Lagu Pejalan: Sebuah Intepretasi, Filosofi dan Temuan

Meski kita tidak tahu ujung jalan ini, kita tidak juga akan terhenti, selalu berjalan

Hai, assalamualaikum.

Saya kangen sekali nulis ngalor ngidul, hehe. Minggu ini Indonesia punya long weekend yang untuk orang pada umumnya tidak bisa dihabiskan selain dengan aktivitas dalam rumah. Lalu tadi malam saya nonton ulang film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), dan seperti pertama kali menontonnya di awal tahun 2020, tadi malam pun saya masih sangaat menikmati setiap emosi saat nonton film ini. Awan, Aurora, Angkasa dan Ayah menjadi medium saya belajar banyak hal tentang rasa.

Beruntunglah orang-orang yang diberi kemampuan menggunakan pikiran dan perasaan secara seimbang. Karena manusia memang telah diberi keduanya.

thealliaproject

Salah satu pengalaman yang saya recall dari menonton film ini adalah rasa suka saya pada Lagu Pejalan karya Sisir Tanah yang setidaknya untuk saya menjadi the most powerful soundtrack on this movie. Mencoba menjadi lebih filosofis, menurut saya lagu ini adalah soundtrack bagi semua orang. Karena semua manusia sejatinya memang sedang berjalan, selalu berjalan padahal kita nggak tahu ujungnya sampai kapan. Perjalanan yang ada bahagianya dan ada tidak bahagianya. Ada riang ringkih, ada rumit terhimpit. Pertanyaannya pun sama bagi setiap pejalan, mampukah kalian bertahan ? Dan pertanyaan tersendiri bagi orang-orang beriman, mampukah kita bertahan pada jalan yang lurus, yang Dia ridhoi?

Yang paling saya suka adalah ketika lagu ini diakhiri dengan pernyataan..

Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak.

Laju Pejalan (Sisir Tanah)

Kita nggak tahu harus berjalan dan bertahan berapa lama lagi. Lebih letih lagi ketika memikirkan akhir dari perjalanan ini akankah sampai pada kemenangan sesungguhnya. Membayangkan jauh sekali sisa perjalanan untuk sampai ke sana. Lelahnya hingga harus menyeret kaki sembari waktu terus berlalu. Tapi kita terus berjalan, kita nggak rela tunduk pada berapa jauh dan sulitnya perjalanan. Jatuh dan bangun lagi. Futur dan kembali lagi. Ditikam-tikam rasa merupakan frase yang tepat sekali menggambarkan ini semua. Tapi kita masih terus berjalan, tanpa kita tahu seberapa jauh perjalanan ini kita tetap terus berjalan dan bertahan.

Hai manusia, kita ini siapa sih?

Siapakah kita ini, manusia?
Yang dalam diam, riuh, ragu, dan tak mampu
Ada rahasia, tidak rahasia
Ada di sini ada di situ
Diseret-seret waktu

Kita berjalan saja masih, terus berjalan
Meskipun kita tak tau berapa jauh jalan ini nanti
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak

Kita berjalan saja masih, selalu berjalan
Meskipun kita tak kunjung tau ujung jalan ini
Dan kita tak juga kan terhenti, selalu berjalan
Dan kita tak juga kan terhenti, selalu berjalan

Bertahankah kita ini manusia?
Yang dalam riang, ringkih, rumit, dan terhimpit
Ada bahagia, tidak bahagia
Ada di sini ada di sana
Ditikam-tikam rasa

Kita berjalan saja masih, terus berjalan
Meskipun kita tak tau berapa jauh jalan ini nanti
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak

Lagu Pejalan (Sisir Tanah)

Kita adalah manusia yang diciptakan untuk melalui perjalanan. Bersama riang, ringkih, rumit, diam, riuh, ragu, bahagia dan tidak bahagia serta semua rasa yang ditakdirkan menemani perjalanan. Trek kita sebenarnya lurus, hanya kita tidak tahu seberapa jauh. Jika arah kita mulai menyerong, seretlah kaki ini agar lurus kembali. Jika jalan kita mulai berhenti, maka percayalah Dia menunggu kita melanjutkan. Dan jika jatuh, sadarilah bahwa kita masih punya kesempatan untuk bangun lagi. Kita bukan penentu akhir, kita adalah pejuang dalam perjalanan. Kita bukan pula pejuang yang selalu tangguh, tapi selama kita punya tekad untuk bertahan taat maka selamanya kita tidak akan rela tunduk pada jarak.

Akhir dari perjalanan ini adalah rahasia. Berapa lama lagi kita berjalan adalah rahasia. Tapi bagaimana caranya melalui perjalanan ini adalah tidak rahasia. Kita sudah dibekali dengan pesan untuk selalu meminta petunjuk ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, dan bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Quran Surat Al-Fatihah ayat 6-7 (sumber: https://litequran.net/al-fatihah)

Untuk teman-teman seperjalanan, semoga kita tetap kuat dalam menikmati perjalanan ini.

Salam dari pejalan yang sedang berjalan lambat dan ingin berlari lagi,

Venessa Allia


Note: Lagu Pejalan adalah sebuah karya milik Sisir Tanah. Awalnya saya kira Sisir Tanah adalah sebuah band, ternyata hanya satu orang. Dari awal mendengar lagu ini, saya sudah suka dengan melodi dan liriknya. Saya memaknai lagu ini sebagai cerita perjalanan manusia yang tidak mau menyerah. Dan memang begitu kita diciptakan Allah untuk bertahan dan tidak menyerah. Kata @quranreview, ayat Quran itu ada dimana-mana. For this time, i found it on this song. Masya Allah.

Author: Allia

Allia, an environment analyst who loves to write and share. This blog is her personal project to share what is on her mind, and especially to deliver many things she found amazing about her faith. On progress to be what is so called a writer, but at the end her dream is to be a great in every role, in this time and hereafter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *