Amateur Moderator: Biar Hidup Lebih Berwarna

Hai, assalamualaikum. Good morning everyone.

Pagi ini pengen deh cerita-cerita dikit. Udah lama kaan saya nggak cerita.

Masih di kehidupan episode pandemi corona, suatu hari ex-boss saya Whatsapp, intinya sih ngajak saya jadi MC/moderator untuk sebuah acara komunitas di mana dia menjadi foundernya. Sebenernya itu bukan WA pertama bahas komunitas tersebut, cuma ini ceritanya saya bikin singkat aja. Komunitas ini namanya ASNation. Terbaca dari namanya, kalau ini adalah komunitas ASN yang diinisiasi oleh ex-boss saya dan kawan-kawan UI-nya sesama ASN juga. Berdasarkan yang saya pahami, komunitas ini punya misi untuk jadi tempat ASN berbagi inspirasi ke sesama ASN atau masyarakat umum, juga sebagai sarana pengembangan diri. Menurut saya bagus ada sekumpulan ASN yang punya inisiatif seperti ini, they are taking responsibility to do more, to give more. Bentuknya juga komunitas, jadi cocoklah sama karakter orang Indonesia yang doyan guyub, haha. Lagian profesi ASN ini menurut saya citranya emang kaku banget, jadi perlu dibuat fluid dalam wadah komunitas yang bisa jangkau banyak orang tanpa harus ketabrak peraturan kanan kiri.

Oke balik lagi ke konteks judul di atas. Jadi my ex-boss nawarin saya jadi moderator untuk acara webinarnya ASNation. You know for sure, saya bukan profesional MC atau moderator. And I know for sure, kalau saya bukan anak doyan tampil. Tapi kondisinya saat itu, saya merasa bosan sekali dengan rutinitas sehari-hari. Work from home hampir setiap hari dan aktivitas weekend yang hampir sama bikin penat juga. Terus jadi kepikiran “kayaknya gue butuh ngerasain experience baru deh biar nggak bosen. Kayaknya gue butuh adrenalin tambahan biar hidup lebih berwarna”. And for that reason, I said yes. Hahaha.

Mantan bos saya tersebut juga bukan nawarin kesempatan itu secara random sih. Saya memang pernah beberapa kali jadi MC acara kantor, and apprarently for him I did well. Untuk saya sendiri, waktu awal menyanggupi sebenarnya setengah modal nekat juga, hihi. Apalagi waktu tahu kalau narasumbernya tuh pembicara yang udah cukup terkenal, sesungguhnya jadi jiper. Cuma dalam hati (alhamdulillah), kayaknya Allah memang kasih kepercayaan diri. Ada perasaan yang bilang kalau saya bisa melakukannya. Kalau nginget-nginget hobi saya dengerin radio dan nonton talkshow, masa sih sistem alam bawah sadar saya sama sekali nggak sempat merekam cara-cara MC profesional membawakan acara. Pasti ada modal skill yang nyangkut dikit. Nah, supaya makin yakin, saya juga mempersiapkan diri dengan belajar via Youtube. Beneran akses belajar sekarang tuh udah nyaris nggak ada batasnya. Saya nonton beberapa video dari Alan Albana, menurut saya videonya sangat praktikal dan cukup singkat.

Long short story, hadirlah poster diatas dan beneran terjadi tanggal 20 Juni kemarin, saya jadi moderator+MC seminarnya dr.Aisah Dahlan. Masya Allah. Apakah saya khawatir saat menjalankannya? Tentu sajaaaa saya khawatir dari detik pertama saya menyanggupi ajakan tersebut, dan itu wajar :).

If you ask how was it going? All I can say is I am satisfied because I had given my best. Rasanya “fulfill” .

Despite all connection problems which I have tried to mitigate before (dari pinjem laptop yang kamera depannya lebih bagus sampai pasang wifi extender) namun masalah koneksi masih terjadi, alhamdulillah saya masih dapat feedback yang baik, hehe. Acaranya juga sukses dihadiri lebih dari 300 partisipan seluruh Indonesia. Thank You Allah for build the technology :).

Lalu secara keseluruhan, apa yang saya pelajari? Ada 3 hal yang saya catat dalam hati:

1. Ambil kesempatan yang datang, jangan dimentahin (ditolak) karena khawatir. Nekatlah dengan terukur :). Dalam hal apapun juga, selagi judulnya masih kebaikan, saya percaya Allah sudah kasih kita modal kemampuan belajar dan untuk itu kita punya tanggung jawab untuk perluas kemampuan kita. Berkaca dari generasi keemasan Islam terdahulu, hoho mereka semua Muslim Muslimah multitalenta.

2. Saya belajar tentang diri saya sendiri. Walau terasa tidak nyaman pada awalnya, tapi ternyata saya menikmati saat-saat bicara di depan banyak orang (walau dalam format virtual). Menurut saya punya pemahaman diri itu penting. Mendedahkan diri pada lebih banyak pengalaman jadi cara yang efektif untuk verifikasi diri sendiri.

3. Belajar dari pengalaman saya soal koneksi internet yang tetap ada gangguan walau saya sudah coba mitigasi sebelumnya, saya jadi paham kalau pada akhirnya yang bisa saya lakukan adalah berusahalah sebaik mungkin untuk kontrol hal-hal yang bisa diintervensi, dan mengikhlaskan sisanya. Kalau ada masalah yang masih terjadi, yasudah terima dan hadapi saja. Jangan jadi gila karena dream of perfection.

Sebenarnya saya ingin juga sharing banyak ilmu menarik dari materinya ibu dokter Aisah Dahlan soal otak dan emosi, tapi kayaknya mau saya tulis di Instagram (@venessaallia) saja, hehe. Kalau sempat nanti saya buat versi tulisan panjangnya di sini.

Oke, udahan dulu yaa. Senang pagi-pagi bisa cerita. Terimakasih sudah membaca cerita sayaaa.

Salam,

Venessa Allia

Author: Allia

Allia, an environment analyst who loves to write and share. This blog is her personal project to share what is on her mind, and especially to deliver many things she found amazing about her faith. On progress to be what is so called a writer, but at the end her dream is to be a great in every role, in this time and hereafter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *