan. Kalau menang, hmmm siap-siap ada konsekuensi dalam kemenangan.

Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, beranikah kamu…

1. Menjadi pegawai negara yang kerjaannya menjadi sorotan dan bisa jadi bahan berita semata-mata karena gaji lo tuh dibayar dari uang pajak rakyat?

Saya ambil contoh, perkara PNS dapat THR yang lebih besar aja jadi berita di media, kalau di swasta, kamu mau dapet THR sepuluh kali gaji juga siapa yang peduli? Hehehe. Kalau nggak siap atau nggak suka, pikir-pikir lagi.

2. Menjadi pegawai negara dengan gaji pokok dan tunjangan yang nilainya bisa kamu lihat di Peraturan Menteri Keuangan.

Sebelum kamu memutuskan mau melalui proses rekrutmen, ada baiknya kamu tau soal berapa sih gaji PNS itu. Emang sih PNS itu gajinya bukan single salary kayak di swasta, ada pendapatan yang sifatnya variabel kayak uang saku dari perjalanan dinas, honor tim, honor kalau suatu hari jadi narasumber, THR dan gaji-13. Tapi yaa itu sifatnya variabel, tergantung kebijakan yang berlaku saat itu, artinya bisa berubah, bisa ada, bisa nggak ada, bisa sedikit, bisa banyak. Memang sih, perkara rezeki itu bukan hanya gaji, dan datangnya bisa dari mana aja. Saya pun bisa hidup sampai sekarang salah satunya karena ayah gue seorang PNS, dan alhamdulillah hidup sejahtera. Tapi karena saat ini saya lagi ngomongin soal pekerjaan untuk nafkah dan/atau untuk hidup mandiri, maka saat ini saya berbicara rezeki dalam konteks yang sangat sempit yaitu gaji. Intinya, sejauh yang saya lihat, pekerjaan ini memang memberikan stabilitas pendapatan, tinggal pinter-pinter aja ngaturnya. Tapi kalau kamu masih punya mimpi punya pekerjaan yang bisa bikin kamu pakai baju branded from head to toe, sering-sering liburan ke luar negeri saat long weekend atau dinner di rooftop restaurant Jakarta setiap malam minggu, kayaknya ini bukan pekerjaan yang cocok deh. Coba pertimbangkan lagi opsi pekerjaan lainnya. Entah kenapa menurut saya penting untuk menyampaikan hal ini. Karena kalau dengan mimpi setinggi itu lo maksa jadi PNS, terus waktu udah jadi PNS (amit-amit) memanfaatkan segala cara untuk dapat uang sebanyak-banyaknya, wah bahayanya dunia akhirat.

3. Kerja dalam sistem birokrasi yang tidak sederhana dan formal.

Jujur ya, awal-awal saya shocked waktu tau kalau untuk komunikasi antar Sub Direktorat aja mekanismenya harus lewat surat. Walau lama-lama terbiasa juga sama urusan surat menyurat ini. Hal-hal kayak begini, dulu saya nggak tau sama sekali, makanya sekarang saya ingin sharing bahwa sekalinya kamu jadi birokrat, bersiaplah dengan cara komunikasi yang birokratis. Bukan berarti pemerintah nggak boleh pakai email yaaa. Email sih ada dan difungsikan juga. Cuma yaaa tetep ada hal-hal yang harus disampaikan secara resmi lewat surat. Buat saya yang dulu pernah kerja di swasta, dan nggak pernah sama sekali bikin surat, agak kaget juga dan merasa ribet banget. Tapi setelah 8 bulan, udah biasa aja sih sekarang. Nah jadi, kalau kamu tipe orang yang nggak suka sama urusan administratif dan formal, yaaa pikir-pikir lagi kalau mau jadi PNS.

4. Melek regulasi.

Apapun formasi yang kamu lamar, namanya pegawai pemerintah ya harus paham, atau setidaknya tahu regulasi dari pekerjaannya. Karena fungsi pemerintah adalah sebagai regulator. Saya dulu setiap disuruh baca Peraturan Menteri bawaannya ngantuk, sekarang masih ngantuk sih, hahaha, tapi mendingan lah, sudah lebih terbiasa baca regulasi. Di formasi yang spesifik pun, kayak peneliti atau dosen, penting untuk paham tentang dasar hukum dan regulasi yang terkait dengan lembaga atau pekerjaannya. Hal-hal seperti ini nggak pernah saya jumpai di pekerjaan gue yang lama. Kayaknya dulu kalau soal regulasi ya diserahkan saja ke bagian Regulatory. Jadi PNS juga harus punya sense untuk berpikir makro, kalau nggak suka akan hal itu, yaa pikir-pikir lagi.

5. Menjadi pelayan publik.

Kalau masih mikir jadi PNS itu artinya kamu akan jadi raja yang dilayani, udah nggak usah ikut rekrutmen sekalian. Sebenarnya sih mental sok raja kayak gitu juga nggak akan berguna di mana pun kamu bekerja. Bukankah bekerja itu artinya kamu memberikan serviceCustomer-nya saja yang bisa beda-beda. Ohiya, kalau kamu masih punya niatan untuk gabung di partai politik, nggak usah capek-capek ikut seleksi ya, ngeribetin panitia aja, karena PNS nggak boleh gabung di parpol.          

Coba pikirkan dulu lima hal tersebut. Gue katakan itu semua karena saya percaya kalau umur kamu udah memenuhi syarat daftar PNS, artinya kamu sudah dewasa. Dewasa artinya berpikir sebelum memutuskan, dan bertanggung jawab dengan konsekuensi dalam setiap pilihan. Walaupun memang sih, tidak semua hal bisa kita prediksi dari awal, termasuk konsekuensi dan keadaan yang berubah. Semoga pilihan kita tidak membuat kita menjadi merugikan orang lain, apalagi menjadi egois.


Saya percaya bahwa sebenarnya setiap keputusan manusia itu dikendalikan oleh value yang dia pegang, termasuk dalam perkara memilih pekerjaan. Anyway, pengalaman bekerja saya hingga sejauh ini (beberapa tahun di perusahaan FMCG yang punya banyak leading brand, beberapa bulan di salah satu well known multinational consulting dan beberapa bulan sebagai CPNS di Kementerian yang ngurusin industri migas tanah air) sudah membawa saya pada keputusan bahwa kerja di mana aja itu sama, karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangan, nggak ada yang sempurna. Jadi bagi saya sekarang pilihannya balik lagi ke value apa yang saya pegang, apa yang saya suka dan apa yang menurut saya penting, itu semua menjadi alasan saya memilih dan bertahan dengan pilihan.

Coba luangkan waktu untuk ngobrol sama diri sendiri. Apa sih yang menurut kamu penting dalam memilih pekerjaan? Mungkin saya punya sedikit panduan:


a. Kalau value tertinggi kamu adalah uang, kayaknya kamu harus berpikir ulang apakah kamu cocok menjadi PNS. Sebenarnya sih kamu juga harus berpikir ulang juga apakah value yang kamu pegang sudah benar, hehehe. Mengutip perkataan Ustad Nouman Ali Khan dalam kajian beliau di Youtube yang berjudul Choosing Career, 

“The world needs more than just people that make money.”

Ustad Nouman Ali Khan

b. Kalau kontribusi pada bidang strategis yang berhubungan dengan hidup banyak orang adalah value penting bagi kamu, maka ya, menjadi PNS adalah salah satu cara yang baik.
c. Kalau kamu suka networkingdefinitely yes jadilah PNS! Sejauh yang saya amati, salah satu bagian terbaik dari menjadi PNS adalah punya jaringan yang luas.
d. Kalau kreativitas adalah value yang penting buat kamu, sejujurnya saya tidak merekomendasikan kamu menjadi PNS. Bukan berarti jadi pegawai pemerintah itu tidak bisa kreatif. Ruang berkreasi itu ada, tapi sejauh pengamatan saya, tidak sebanyak (atau seliar) saat gue bekerja di swasta. Mungkin kamu lebih cocok kerja di start-up company yang lebih agile dan flexible.  
e. Kalau kamu ingin kerja yang santai-santai aja, jangan jadi PNS, jangan kerja di swasta, BUMN, atau manapun juga. Inget nasihat Imam Syafii,

Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup hanya ada dalam kerja keras

Iman Syafii

Be honest. Ask yourself. Ask God to guide your decision. Trust Him, Dia yang Maha Benar. Tulisan saya ini juga pasti banyak salahnya. Apa yang saya tulis, murni dari pengalaman dan pengetahuan saya yang masih cetek banget. Maaf banget kalau kesannya sok tahu. Silahkan jika ada yang ingin melengkapi atau menambahkan, feel free untuk sharing yaa 🙂


Soal pengalaman rekrutmen, dan beberapa info non teknis lainnya, tunggu di tulisan selanjutnya.

Stay positive!

Salam,

Venessa Allia

Hidup Tanpa Target

“Saat ini gue lagi di tahap nggak punya target apa-apa sih”

Kurang lebih, kalimat itulah yang saya ucapkan beberapa jam yang lalu dalam suatu obrolan bersama beberapa teman di meja makan. Entahlah, saya nggak tahu apa mungkin ini ciri-ciri penuaan yang membuat semangat berprestasi menyusut. Secara usia, umur saya masih muda, walau udah bukan ABG sih, tapi terlepas dari ketidaktahuan saya soal jatah umur yang Tuhan kasih untuk saya, usia produktif saya juga masih panjang banget.Achievement lock or unlock, rasanya sudah tidak terlalu penting lagi.
Yang terjadi adalah, in term of career, pendidikan dan pencapaian, saat ini ingin saya lepaskan semuanya. Bener-bener hidup untuk detik ini, menikmati apa yang ada di depan mata, mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan, tanpa terlalu merisaukan yang terjadi di kemudian hari. Berusaha memberikan yang terbaik untuk kondisi saat ini, bukan karena ingin yang lebih baik di masa depan, tapi karena sudah semestinya usaha terbaik itu dilakukan.


Keinginan seperti ini tentunya bukan serta-merta terasa, tapi hasil dari rangkaian kejadian yang sering membuat saya terkesima sendiri.
Apa yang dulu sekali pernah terbayang, benar-benar dikabulkan Tuhan setelah bahkan keinginan tersebut sudah saya kubur dalam.
Apa yang benar-benar saya harapkan dan doakan, tidak dikabulkan oleh Tuhan lewat cara dan jawaban yang manis.
Apa yang tidak pernah saya bayangkan, menjadi sesuatu yang benar-benar saya usahakan dan Tuhan kabulkan.
Pengalaman-pengalaman ini yang membuat saya jadi mikir, “Yaudahlah ya, apa yang ada sekarang, jalanin aja sebaik-baiknya, sambil didoain. Insya Allah jalan kebaikan akan terbuka, dan nanti juga akan tahu harus gimana”
Pikiran itu juga yang membuat saya nggak terlalu ngoyo lagi. Dari dulu udah ingin sekali berhenti sok tahu tentang apa yang paling baik untuk diri sendiri. Kayaknya baru sekarang bisa memahami apa itu pasrah, kenapa pasrah itu penting, dan bagaimana kepasrahan itu berhubungan langsung dengan ketenangan dan pertolongan Tuhan. Yah, memang ada hal-hal yang perlu proses panjang dulu sih baru bisa beneran paham.

Sekarang, kalau pun ada target, biarlah target itu menjadi rahasia saya bersama Tuhan. 

Ada satu lagi pemahaman baru yang Tuhan anugerahkan untuk saya, jika harus ada target dalam kehidupan yang sementara ini, targetnya haruslah besar dan abadi, dan target terbesar itu hanya satu: Surga. Untuk target yang satu ini, tanpa kompromi selama sisa hidup saya, saya harus memperjuangkannya, apapun caranya.

Stay positive ya 🙂

Salam,

Venessa Allia

P.S: Tulisan ini ditulis di salah satu kamar di Wisma PPSDM Aparatur (dulu disebut sebagai Pusdiklat Geologi), kenapa saya bisa ada disini juga bagian dari skenario Tuhan yang bikin saya terkesima. Nanti pada waktunya saya cerita yaah. 

Tribute to a Cheerful and Brilliant Friend

Ada satu dialog dalam film The Last Samurai yang saya ingat hingga sekarang, padahal nontonnya udah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dialog ketika Emperor Meiji bertanya kepada Nathan Algren tentang bagaimana Katsumoto wafat.


Emperor Meiji: Tell me how he died.
Nathan Algren: I will tell you how he lived.

The Last Samurai

Setiap hari ada manusia lahir, ada manusia wafat.
Kalau yang lahir adalah anak dari kerabat atau sahabat sendiri, kebahagiaan yang hadir pasti terasa berlipat ganda. Demikian pula jika yang wafat adalah kerabat atau sahabat sendiri, duka yang ada pun tidak biasa.

Seperti yang kita semua tahu, 29 Oktober 2018 terjadi kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Kecelakaan itu tidak akan betul-betul membekas dalam memori saya jika tidak ada orang yang saya kenal menjadi salah satu penumpangnya.
Tapi begitulah memang bunyi takdirnya, satu orang yang saya kenal baik menjadi penumpang dalam pesawat tersebut. Dalam perjalanan dinas bersama dua orang rekan satu timnya. Dua orang tersebut tidak saya kenal secara personal, tapi yaa namanya satu kantor, saya pun tahu mereka berdua. Teman saya ini adalah korban pertama yang teridentifkasi dalam kecelakaan JT 610. Seorang yang baru saya kenal sekitar sembilan bulan karena qadarullah kami satu batch penerimaan calon pegawai negeri sipil di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Cewek yang usianya lebih muda dari saya, tapi otaknya jauh lebih brilian dari saya. Namanya Jannatun Cintya Dewi. Yaampun Jan, pernah nggak kamu berpikir kenapa orang tuamu memberimu nama Janna ?


Ini adalah kali pertama (dan semoga tidak akan pernah terjadi lagi) saya mengalami pengalaman seperti ini. Seseorang yang biasa makan siang di kantor bareng saya dan teman-teman yang lain, tiba-tiba dalam waktu yang sangat singkat mengalami musibah, menjadi terkenal dan dibicarakan dimana-mana. Saya coba ketik “Jann” di Google dan salah satu pilihan teratas yang muncul adalah “Jannatun Cintya Dewi”. Teman-teman saya yang nggak kenal Janna sama sekali pun ikut mengucapkan bela sungkawa. Bahkan pejabat selevel Wakil Menteri turut melepas jenazahnya. Yahh.. tapi itulah masalahnya. Janna mungkin tidak akan pernah tahu, karena dia sudah pulang ke rumah yang sebenarnya, dan rumah itu Insya Allah sesuai dengan doa yang tersirat dalam namanya..Jannah, surga. 

Untuk saya pribadi, berada dalam situasi seperti ini terasa bukan hanya sedih (ini sudah pasti), tapi juga aneh dan benar-benar membuat saya berkali-kali menghela napas panjang. Begitu lemahnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa. Begitu mudahnya Dia merubah kondisi dari ada menjadi tidak ada. Kalau sudah begini, pantas saja Khalifah Umar Bin Khatab mengenakan cincin yang bertuliskan: 

“Kafaa bil Mauti waa ‘Idhan yaa Umar” (Cukuplah mati sebagai pengingat untukmu wahai Umar). 

Sayyidina Umar Bin Khatab

Cukuplah mati sebagai pemberi nasihat, sebagai pengingat bahwa hidup di dunia ini bisa berakhir kapan saja, dan ketika sudah berakhir, maka semua kesempatan itu hilang: kesempatan beramal, kesempatan bertaubat, dan semua kesempatan baik lainnya. Tapi ya gimana dong, udah dari “sananya” kehidupan dibuat seperti ini. Dibuat sementara oleh Yang Maha Kekal. Kalau kata Heiji Hattori dalam komik Detective Conan 

“Life is limited, that’s why it’s so precious. Since there’s a limit, we try our best to

Heiji Hattori (Detective Conan)


Tapi bagi Muslim yang percaya adanya kehidupan akhirat, mungkin quote ini perlu disempurnakan menjadi..

“Life is limited, that’s why it’s so precious. Since there’s a limit, we try our best to be able to live in the Jannah.” Tentunya dengan ridho Allah.

thealliaproject

Kalau saya boleh mengutip perkataan Ustad Adi Hidayat,

“Jadikan dunia itu untuk kepentingan akhirat, Insya Allah, Allah akan berkahi kehidupan kita.”

Ustad Adi Hidayat

 Ushikum wa nafsi bitaqwallah. Aslinya ini gue nulis juga sambil deg-degan. Takut cuma bisa nulis doang tapi nggak bisa ngamalin. Huhuhu. Ya Allah, please make it easy for us, don’t make it difficult. Aamiin.

And finally Janna, this is a tribute to you, my cheerful and brilliant friend. Walau kamu tidak akan pernah tahu kalau saya pernah menulis ini di halaman blog ini.

 Saya mungkin bukan orang yang paling sedih dengan kepergian kamu, ada banyak orang lain yang hatinya lebih terluka, yang kehilangannya lebih dalam.

 Saya pastikan juga bukan orang yang paling mengenal kamu. Ada teman-temanmu yang lain, yang mengenalmu lebih lama. Mereka yang lebih memahamimu, mengetahui rahasiamu, dan segala alasan dibalik keputusan-keputusanmu yang tidak pernah kamu ceritakan.

 Tapi perkenalan kita yang singkat, dan cara pergimu yang dahsyat, menjadi wasilah bagi saya dan banyak sekali orang untuk merenung sejenak tentang betapa tipisnya batas antara hidup dan mati. Sungguh apa yang kita kenang darimu adalah kebaikan. Keceriaan dan energimu yang tidak ada habisnya. Kecerdasan yang membuatmu selalu bisa diandalkan. Usiamu boleh muda, tapi pribadimu dewasa. Kamu ibarat perekat dan pelunak suasana.  

 Ada dan tidak adanya kamu memberikan banyak sekali hikmah. Kami disini sudah ikhlas karena kamu ditakdirkan pulang lebih dulu. Semoga di surga nanti, kita bisa berkumpul lagi.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Salam,

Mbak Venes

Ar-Rahmaan, Ar-Rahim

“ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ”

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”(Q.S. Al-Fatihah:1)

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, sebuah ayat yang saya yakin sangat akrab bagi umat muslim, bahkan yang non-muslim sekalipun. Ayat yang selalu ada di setiap solat, juga disebutkan di setiap akan memulai aktivitas. Translasi ayat ini pun sangat mudah diingat, tapi menariknya ternyata translasi yang berlaku umum selama ini belum dapat menggambarkan makna sesungguhnya dari Rahmaan dan Rahiim. Kalimat basmallah ini bisa jadi sudah ribuan kali kita ucapkan dengan lisan, saatnya kita pahami makna ayat ini dengan hati. Seriously, I am amazed by this verse, and you should too.    

Pengertian Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dijelaskan pada video kajian Ustad Nouman Ali Khan (NAK) yang berjudul Ramadhan Gems 2019 Day 3. Pada kajian tersebut, Ustad menjelaskan tentang dua hal utama, yaitu pengertian dasar dari Rahmaan dan Rahiim, serta perbedaan diantara keduanya. Oke, saya bahas soal pengertian dasar dari Rahmaan dan Rahiim dulu yaa (tentu saja berdasarkan penjelasan dari Ustad NAK, hehe)

Dalam bahasa Inggris, kata Rahmaan sering ditranslasikan sebagai mercy, atau dalam bahasa Indonesia biasanya diartikan sebagai pemurah atau pengasih. Translasi ini sebenarnya kurang tepat karena sifat mercy berlaku saat seseorang yang akan diberikan maaf atau kemudahan sedang berada dalam kesulitan. Misal seorang murid yang akan diberi nilai jelek oleh gurunya, lalu murid tersebut meminta keringanan dari si guru, maka disebutlah dia meminta mercy (belas kasihan) dari guru. Sementara kata Rahmaan pada Surat Al-Fatihah ayat 1 tidak berhubungan sama sekali dengan kondisi seperti itu. Selain itu dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, terjemahan Rahmaan dan Rahiim seperti memiliki makna yang sama, padahal Rahmaan dan Rahiim adalah dua nama Allah yang maknanya berbeda.

Kata Rahmaan dan Rahiim berasal dari kata dasar yang sama yaitu rahmah. Kata rahmah ini berhubungan dengan kata rahim (uterus) ibu. Jadi dalam konteks ini sebenarnya, Allah memberikan nama-Nya untuk dijadikan sebutan bagi perut/uterus ibu (organ dimana janin akan berkembang sebelum lahir ke dunia). Sekarang muncul pertanyaan baru dong, “Mengapa Allah menggunakan kata rahim?”

Coba kita perhatikan bagaimana hubungan antara seorang ibu dengan bayi di kandungannya. Seorang ibu akan setengah mati menjaga kandungannya, tanpa si bayi tahu apa yang ibunya lakukan. Ibu mengalami segala sakit dan ketidaknyamanan saat hamil, tapi ibu tidak mengeluh, dia bahkan menikmati dan mensyukuri kehadiran janin dalam rahimnya. Dan saatnya tiba, sang ibu harus berdarah-darah bahkan sangat dekat dengan kematian untuk dapat melahirkan bayinya ke dunia. Tidak seperti hubungan antara manusia yang lainnya, hubungan ibu dan bayi dalam kandungan adalah hubungan cinta tanpa syarat (unconditional love). Seorang ibu tidaklah memberikan mercy (belas kasihan) kepada bayinya, tapi dia memberikan cintanya, perhatian serta perlindungan kepada sang bayi tanpa si bayi tahu apa yang ibunya telah lakukan. Dan begitulah cara Allah mencintai hamba-Nya, sementara kita manusia tidak memahami betara besar perlindungan, kasih sayang dan cinta yang Allah anugerahkan.

Selanjutnya Ustad NAK membahas perbedaan antara Rahmaan dan Rahiim, dan menurut saya penjelasan ini mindblowing. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam kata Rahmaan. Dalam Bahasa Arab, pada kata yang memiliki bunyi ‘aan’, maka berarti 3 hal:

  1. Kata tersebut bersifat sangat ekstrem (saya iseng cek di google translate Indonesia-Arabic, saya input sangat lapar, dan keluar hasilnya jayie jiddaan). Dengan demikian Rahmaan bermakna bahwa kasih sayang dan cinta Allah itu jumlahnya sangat ekstrem, bukan kasih sayang dan cinta yang biasa-biasa saja.
  2. Kata tersebut juga bermakna terjadi saat ini juga (it is happening immediately! right now!). Analoginya seperti ini: Misal si X cerita ke si Y kalau si Z itu anaknya sabar banget, tapi saat si X cerita, si X kan tidak benar-benar tahu apakah saat itu si Z dalam kondisi sabar atau tidak (bisa aja kan saat si X cerita ke si Y soal kesabaran si Z, si Z malah lagi marah-marah sama tukang ojek). Sementara, jika bunyi –aan ada dalam satu kata maka menyatakan bahwa kualitas itu sedang terjadi saat itu juga. Dengan demikian Rahmaan berarti bahwa kasih sayang dan cinta Allah yang ekstrem itu sedang menghujani kita saat ini juga.
  3. Poin ketiga adalah bagian paling serem, karena kata tersebut juga bersifat tidak permanen. Misal kata jiddaan (sangat lapar), logikanya orang yang lagi dalam keadaan lapar banget pun akan hilang laparnya dengan misal sepotong roti. Dengan demikian akan ada sesuatu yang dapat menghilangkan keadaan tersebut. Begitu pula dengan Rahmaan, ada sesuatu yang dapat menyingkirkan kita dari kasih sayang yang dahsyat ini. Ada hal-hal yang jika kita lakukan akan dapat mendiskualifikasi kita dari kualitas ini. Hal ini sekaligus yang membedakan Rahmaan dengan Rahiim.

Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat memahami hal ini. Rahmaan adalah untuk semua manusia di bumi, diberikan kepada semua orang termasuk orang-orang yang bangga dengan dosanya, orang-orang yang menghina Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Al-Quran. Sementara Rahiim yang berarti selalu mencintai dan menyayangi (bersifat permanen). Rahiim hanya untuk orang-orang yang beriman dan untuk akhirat.

Kembali lagi ke Surat Al Fatihah Ayat 1. Misal Allah katakan bismillahir-rahmaan, maka artinya cinta Allah adalah ekstrem dan saat ini, tapi bisa jadi tidak selamanya. Kalau Allah katakan bismilahir-rahim, maka berarti cinta Allah akan selamanya tapi tidak ada jaminan terjadi saat ini. Melalui Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, Allah ingin kita mengerti bahwa cinta Allah adalah Rahmaan dan Rahiim. Allah memberikan cinta dan kasih sayangnya saat ini dengan mengatakan Ar Rahmaan dan menyayangi kita di masa depan dengan mengatakan Ar Rahiim.

Ada beberapa pertanyaan menarik. Pertama, kenapa Allah tidak katakan Rahiim dulu baru Rahmaan? Karena tentu saja Allah memahami ciptaan-Nya. Saat manusia menghadapi masalah saat ini (misal sakit, lapar), kita tidak dapat berpikir tentang masa depan. Ketika kondisi kita saat ini dipastikan sudah terjaga, barulah diri kita akan mulai berpikir tentang masa depan.

Kedua, diantara banyak nama Allah, mengapa Rahmaan dan Rahim yang dilekatkan dengan Bismillah (dengan menyebut nama Allah)? Ada dua hal:

  1. Allah memilih dua nama ini untuk kita sebut saat memulai segala sesuatu. Allah ingin kita sadar bahwa apapun yang kita lakukan dapat terjadi karena Allah mengizinkannya (kasih sayang Allah).
  2. Ketika ketika kita mengatakan Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dan usaha kita masih gagal, maka kita kita harus sadar bahwa kasih sayang dan cinta yang Allah berikan adalah berdasarkan sudut pandang-Nya, dan manusia bisa jadi tidak selalu dapat memahaminya. Contoh kisah Nabi Yusuf, bandingkan pengorbanan yang Nabi Yusuf alami dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan oleh masyarakat luas karena dirinya (baca kisah Nabi Yusuf).

Kesimpulan terakhir, apapun yang terjadi pada hidup kita, jangan lupa sisi ini, bahwa Allah tidak pernah berhenti mencintai, tidak pernah berhenti menyayangi hamba-hamba-Nya.

Sumber: Bayyinah Institute