Celah untuk (Tidak) Bersyukur

Disclaimer: ini tulisan sekitar 5 tahun lalu di blog yang lama. Karena saya suka sama message-nya jadi saya tulis ulang disini dengan beberapa penyesuaian dan tambahan.

Suatu malam, temen saya yang posisinya lagi di luar Indonesia whatsapp begini “Nes, gimana caranya biar bisa bersyukur terus?”

Waktu itu saya kaget juga tiba-tiba diberikan pertanyaan seperti itu, kayaknya saya bukan orang yang tepat untuk menjawabnya. Pertama, karena saya merasa belum menjadi seorang ahli syukur. Kedua, karena saya juga masih mempertanyakan hal yang sama, hehehe. Topik “bersyukur” sering menjadi topik pembicaraan saya dengan diri saya sendiri, hingga lama-lama saya membuat kesimpulan. Sebuah kesimpulan yang bisa jadi benar, bisa jadi salah, dan sangat terbuka dengan revisi seiring dengan pemahaman yang Allah tambahkan.

Seperti apapun kehidupan yang saya jalankan, saya akan selalu punya celah untuk tidak bersyukur. Selalu.

Demikian pula seperti apapun kehidupan yang saya jalankan, saya akan selalu punya celah untuk bersyukur. Selalu.

Sekarang semuanya kembali ke pilihan saya mau fokus ke mana. Fokus ke celah untuk bersyukur, atau ke celah untuk tidak bersyukur.

thealliaproject

Pemahaman di atas adalah sebuah tarikan benang merah dari serangkaian pengalaman dan perasaan yang saya alami, lets say dari rentang kuliah S1 hingga saat tulisan ini saya keluarkan. Kenapa mulainya dari S1 ? Karena bagi saya, masa itu adalah salah satu episode terpenting dalam hidup saya yang berhasil bikin saya berpikir dengan cara yang berbeda.

Dalam sebuah perenungan saya pun sadar, bahwa selama ini apapun yang saya jalani, selalu saja ada celah untuk saya mengeluh dan tidak puas. Selalu. Hingga akhirnya saya paham ternyata perasaan bahagia itu bukan tergantung dari kehidupan apa yang saya jalankan. Bukan pula tergantung dari tercapai atau tidaknya keinginan saya. Tapi tergantung dari bagaimana saya menghargai apa yang Allah berikan untuk saya saat ini. Karena percayalah, jikalau saya punya kehidupan yang sempurna sesuai standar kesempurnaan yang berlaku pada umumnya, saya akan tetap menemukan ketidakpuasan, keluhan dan celah untuk tidak bersyukur.

Ohiya satu lagi, bicara tentang syukur, saya menemukan sebuah jurus ampuh untuk mematikan rasa syukur dan membuat hidup tidak bahagia. Sederhana saja, membanding-bandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Celah untuk kufur akan terbuka lebih lebar saat seseorang mulai melihat hidup orang lain dan membandingkan dengan kondisinya saat ini. So, please stop comparing. Berhenti zalim sama diri sendiri.

Hari ini, saat saya mau mengkorelasikan kesyukuran dengan kebahagiaan, eh qadarullah ada yang posting hal serupa, bagus lagi tulisannya. Yaudah saya izin repost aja sama yang punya hak cipta, hihihi. Hatur nuhun Mbak Eza :*.

Highly recommended to follow, Instagram @eza_dirwan

Ushikum wa iyya nafsiy bitaqwallah. Tulisan ini terlebih lagi adalah peringatan bagi diri saya sendiri. Terimakasih yaa kalau kamu sudah berkenan untuk membacanya.

Stay positive!

Salam,
Venessa Allia

Author: Allia

Allia, an environment analyst who loves to write and share. This blog is her personal project to share what is on her mind, and especially to deliver many things she found amazing about her faith. On progress to be what is so called a writer, but at the end her dream is to be a great in every role, in this time and hereafter.

One thought on “Celah untuk (Tidak) Bersyukur”

  1. Ven, kalau untuk mendapatkan rasa bersyukur itu dengan cara compare sama yg kurang beruntung, kira2 gmn tuh?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *