Berdoa Terus

Disclaimer: Tulisan ini ditulis tanggal 1 Maret 2020, hanya baru disalin ke blog hari ini.

Baru beberapa hari yang lalu, dipicu oleh post seorang teman di IG yang membahas adab doa ketika sujud, saya browsing via Yufid soal sebenernya doa yang benar waktu sujud itu seperti apa.

Lalu hari ini, randomly seorang teman WA juga bertanya soal doa, tentang kebiasaan berdoa, tentang waktu mustajab untuk berdoa.

Lalu malamnya, nonton lecture Ustad NAK judulnya “Lets Pray for The Oppressed”, bisa dibilang 50% isi kajiannya juga bahas terkait doa. Anyway, ini kajiannya bagus banget, buat saya pribadi ini memberikan perspektif berbeda tentang kekerasan yang dialami umat muslim di India. Pernah nggak kepikiran bahwa apa yang terjadi di sana bisa jadi karena dosa yang kita (including myself of course) lakukan di sini. Karena pada prinsipnya umat ini satu tubuh. Ibarat manusia makan unhealty food, makannya pake mulut, tapi yang jadi sakit bukan mulutnya, melainkan jantungnya. As Ustad said, it is time to us (all of us) to repent and back to Allah.

Tiga kejadian berturut-turut berhubungan dengan doa. Doa, doa dan doa.

Doa.
Entah bagaimana saya percaya, setiap percakapan manusia kepada Allah adalah doa.
Ketika mengeluh, “Ya Allah, sakit sekali”. Ketika bahagia, “Ya Allah, senang sekali”. Ketika bertanya, “Ya Allah,mengapa?” Ketika berharap, “Ya Allah, kumohon.”
Saya ingat seorang guru pun pernah berkata bahwa ruh manusia punya akses langsung kepada Tuhannya.

Doa.
Ada adab, ada cara. Mempelajarinya adalah obligasi karena Tuhan sudah berikan kita akal dan kemampuan.
Tapi sebelum itu, ada tauhid yang utama.
Bahwa berdoa hanya kepada satu Tuhan saja, Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana para pemuda Al Kahfi yang belum tahu mana halal mana haram, tapi sudah yakin pada kesimpulan bahwa beribadah hanya kepada satu Tuhan.

Doa.
Semata-mata menunjukan ketidakberdayaan manusia, meruntuhkan semua kesombongan. Hanya Allah yang Berkuasa. Kita manusia tidak bisa apa-apa. Semua ada karena Allah yang berikan, kita minta atau tidak, Allah yang berikan.

Doa.
Semurni-murni ibadah, dan bukankah hanya untuk itu manusia diciptakan? Pada akhirnya saya berkesimpulan, setiap kesulitan sebenarnya dirancang agar manusia mau kembali kepada Allah, berdoa dan berdoa lagi. Ibadah dan ibadah lagi.

Doa.
Dulu pernah kepikiran, apa nggak capek berdoa terus? Kelemahan ini sekarang justru menyadarkan bahwa berdoa kepada-Nya adalah kebutuhan. Berdoa memberikan kepercayaan. Berdoa memberikan kekuatan

Doa.
Panjatkan doamu ke langit.
Bisikan dalam hatimu yang paling tulus.
Keluarkan semuanya, semuanya.
Sampaikan pada-Nya bahwa dirimu resah.
Bahwa kau nyaris putus asa.
Biarkan air matamu jatuh saking kau tidak berdaya.
Memohonlah pada-Nya, hanya pada Allah.
Tidak ada yang lebih nikmat dari meratap kepada Allah. Hanya kepada-Nya kamu berserah diri.


Berdoalah sebanyak kamu mau.
Berdoalah di setiap kesempatan yang kamu miliki.
Rasakanlah, betapa manis doa dan pasrah mengiringi keras dan letihnya usaha.

Sungguh.
Allah dengar, Allah lihat, Allah tau persis.
Berdoalah. Berdoa lagi. Berdoa terus.

P.S
Jangan lupa doain saya ya 🙂

Author: Allia

Allia, an environment analyst who loves to write and share. This blog is her personal project to share what is on her mind, and especially to deliver many things she found amazing about her faith. On progress to be what is so called a writer, but at the end her dream is to be a great in every role, in this time and hereafter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *