Surat yang Romantis

Hai. Assalamualaikum. Meet me again!

Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah event bernama Quran Talk yang dibikin sama Yuk Ngaji Bintaro. Acaranya diadakan di Skup Gelato Bintaro (deket Mc.D sektor 9). Narasumbernya ada Mbak Ratu Anandita, Mas Mario Irwinsyah dan yang paling bikin saya penasaran, ada timnya @quranreview hadir di event ini.

Sudah pernah denger tentang @quranreview? Jadi ini adalah akun Instagram yang isinya mengupas ayat-ayat Al Quran dengan cara yang menyenangkan. Tagline mereka adalah “Quran is Millenial-able”. Jadi sesuai tagline, cara mereka mengkomunikasikan Al Quran pun fresh dan menggunakan analogi-analogi yang relate sama millenial. Sebagai old soul lady yang nggak merasa masuk generasi millenial (walau secara definisi, aku masih millenial loh, haha), saya pun merasa nyambung banget sama penjelasan-penjelasan @quranreview. Pada setiap post mereka mengupas 1-2 ayat Al Quran, dan Masya Allah membaca isi “unboxing” ayatnya bener-bener kasih pesan bahwa Quran itu deket banget sama kita, dan ayat-ayat Quran (tanda-tanda kebesaran Allah) itu ada di every single thing kehidupan manusia.

Nah menariknya lagi dari si @quranreview ini, mereka mengupas Al Quran juga dari sisi linguistik Bahasa Arab-nya, jadi buat saya yang qadarullah lagi belajar Bahasa Arab level pre-basic-beginner, yaa jadi makin tertarik ajaaa. By the way, soal Bahasa Arab, akhirnya setelah ikut IDW kemarin (please check my previous post), saya bisa memahami kenapa harus Bahasa Arab yang jadi bahasa Al Quran. Karena memang bahasanya itu precise dan detil banget. Satu kata itu bisa menggambarkan satu kejadian yang spesifik. Kebayang ga? Jadi ya cocoklah buat bahasa kitab suci yang di dalamnya juga memuat hukum-hukum. Bahasa hukum kan nggak boleh bias, harus tepat dan jelas, persis seperti karakter Bahasa Arab. Detil Bahasa Arab ini juga yang membuat bahasanya jadi indah banget. Ibarat karya seni yang mahal, pasti punya banyak detil, ada keteraturan dan ketidakaturan, unik dan sulit untuk ditiru. Yaps, persis Bahasa Arab juga begitu. Masya Allah.

Balik lagi soal event Quran Talk yang tadi saya sebut di awal. Tim @quranreview (sebenernya bukan tim sih, yang hadir cuma 1 orang, wkwk) menyampaikan materi soal surat Ad-Dhuha ayat 1 -5. Pas banget timing-nya, Sabtu Dhuha di Bintaro kita bahas soal surat Ad-Dhuha. Surat yang dari SD sudah saya hafal tapi baru paham maknanya sekarang, dan ternyata isi suratnya tuh romantis dan menyentuh sekali, huhu. Lets we unboxing these ayahs together :).

Latar belakang turunnya surat ini adalah ketika Rasulullah SAW sedih banget karena sudah cukup lama wahyu Allah nggak turun. Rasulullah sedih dan merasa Allah tinggalkan, terus Rasulullah SAW curhat ke Khadijah r.a. Kata Khadijah kurang lebih begini “Tidak mungkin Allah meninggalkanmu ya Rasulullah, Allah mengawali ini dengan baik, maka pasti mengakhiri ini semua juga dengan baik”. Beneran istri sholehah, bikin adem, real role model.

Long story short, turunlah surat Ad Dhuha. Ini saya copy paste 5 ayat pertama (berikut terjemahannya) yang dibahas waktu Quran Talk aja yaa.

وَالضُّحَىٰ (Demi waktu matahari sepenggalahan naik)

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (dan demi malam apabila telah sunyi (gelap) )

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ( Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu)

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ (Dan sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan))

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.)

Pada ayat yang pertama, ada huruf وَ yang menunjukan Allah bersumpah demi waktu dhuha. Hal ini menunjukan waktu dhuha itu termasuk hal yang sangat penting. Manusia aja nggak mungkin bersumpah dengan sesuatu yang receh (misal “gue bersumpah demi chiki ball rasa keju”, sounds silly kan). Di lihat dari sifatnya, waktu dhuha itu juga merupakan saat di mana matahari sudah bersinar terang tapi nggak panas kayak matahari jam 12 siang. Ibu-ibu aja jemur bayinya di waktu dhuha karena diketahui matahari saat dhuha itu banyak vitamin D-nya. Jadi memang banyak keutamaan. Nah, Al Quran itu ibaratnya seperti Dhuha, bersinar terang tapi nggak bikin kepanasan.

Waktu dhuha itu penting, Allah saja bersumpah menggunakan waktu tersebut. Jadi jangan dilewatkan sembarangan, jangan males solat dhuha dan dzikir pagi.

In Allia’s mind as lesson learned #1

Masuk ke ayat kedua, Allah menyebutkan tentang malam. Nah kalau penjelasannya @quranreview nih, malam ini adalah ibarat hati di saat tidak ada Quran. Gelap gulita. Ini nih kalau katanya @quranreview, isi Quran tuh juicy banget. Analoginya tuh tepat. Nah, masuk ke ayat ketiga, ayat yang paling saya suka, Allah mulai menghibur Rasulullah dan menegasikan kekhawatiran Rasulullah sebelumnya dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan meninggalkan Rasulullah dan tidak pula benci padanya. Pada ayat ketiga ini juga digunakan kata مَا, secara bahasa kata ini digunakan ketika membuat negasi (ingkaran) sekaligus melakukan koreksi. Kalau ngikuti analoginya @quranreview, misal ada yang nanya sama kamu “Kamu selingkuh ya?”, terus kamu jawab “Saya nggak selingkuh, karena saya tahu dosanya dan saya sayang suami saya dan anak-anak kami jadi saya nggak mungkin selingkuh.” Nah, untuk mengungkapkan negasi dan penjelasan (koreksi) sebagaimana di atas, yang dipakai sebagai negasi adalah مَا. Yah kurang lebih kemarin penjelasannya secara bahasa seperti itu. Semoga saya nggak salah tangkep, wkwk.

Pada ayat ketiga ini juga ada kata قَلَىٰ (sayangnya saya lupa kata dasarnya apa). Menurut penjelasan @quranreview, قَلَىٰ ini tuh maksudnya kondisi dimana sesuatu yang berguna itu dibuang setelah habis dipakai, analoginya kayak deterjen gitu deh, habis dipakai buat ngilangin noda di baju yaa dibuang gitu ajaaa. Nah disini kelihatan lagi bagaimana luar biasanya Bahasa Arab, satu kata saja bisa mendefinisikan satu kejadian. Hal-hal seperti ini nggak akan berasa kalau hanya baca terjemahan.

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat ketiga Surat Ad-Dhuha, Allah itu nggak akan pergi, kayak siang dan malam yang hadir setiap hari. Allah nggak akan pergi.

In Allia’s mind as lesson learned #2

Ayat keempat wajib dicamkan oleh siapa aja yang lagi hopeless. Allah lagi-lagi menghibur Rasulullah SAW dengan berkata bahwa hari esok itu lebih baik daripada yang permulaan. Permulaan itu maksudnya saat ini, jadi Allah membesarkan hati Rasulullah dengan mengatakan bahwa hari esok itu pasti akan lebih baik. Kebayang nggak sih kalimat ini disampaikan oleh Allah langsung ke Rasulullah yang lagi sedih karena berasa ditinggal, myeeeeee. Secara tersirat, sebenarnya ayat ini juga meminta kita untuk percaya sama Allah.

Dalam asumsi dan pikiran manusia yang mengkhawatirkan masa depan bakal kayak apa, maka perlu untuk kita (saya) ingat kembali makna ayat ini ketika Allah mengatakan hari esok akan lebih baik dari saat ini. Trust Allah.

In Allia’s mind as lesson learned #3

Masuk ke ayat kelima, di sini Allah kembali menghibur Rasulullah SAW dengan menjanjian akan memberikan sesuatu hingga hati Rasulullah menjadi puas. Nah menariknya, sebenarnya di ayat ini tidak ada keterangan lebih detil yang mau diberikan itu apa (kalau di terjemahan sih disebutkan karunia). Jadi ternyata tafsirnya, kalau di Quran nggak disebut secara jelas apa yang akan diberikan, artinya yang akan diberikan itu luaaaas bangeeeet. Itulah mengapa di Quran juga nggak disebutkan apa yang akan didapatkan cewek nanti di surga (kalau cowok kan well described yaa dapat apa aja di surga), alasannya karena cewek itu by default punya banyak keinginan, dan di surga nanti mereka akan dapat semua yang diinginkan. Masya Allah.

Menyadari diri ini adalah wanita yang banyak keinginan sampai kadang bingung sendiri, hehe, yakin aja kalau semua keinginan itu nanti achieved di surga. Makanya selagi masih hidup yang penting sekarang bukan caranya menggapai keinginin duniawi semata, tapi yang penting gimana caranya biar bisa masuk surga :).

In Allia’s mind as lesson learned #4

Saat membahas ayat kelima ini juga, @quranreview menyebut alasan sebenarnya mengapa Rasulullah sedih. Wahyu yang sudah lama tidak turun ternyata membuat Rasulullah SAW sedih karena lama tidak mendengarkan Al Quran lagi.

Jangan-jangan selama ini kalau saya sedih, karena lama nggak berinteraksi sama Quran 🙁

In Allia’s mind as lesson learned #5

Oke, demikianlah hasil ‘unboxing‘ lima ayat pertama surat Ad-Dhuha yang berhasil saya catat sehingga bisa saya tulis ulang disini. Sebenarnya sih ayat-ayat selanjutnya juga sempat dibahas, tapi cuma sedikit-sedikit gitu, mungkin karena keterbatasan waktu, dan sayangnya saya nulisnya nggak utuh, jadi kalau ditulis ulang khawatir salah pengertian, hehe.

Tambahan terakhir deh, yang ini walaupun nulisnya nggak utuh tapi saya cukup ingat karena dijelasin agak panjang. Soal makna ayat ke-11 dimana Allah bilang:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan/nyatakan.)

Ternyata yang dimaksud nikmat disini adalah kenikmatan yang dirasakan ketika ada kesulitan lalu mendapatkan pertolongan Allah. Menyiarkan atau menyatakan kenikmatan yang seperti ini akan baik jika didengarkan oleh orang yang lain, terutama jika mereka sedang dalam kesulitan karena akan memberikan harapan bagi mereka juga akan pertolongan Allah. Hati-hati menyiarkan kenikmatan, karena kalau nggak diperhatikan niatnya, khawatir bisa terjerumus riya.

It’s a wrapped! Ushikum wa iyya nafsi bi taqwallah. Jazzakumullah khairan untuk @quranreview , panitia Quran Talk dan pemateri lainnya yang sudah membuat saya jatuh cinta dengan Surat Ad-Dhuha. Keep up the good work! Semoga Allah memberkahi semua usahanya untuk membuat kita lebih dekat dan lebih paham lagi sama isi Al Quran. Thank you also for two scoops of the gelato, I’ll be back again to try another flavor, Insya Allah :).

Salam,

Allia

Author: Allia

Allia, an environment analyst who loves to write and share. This blog is her personal project to share what is on her mind, and especially to deliver many things she found amazing about her faith. On progress to be what is so called a writer, but at the end her dream is to be a great in every role, in this time and hereafter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *