Celah untuk (Tidak) Bersyukur

Disclaimer: ini tulisan sekitar 5 tahun lalu di blog yang lama. Karena saya suka sama message-nya jadi saya tulis ulang disini dengan beberapa penyesuaian dan tambahan.

Suatu malam, temen saya yang posisinya lagi di luar Indonesia whatsapp begini “Nes, gimana caranya biar bisa bersyukur terus?”

Waktu itu saya kaget juga tiba-tiba diberikan pertanyaan seperti itu, kayaknya saya bukan orang yang tepat untuk menjawabnya. Pertama, karena saya merasa belum menjadi seorang ahli syukur. Kedua, karena saya juga masih mempertanyakan hal yang sama, hehehe. Topik “bersyukur” sering menjadi topik pembicaraan saya dengan diri saya sendiri, hingga lama-lama saya membuat kesimpulan. Sebuah kesimpulan yang bisa jadi benar, bisa jadi salah, dan sangat terbuka dengan revisi seiring dengan pemahaman yang Allah tambahkan.

Seperti apapun kehidupan yang saya jalankan, saya akan selalu punya celah untuk tidak bersyukur. Selalu.

Demikian pula seperti apapun kehidupan yang saya jalankan, saya akan selalu punya celah untuk bersyukur. Selalu.

Sekarang semuanya kembali ke pilihan saya mau fokus ke mana. Fokus ke celah untuk bersyukur, atau ke celah untuk tidak bersyukur.

thealliaproject

Pemahaman di atas adalah sebuah tarikan benang merah dari serangkaian pengalaman dan perasaan yang saya alami, lets say dari rentang kuliah S1 hingga saat tulisan ini saya keluarkan. Kenapa mulainya dari S1 ? Karena bagi saya, masa itu adalah salah satu episode terpenting dalam hidup saya yang berhasil bikin saya berpikir dengan cara yang berbeda.

Dalam sebuah perenungan saya pun sadar, bahwa selama ini apapun yang saya jalani, selalu saja ada celah untuk saya mengeluh dan tidak puas. Selalu. Hingga akhirnya saya paham ternyata perasaan bahagia itu bukan tergantung dari kehidupan apa yang saya jalankan. Bukan pula tergantung dari tercapai atau tidaknya keinginan saya. Tapi tergantung dari bagaimana saya menghargai apa yang Allah berikan untuk saya saat ini. Karena percayalah, jikalau saya punya kehidupan yang sempurna sesuai standar kesempurnaan yang berlaku pada umumnya, saya akan tetap menemukan ketidakpuasan, keluhan dan celah untuk tidak bersyukur.

Ohiya satu lagi, bicara tentang syukur, saya menemukan sebuah jurus ampuh untuk mematikan rasa syukur dan membuat hidup tidak bahagia. Sederhana saja, membanding-bandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Celah untuk kufur akan terbuka lebih lebar saat seseorang mulai melihat hidup orang lain dan membandingkan dengan kondisinya saat ini. So, please stop comparing. Berhenti zalim sama diri sendiri.

Hari ini, saat saya mau mengkorelasikan kesyukuran dengan kebahagiaan, eh qadarullah ada yang posting hal serupa, bagus lagi tulisannya. Yaudah saya izin repost aja sama yang punya hak cipta, hihihi. Hatur nuhun Mbak Eza :*.

Highly recommended to follow, Instagram @eza_dirwan

Ushikum wa iyya nafsiy bitaqwallah. Tulisan ini terlebih lagi adalah peringatan bagi diri saya sendiri. Terimakasih yaa kalau kamu sudah berkenan untuk membacanya.

Stay positive!

Salam,
Venessa Allia

Orang Baik Butuh Panggung

Hai semua, lama tak jumpa. Kali ini saya ingin cerita sesuatu.

Baru sejak 2 bulan yang lalu saya membantu tim humas sebuah komunitas bernama @ASNation sebagai content writer. Sesuai namanya, komunitas ini isinya ASN semua (Aparatur Sipil Negara, sinonimnya PNS, yang ini nggak usah gue panjangin pasti udah tau kan singkatannya). To be précised, komunitas ini merupakan kumpulan ASN alumni Universitas Indonesia yang punya misi bahwa ASN itu harus saling berbagi dan menginspirasi. Singkat cerita, takdir membawa saya kenal dengan founder ASNAtion, Pak Ahmad Luthfi, simply because he was my supervisor, wkwkw. Lalu kesuntukan pandemi Covid-19 ternyata mendorong saya untuk melakukan hal-hal yang berbeda. Yaudah karena diajakin juga, saya pun memutuskan bergabung dan membantu tim humas untuk menulis di sebuah rubrik Instagram @ASNation.id yang diberi nama #ASNHighlight.

Rubrik #ASNHighlight ini adalah sebuah konten Instagram berupa profil ASN berprestasi yang layak di-highlight. Yang saya lakukan dari mulai cari sosok ASN berprestasi tersebut, kontak orangnya, mintain datanya, interview singkat untuk kumpulin materi tulisan, lalu tulis dan kirim ke tim. Nanti akan ada yang melakukan proses editing dan release tulisannya. Nah, tantangan pekerjaan ini adalah di step paling pertama, yaitu mencari sosok ASN yang berprestasi. Bukan karena nggak ada, tapi karena saya nggak tau mereka ada di mana. Lack of information. Awal-awal sih masih cukup mudah untuk menemukan sosok-sosok yang layak di highlight karena berita tentang mereka tersedia, tapi karena ini konten mingguan, lama-lama saya kehabisan resource juga. Udah banyak banget akun Instagram Kementerian/Lembaga yang saya buka, berharap dapat informasi, but almost zero result karena konten mereka kebanyakan kegiatan pejabatnya. Ampun. Usaha-usaha sporadis pun dilakukan, tanya-tanya teman yang juga ASN, some of them give me recommendations. Tim humas yang lain juga membantu mencari informasi sehingga, alhamdulillah, kita tetap bisa mengeluarkan satu profil ASN yang memang layak di-highlight setiap minggunya.

Oke, that’s the story, tapi yang ingin saya sampaikan bukan hanya cerita pengalaman. Lebih dari itu, pengalaman ini membuat saya sadar kalau mereka, orang-orang yang sudah sangat baik bekerja untuk negeri ini, sering kali jauh dari spotlight dan kamera, padahal banyak diantara mereka yang layak sekali mendapat penghargaan. Bukan soal ikhlas atau riya, bukan soal pengen dilihat, tapi percaya deh merasa dihargai adalah salah satu kebutuhan manusia.

Lagipula bukankah orang-orang baik itu layak dinaikan ke atas panggung?

thealliaproject

Kalau panggung dunia ini tidak diisi oleh orang-orang baik, maka yang naik pentas adalah mereka yang gagal memberikan kebaikan. Sering nggak sih melihat media sosial terus ngerasa “Orang kayak gini kenapa harus dikasih panggung sih?”, atau sering juga saya dengar jargon “Stop making stupid people famous”.

Dengan perkembangan media informasi saat ini, sebenarnya mudah sekali kalau seseorang mau bikin panggung, tinggal perkara ada yang mau nonton atau nggak, kan? Platform-nya tersedia, konten yang baik pun banyak , lalu apa yang kurang? Meminjam istilah Pak Gita Wirjawan yang lagi sering saya tonton kanal Youtubenya.. yang kurang adalah naratornya.

Gue selalu lihat kalau Indonesia nih narasinya keren banget tapi naratornya kurang. Gue ingin ramu kepentingan kita untuk mengedepankan ilmu alam sama kepentingan kita untuk membuahkan narator sebanyak mungkin.

Gita Wiryawan

Kali ini saya cukup bangga dengan diri saya sendiri karena secara tidak sengaja berhasil sepikiran sama smart person kayak Pak Gita Wirjawan, hehehe. Negeri ini butuh lebih banyak narator yang bercerita tentang betapa baiknya negeri ini, termasuk manusia-manusia di dalamnya. Bukan untuk sombong, bukaaan. Tapi karena kebaikan memang perlu digemakan. Supaya menular, supaya jadi impuls untuk lebih banyak orang berbuat baik.

Kebaikan memang perlu digemakan.

thealliaproject

Ada fakta menarik yang baru juga saya ketahui beberapa tahun terakhir. Keputusan dan sikap manusia itu bukan serta merta tanpa alasan, tapi lahir dari informasi yang diterima oleh mata dan telinga. Jadi kalau manusia terbiasa dengan input informasi yang benar dan baik, maka output keputusan dan sikapnya pun akan benar dan baik. Vice versa. Di satu sisi, hal ini bikin saya sadar bahwa saya harus berhati-hati menjaga informasi yang masuk ke panca indera. Di sisi lain, saya pun merasa bertanggung jawab dalam setiap informasi yang saya berikan, karena output yang keluar dari diri saya, baik perbuatan maupun ucapan, adalah input informasi bagi yang lainnya.

Jangan tanya saya dalilnya apa, tapi yakinlah setiap dari kita bertanggung jawab untuk memberikan informasi yang berguna, yang baik, yang benar, yang inspiratif, apapunlah namanya. Meminjam quote Aryo Pamoragung, salah satu #ASNHighlight yang berhasil dapat penghargaan Top 3 Future Leader Anugerah ASN 2019,

Echo-kan hal baik ke seluruh penjuru negeri.

Aryo Pamoragung

Bismillah. Percayalah bahwa kita semua adalah narator kebaikan.

Terkahir, tulisan ini akan ditutup dengan sebuah doa yang tidak ada hubungannya sih sama narasi panjang di atas, tapi masih sangat valid untuk dipanjatkan saat ini: Semoga pandemi ini segera berlalu, gue kangen ketemu orang di luar Zoom, Webex dan Ms.Team.

Stay positive yaa.

Venessa Allia.

..

Anyway, bicara soal narator, mungkinkah menjadi narator adalah calling saya? Belakangan saya merasa kemauan dan kemampuan menulis yang Allah kasih ini, walau belum bisa saya monetisasi, tapi kayaknya ini jalan saya buat menunaikan tujuan hidup deh. Karena saya percaya, pasti ada alasan luar biasa baik mengapa Tuhan harus menciptakan saya di dunia (dan kamu juga).

Menulis adalah hal yang saya sukai, (cukup) kuasai dan Allah bukakan kesempatannya. I think this is my sweetspot. God, give me your guidance, I always need You.

Amateur Moderator: Biar Hidup Lebih Berwarna

Hai, assalamualaikum. Good morning everyone.

Pagi ini pengen deh cerita-cerita dikit. Udah lama kaan saya nggak cerita.

Masih di kehidupan episode pandemi corona, suatu hari ex-boss saya Whatsapp, intinya sih ngajak saya jadi MC/moderator untuk sebuah acara komunitas di mana dia menjadi foundernya. Sebenernya itu bukan WA pertama bahas komunitas tersebut, cuma ini ceritanya saya bikin singkat aja. Komunitas ini namanya ASNation. Terbaca dari namanya, kalau ini adalah komunitas ASN yang diinisiasi oleh ex-boss saya dan kawan-kawan UI-nya sesama ASN juga. Berdasarkan yang saya pahami, komunitas ini punya misi untuk jadi tempat ASN berbagi inspirasi ke sesama ASN atau masyarakat umum, juga sebagai sarana pengembangan diri. Menurut saya bagus ada sekumpulan ASN yang punya inisiatif seperti ini, they are taking responsibility to do more, to give more. Bentuknya juga komunitas, jadi cocoklah sama karakter orang Indonesia yang doyan guyub, haha. Lagian profesi ASN ini menurut saya citranya emang kaku banget, jadi perlu dibuat fluid dalam wadah komunitas yang bisa jangkau banyak orang tanpa harus ketabrak peraturan kanan kiri.

Oke balik lagi ke konteks judul di atas. Jadi my ex-boss nawarin saya jadi moderator untuk acara webinarnya ASNation. You know for sure, saya bukan profesional MC atau moderator. And I know for sure, kalau saya bukan anak doyan tampil. Tapi kondisinya saat itu, saya merasa bosan sekali dengan rutinitas sehari-hari. Work from home hampir setiap hari dan aktivitas weekend yang hampir sama bikin penat juga. Terus jadi kepikiran “kayaknya gue butuh ngerasain experience baru deh biar nggak bosen. Kayaknya gue butuh adrenalin tambahan biar hidup lebih berwarna”. And for that reason, I said yes. Hahaha.

Mantan bos saya tersebut juga bukan nawarin kesempatan itu secara random sih. Saya memang pernah beberapa kali jadi MC acara kantor, and apprarently for him I did well. Untuk saya sendiri, waktu awal menyanggupi sebenarnya setengah modal nekat juga, hihi. Apalagi waktu tahu kalau narasumbernya tuh pembicara yang udah cukup terkenal, sesungguhnya jadi jiper. Cuma dalam hati (alhamdulillah), kayaknya Allah memang kasih kepercayaan diri. Ada perasaan yang bilang kalau saya bisa melakukannya. Kalau nginget-nginget hobi saya dengerin radio dan nonton talkshow, masa sih sistem alam bawah sadar saya sama sekali nggak sempat merekam cara-cara MC profesional membawakan acara. Pasti ada modal skill yang nyangkut dikit. Nah, supaya makin yakin, saya juga mempersiapkan diri dengan belajar via Youtube. Beneran akses belajar sekarang tuh udah nyaris nggak ada batasnya. Saya nonton beberapa video dari Alan Albana, menurut saya videonya sangat praktikal dan cukup singkat.

Long short story, hadirlah poster diatas dan beneran terjadi tanggal 20 Juni kemarin, saya jadi moderator+MC seminarnya dr.Aisah Dahlan. Masya Allah. Apakah saya khawatir saat menjalankannya? Tentu sajaaaa saya khawatir dari detik pertama saya menyanggupi ajakan tersebut, dan itu wajar :).

If you ask how was it going? All I can say is I am satisfied because I had given my best. Rasanya “fulfill” .

Despite all connection problems which I have tried to mitigate before (dari pinjem laptop yang kamera depannya lebih bagus sampai pasang wifi extender) namun masalah koneksi masih terjadi, alhamdulillah saya masih dapat feedback yang baik, hehe. Acaranya juga sukses dihadiri lebih dari 300 partisipan seluruh Indonesia. Thank You Allah for build the technology :).

Lalu secara keseluruhan, apa yang saya pelajari? Ada 3 hal yang saya catat dalam hati:

1. Ambil kesempatan yang datang, jangan dimentahin (ditolak) karena khawatir. Nekatlah dengan terukur :). Dalam hal apapun juga, selagi judulnya masih kebaikan, saya percaya Allah sudah kasih kita modal kemampuan belajar dan untuk itu kita punya tanggung jawab untuk perluas kemampuan kita. Berkaca dari generasi keemasan Islam terdahulu, hoho mereka semua Muslim Muslimah multitalenta.

2. Saya belajar tentang diri saya sendiri. Walau terasa tidak nyaman pada awalnya, tapi ternyata saya menikmati saat-saat bicara di depan banyak orang (walau dalam format virtual). Menurut saya punya pemahaman diri itu penting. Mendedahkan diri pada lebih banyak pengalaman jadi cara yang efektif untuk verifikasi diri sendiri.

3. Belajar dari pengalaman saya soal koneksi internet yang tetap ada gangguan walau saya sudah coba mitigasi sebelumnya, saya jadi paham kalau pada akhirnya yang bisa saya lakukan adalah berusahalah sebaik mungkin untuk kontrol hal-hal yang bisa diintervensi, dan mengikhlaskan sisanya. Kalau ada masalah yang masih terjadi, yasudah terima dan hadapi saja. Jangan jadi gila karena dream of perfection.

Sebenarnya saya ingin juga sharing banyak ilmu menarik dari materinya ibu dokter Aisah Dahlan soal otak dan emosi, tapi kayaknya mau saya tulis di Instagram (@venessaallia) saja, hehe. Kalau sempat nanti saya buat versi tulisan panjangnya di sini.

Oke, udahan dulu yaa. Senang pagi-pagi bisa cerita. Terimakasih sudah membaca cerita sayaaa.

Salam,

Venessa Allia

Lagu Pejalan: Sebuah Intepretasi, Filosofi dan Temuan

Meski kita tidak tahu ujung jalan ini, kita tidak juga akan terhenti, selalu berjalan

Hai, assalamualaikum.

Saya kangen sekali nulis ngalor ngidul, hehe. Minggu ini Indonesia punya long weekend yang untuk orang pada umumnya tidak bisa dihabiskan selain dengan aktivitas dalam rumah. Lalu tadi malam saya nonton ulang film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), dan seperti pertama kali menontonnya di awal tahun 2020, tadi malam pun saya masih sangaat menikmati setiap emosi saat nonton film ini. Awan, Aurora, Angkasa dan Ayah menjadi medium saya belajar banyak hal tentang rasa.

Beruntunglah orang-orang yang diberi kemampuan menggunakan pikiran dan perasaan secara seimbang. Karena manusia memang telah diberi keduanya.

thealliaproject

Salah satu pengalaman yang saya recall dari menonton film ini adalah rasa suka saya pada Lagu Pejalan karya Sisir Tanah yang setidaknya untuk saya menjadi the most powerful soundtrack on this movie. Mencoba menjadi lebih filosofis, menurut saya lagu ini adalah soundtrack bagi semua orang. Karena semua manusia sejatinya memang sedang berjalan, selalu berjalan padahal kita nggak tahu ujungnya sampai kapan. Perjalanan yang ada bahagianya dan ada tidak bahagianya. Ada riang ringkih, ada rumit terhimpit. Pertanyaannya pun sama bagi setiap pejalan, mampukah kalian bertahan ? Dan pertanyaan tersendiri bagi orang-orang beriman, mampukah kita bertahan pada jalan yang lurus, yang Dia ridhoi?

Yang paling saya suka adalah ketika lagu ini diakhiri dengan pernyataan..

Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak.

Laju Pejalan (Sisir Tanah)

Kita nggak tahu harus berjalan dan bertahan berapa lama lagi. Lebih letih lagi ketika memikirkan akhir dari perjalanan ini akankah sampai pada kemenangan sesungguhnya. Membayangkan jauh sekali sisa perjalanan untuk sampai ke sana. Lelahnya hingga harus menyeret kaki sembari waktu terus berlalu. Tapi kita terus berjalan, kita nggak rela tunduk pada berapa jauh dan sulitnya perjalanan. Jatuh dan bangun lagi. Futur dan kembali lagi. Ditikam-tikam rasa merupakan frase yang tepat sekali menggambarkan ini semua. Tapi kita masih terus berjalan, tanpa kita tahu seberapa jauh perjalanan ini kita tetap terus berjalan dan bertahan.

Hai manusia, kita ini siapa sih?

Siapakah kita ini, manusia?
Yang dalam diam, riuh, ragu, dan tak mampu
Ada rahasia, tidak rahasia
Ada di sini ada di situ
Diseret-seret waktu

Kita berjalan saja masih, terus berjalan
Meskipun kita tak tau berapa jauh jalan ini nanti
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak

Kita berjalan saja masih, selalu berjalan
Meskipun kita tak kunjung tau ujung jalan ini
Dan kita tak juga kan terhenti, selalu berjalan
Dan kita tak juga kan terhenti, selalu berjalan

Bertahankah kita ini manusia?
Yang dalam riang, ringkih, rumit, dan terhimpit
Ada bahagia, tidak bahagia
Ada di sini ada di sana
Ditikam-tikam rasa

Kita berjalan saja masih, terus berjalan
Meskipun kita tak tau berapa jauh jalan ini nanti
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak

Lagu Pejalan (Sisir Tanah)

Kita adalah manusia yang diciptakan untuk melalui perjalanan. Bersama riang, ringkih, rumit, diam, riuh, ragu, bahagia dan tidak bahagia serta semua rasa yang ditakdirkan menemani perjalanan. Trek kita sebenarnya lurus, hanya kita tidak tahu seberapa jauh. Jika arah kita mulai menyerong, seretlah kaki ini agar lurus kembali. Jika jalan kita mulai berhenti, maka percayalah Dia menunggu kita melanjutkan. Dan jika jatuh, sadarilah bahwa kita masih punya kesempatan untuk bangun lagi. Kita bukan penentu akhir, kita adalah pejuang dalam perjalanan. Kita bukan pula pejuang yang selalu tangguh, tapi selama kita punya tekad untuk bertahan taat maka selamanya kita tidak akan rela tunduk pada jarak.

Akhir dari perjalanan ini adalah rahasia. Berapa lama lagi kita berjalan adalah rahasia. Tapi bagaimana caranya melalui perjalanan ini adalah tidak rahasia. Kita sudah dibekali dengan pesan untuk selalu meminta petunjuk ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, dan bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Quran Surat Al-Fatihah ayat 6-7 (sumber: https://litequran.net/al-fatihah)

Untuk teman-teman seperjalanan, semoga kita tetap kuat dalam menikmati perjalanan ini.

Salam dari pejalan yang sedang berjalan lambat dan ingin berlari lagi,

Venessa Allia


Note: Lagu Pejalan adalah sebuah karya milik Sisir Tanah. Awalnya saya kira Sisir Tanah adalah sebuah band, ternyata hanya satu orang. Dari awal mendengar lagu ini, saya sudah suka dengan melodi dan liriknya. Saya memaknai lagu ini sebagai cerita perjalanan manusia yang tidak mau menyerah. Dan memang begitu kita diciptakan Allah untuk bertahan dan tidak menyerah. Kata @quranreview, ayat Quran itu ada dimana-mana. For this time, i found it on this song. Masya Allah.

Tujuh Belas Hari

Foto ini adalah tribute untuk semua tenaga medis dan non medis yang musti pakai masker sepanjang waktu

Hari ini tepat hari ke-17 sejak kali pertama social distancing berlaku bagi diriku sendiri. Hari ke-17 sejak secara resmi diminta kerja dari rumah dan tidak keluar rumah kecuali benar-benar butuh. Kalau situasinya normal, 17 hari biasanya berlalu dengan kilat. Tapi belakangan ini, waktu seakan-akan melambat.

Biasanya aku suka waktu yang berjalan lambat. Santai. Tenang. Nggak capek. Seringnya aku benci menyadari betapa cepatnya hari berganti. Tapi tidak kali ini. Minggu malam yang berbeda karena 17 hari berlalu dan rasanya lama sekali. Corona berhasil menyalakan tombol ‘pause‘ pada aktivitas manusia bumi yang bergerak ‘fast forward‘. Aku selalu menganggap bahwa wabah ini adalah topik ujian yang sama untuk sebagian besar penduduk dunia. Topik ujian boleh sama, tapi soal ujian bisa beda-beda. Ada yang diuji karena positif Covid menjadi takdirnya, atau takdir orang yang ia cintai. Ada yang diuji dengan kehilangan teramat dalam. Ada yang diuji karena kondisi ini membuat nafkahnya tak selancar biasa. Ada yang harus menahan diri karena tak bisa bertemu keluarga, tak bisa pulang kampung. Ada yang terkurung di rumah, tapi ada juga yang tidak bisa pulang ke rumah.


Sekolompok orang ada yang udah setengah gila karena mendekam di kosan sendirian. Cukup banyak juga yang tersiksa karena situasi ini mengacaukan semua rencana yang sudah disusun sejak lama. Ada yang sedang menunggu pertemuan atau kesempatan berharga lainnya dan khawatir akan penundaan yang entah sampai kapan. Kelompok lain, mereka yang hidupnya relatif lancar tapi sudah mati bosan atau rindu pada kehidupan pra-corona.

Untukku, masa ini sudah berjalan 17 hari dan aku tidak berani bertanya sampai kapan ini semua harus terjadi. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya wabah ini bisa selesai. Aku setuju bahwa realistis itu perlu. Tapi terhadap kasih sayang dan kekuasaan Allah, aku memilih untuk berhenti menggunakan otak dan rasa, lalu membiarkan iman yang bekerja. Kata Ustad Omar Sulaeiman, menjadi Muslim itu artinya harus punya ‘healty balance between hope and feel‘.

Satu hal lagi, percayalah bahwa aku, kamu, kita dan mereka adalah manusia-manusia terpilih yang dikehendaki-Nya mengalami ini semua, dan ini bukan kejadian biasa. Daruratnya bisa sampai mengalahkan kewajiban laki-laki solat jamaah di mesjid, karena menghindari mudarat lebih utama. Semoga kejadian spesial ini berhasil membuat kita juga menjadi lebih spesial di hadapan-Nya.

Semoga setelah ini ada rentang kesabaran yang bertambah, level kesyukuran yang meningkat, serta jiwa kepasrahan yang semakin kuat karena sadar betapa lemahnya kita sebagai manusia.

Semoga kita sama-sama lulus ujian ini dengan nilai yang memuaskan :).

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah.

Salam,

Venessa Allia

Berdoa Terus

Disclaimer: Tulisan ini ditulis tanggal 1 Maret 2020, hanya baru disalin ke blog hari ini.

Baru beberapa hari yang lalu, dipicu oleh post seorang teman di IG yang membahas adab doa ketika sujud, saya browsing via Yufid soal sebenernya doa yang benar waktu sujud itu seperti apa.

Lalu hari ini, randomly seorang teman WA juga bertanya soal doa, tentang kebiasaan berdoa, tentang waktu mustajab untuk berdoa.

Lalu malamnya, nonton lecture Ustad NAK judulnya “Lets Pray for The Oppressed”, bisa dibilang 50% isi kajiannya juga bahas terkait doa. Anyway, ini kajiannya bagus banget, buat saya pribadi ini memberikan perspektif berbeda tentang kekerasan yang dialami umat muslim di India. Pernah nggak kepikiran bahwa apa yang terjadi di sana bisa jadi karena dosa yang kita (including myself of course) lakukan di sini. Karena pada prinsipnya umat ini satu tubuh. Ibarat manusia makan unhealty food, makannya pake mulut, tapi yang jadi sakit bukan mulutnya, melainkan jantungnya. As Ustad said, it is time to us (all of us) to repent and back to Allah.

Tiga kejadian berturut-turut berhubungan dengan doa. Doa, doa dan doa.

Doa.
Entah bagaimana saya percaya, setiap percakapan manusia kepada Allah adalah doa.
Ketika mengeluh, “Ya Allah, sakit sekali”. Ketika bahagia, “Ya Allah, senang sekali”. Ketika bertanya, “Ya Allah,mengapa?” Ketika berharap, “Ya Allah, kumohon.”
Saya ingat seorang guru pun pernah berkata bahwa ruh manusia punya akses langsung kepada Tuhannya.

Doa.
Ada adab, ada cara. Mempelajarinya adalah obligasi karena Tuhan sudah berikan kita akal dan kemampuan.
Tapi sebelum itu, ada tauhid yang utama.
Bahwa berdoa hanya kepada satu Tuhan saja, Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana para pemuda Al Kahfi yang belum tahu mana halal mana haram, tapi sudah yakin pada kesimpulan bahwa beribadah hanya kepada satu Tuhan.

Doa.
Semata-mata menunjukan ketidakberdayaan manusia, meruntuhkan semua kesombongan. Hanya Allah yang Berkuasa. Kita manusia tidak bisa apa-apa. Semua ada karena Allah yang berikan, kita minta atau tidak, Allah yang berikan.

Doa.
Semurni-murni ibadah, dan bukankah hanya untuk itu manusia diciptakan? Pada akhirnya saya berkesimpulan, setiap kesulitan sebenarnya dirancang agar manusia mau kembali kepada Allah, berdoa dan berdoa lagi. Ibadah dan ibadah lagi.

Doa.
Dulu pernah kepikiran, apa nggak capek berdoa terus? Kelemahan ini sekarang justru menyadarkan bahwa berdoa kepada-Nya adalah kebutuhan. Berdoa memberikan kepercayaan. Berdoa memberikan kekuatan

Doa.
Panjatkan doamu ke langit.
Bisikan dalam hatimu yang paling tulus.
Keluarkan semuanya, semuanya.
Sampaikan pada-Nya bahwa dirimu resah.
Bahwa kau nyaris putus asa.
Biarkan air matamu jatuh saking kau tidak berdaya.
Memohonlah pada-Nya, hanya pada Allah.
Tidak ada yang lebih nikmat dari meratap kepada Allah. Hanya kepada-Nya kamu berserah diri.


Berdoalah sebanyak kamu mau.
Berdoalah di setiap kesempatan yang kamu miliki.
Rasakanlah, betapa manis doa dan pasrah mengiringi keras dan letihnya usaha.

Sungguh.
Allah dengar, Allah lihat, Allah tau persis.
Berdoalah. Berdoa lagi. Berdoa terus.

P.S
Jangan lupa doain saya ya 🙂

Inner Peace

Hai, halo, assalamualaikum,

untuk memulai tulisan ini saya ingin bilang bahwa..

Pengalaman-pengalaman selama bulan November ini mungkin bisa membuat saya menulis hingga besok pagi.

Yang mana hal itu tidak mungkin saya lakukan karena of course I need sleep, dan saya punya PR dari Ustad Nouman Ali Khan. Ustad Nouman Ali Khan ini siapa dan kenapa saya bisa punya PR dari beliau..yeah long short story, saya ikut program belajar bahasa Arab Al Quran bersama beliau tanggal 20-28 November 2019 sehingga sebagai kelanjutan dari progamnya, ada tugas review yang haru saya kerjakan. Anyway, nama program yang saya ikuti adalah Indonesia Dream Worldwide (IDW). I need special page to share this gold experience.

Moreover, I also want to share my “Terang Camp” experience, which is also phenomenal. Ngomongin Terang Camp juga harus satu page sendiri nih, abundant story, hehe. Beneran deh, saya bener-bener harus banyak bersyukur, November ini luar biasa karena Allah izinkan saya ikut banyak kegiatan yang luar biasa juga. Kegiatan yang kasih makanan buat hati saya, as well as memperkaya pemahaman saya.

Sampai bingung mau mulai dari mana.

Okelah, saya mulai dari pengalaman IDW yang paling berhubungan dengan apa yang saya pikirkan dan rasakan malam ini. Sebagai pengantar, untuk siapa saja yang belum tau siapa itu Nouman Ali Khan, ada baiknya cari nama dia di Youtube, kamu akan dapatkan banyak video ceramah atau kuliah beliau (mostly dari channel beliau, Bayyinah Insititute). Beliau adalah seorang moslem scholar yang mengkaji Al Quran dari sisi linguistik. Menarik kan? Udah lupa sih kapan pertama kali tau beliau, tapi dari kali pertama saya nonton videonya, sampai hari ini alhamdulillah selalu dapat banyak hikmah. Ustad Nouman sering kasih sudut pandang yang saya jarang temukan di tempat lain, dan sumbernya juga jelas banget lagi, Quran. I really really really recommend all of you to watch his lecture. Go to Youtube!

Berbekal dari sering nonton beliau di Youtube, baca bukunya, selalu datang kajian beliau di Indonesia (jadi sejauh ini beliau udah 3x ke Indonesia) , saya memutuskan ikut program IDW tersebut (aslinya sih sempet galau ini itu dulu, biasalah godaan syaiton). Program IDW ini intinya adalah belajar bahasa Arab untuk dapat memahami Al Quran secara langsung tanpa harus tergantung dengan tranlasi bahasanya, sehingga dapat terkoneksi langsung dengan Quran a.k.a Allah‘s word. Menariknya selama3 jam setiap harinya, Ustad Nouman Ali Khan nggak cuma kasih kita materi soal bahasa Arab (grammar dan vocab), tapi lebih dari itu, beliau juga sharing tentang mukjizatnya Al Quran, baik dari sisi tata bahasanya, strukturnya, maupun kontennya. Malam ini saya ingin sekali berbagi tentang salah satu bahasan yang beliau sampaikan di kelas (entah kelas hari yang ke berapa). Sebuah fakta menarik soal inner peace.

Nggak peduli seberapa kacaunya situasi yang dihadapi right away di depan mata. Nggak masalah seberat apapun kesulitan yang diderita , tapi yang namanya kedamaian akan selalu bisa dirasakan dari dalam hati, apapun kondisinya.

ekstrak-ekstrak ilmu yang saya dapat dari Ustad Nouman pas IDW

Kebayang ga maksudnya?

Awalnya saya pikir, kedamaian hati manusia itu pasti akan terkait dengan masalah hidupnya. Jadi manusia akan hidup tenang selama nggak punya masalah. Manusia yang masalahnya relatif berat (menurut standar sosial pada umumnya) akan sulit mendapatkan ketenangan. Contoh sederhana, saya nggak habis pikir bagaimana orang-orang yang dalam kondisi perang (muslim Palestina misalnya) bisa merasakan ketenangan dan tersenyum. Kayaknya logis banget kalau menyatakan bahwa hidup mereka 100% nggak akan bisa merasakan tenang dan damai, ya orang tiap saat serangan bom dan senjata bisa mendarat di atas kepala.

Tapi ternyata kata Ustad Nouman, Quran nggak bilang begitu. Faktanya adalah setiap manusia itu pasti mengalami ujian dari Allah, dan ujiannya itu bisa berbeda-beda, kadar berat ringannya sudah Allah takar sendiri, and the most beautiful thing is.. ujian manusia itu nggak berhubungan sama ketenangan di dalam jiwanya. Jadi, mau bagaimanapun kondisi di luar diri sendiri seseorang, dia selalu bisa merasakan inner peace, asal.. inget sama Allah. Jadi kedamaian dan ketenangan hati itu ternyata semata-mata berhubungan dengan seberapa dekat manusia sama Allah. This concept actually makes many things become easier to accept and more logical also.

Tau nggak kenapa saya kepengen banget sharing tentang hal ini?

Karena baru saja beberapa jam yang lalu saya dapat kabar dari grup alumni di WhatsApp, seorang teman “tiba-tiba” terdiagnosa kanker stadium 3. Saya yang dapat kabarnya bukan cuma kaget, tapi langsung aja kebayang bagaimana paniknya dia dan keluarganya. Singkat cerita, teman tersebut muncul di grup, say thanks karena sudah banyak yang mendoakan, dan share tulisan dia di blognya yang bahas tentang dia dan kankernya ini.

Dan dari baca blognya aja, saya merasa kok dia damai banget yaaaaa.

Beneran langsung inget lecture-nya Ustad Nouman. Nggak peduli circumatances di luar diri manusia seperti apa, manusia selalu akan bisa menemukan ketenangan.

Yang dia tulis di blognya bukan keluhan, bukan pula kronologi penyakitnya. Hanya ada sedikit cerita tentang kankernya, dan info bahwa sebentar lagi dia akan mulai kemoterapi. Sisanya adalah rasa syukur bahwa di dalam ujiannya tersebut Allah berikan support system yang luar biasa, juga penghargaan kepada semua orang yang telah menunjukan perhatian, dan yang paling bikin saya merenung adalah penerimaannya bahwa yang penting adalah bisa lebih dekat lagi sama Allah.

No wonder, he found his inner peace.

Buat saya ini pelajaran penting, karena mematahkan teori yang sering saya dengar dari banyak orang. Ternyata ketenangan hidup itu bukan perkara berat dan ringannya masalahnya, tapi perkara jauh dekatnya manusia dengan Tuhan. Manusia sering kali mencari bahagia, padahal sebenarnya yang dia cari adalah ketenangan, dan untuk itu tidak ada alasan untuk menjauh dari Allah. Come closer to Him.

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah.

Siapa Berani jadi (C)PNS? (Part 2)

Hi guys! (tolong dibaca ala vlogger Youtube)


Kalau kamu sampai ke halaman ini, saya anggap kamu sudah membaca tulisan saya sebelumnya, artinya kamu sudah meluruskan niat dan siap jadi PNS terbaik. Kalau belum, saya mohon untuk kamu untuk membaca dulu tulisan saya sebelum ini, supaya kamu tidak buang-buang energi ikut rekrutmen padahal nggak siap atau nggak suka dengan pekerjaan PNS itu sendiri.


Oke, sip! Let’s make it fast.
Berdasarkan pengalaman merasakan sendiri seleksi CPNS di Kementerian ESDM dan ngobrol dengan beberapa teman, saya ingin berbagi beberapa hal. Sekali lagi ini bukan informasi teknis, kalau yang teknis, silahkan baca di website atau media sosial kementerian/lembaga (K/L) yang kamu minati. Jangan males baca!


1. Seleksi CPNS dimulai dari seleksi administrasi.

Sangat sederhana, kamu cuma harus unggah dokumen, submit dan tunggu pengumuman. Yang harus diunggah juga nggak ada yang aneh-aneh amat: Ijazah dan transkrip (nggak boleh surat keterangan lulus ya, harus ijazah asli), nilai TOEFL terbaru, surat pernyataan, dan lain sebagainya sesuai syarat K/L atau pemerintah daerah yang buka formasi. Kayaknya selagi dokumen yang kamu unggah sudah benar dan lengkap, dan sesuai dengan syarat administrasi, harusnya bisa lulus sih tahap ini. Saya nggak tau apakah ada faktor lain yang bisa bikin nggak lulus seleksi administrasi. Jadi yaa pastikan saja men-submit semua persyaratan setelah yakin benar dan lengkap. Seinget saya kalau udah submit nggak bisa di-cancel deh. Untuk menghindari faktor-faktor non teknis, sebaiknya juga jangan mepet-mepet amat submit-nya.

2. Kalau ada syarat administrasi yang kurang jelas, jangan sungkan untuk bertanya ke K/L tersebut.

Mereka pasti punya call center. Dulu saya sempet ingin apply di Bappenas, tapi ada persyaratan yang kurang jelas, lalu saya coba WA nomor call center yang tertulis di pengumuman, dan mereka cukup fast response kok. Kalau ada yang nggak jelas, mendingan ditanya daripada berkesimpulan sendiri.


3. Kalau udah lulus tahap administrasi, maka kamu akan memasuki tahap seleksi Tes Kompetensi Dasar dengan sistem Computer Assisted Test (CAT).

Nah menurut saya bagian paling susah dari tes CPNS adalah CAT ini, karena sistemnya efektif mengeliminasi banyak orang, hehehe. Kalau saya sih menyarankan kamu untuk belajar sebelum CAT, walaupuuun ada aja sih manusia-manusia beruntung yang lulus CAT tanpa belajar. Saya sendiri termasuk kelompok yang belajar sebelum CAT, karena dari dulu saya nggak pernah bisa cukup percaya diri untuk ikut ujian (apapun) tanpa belajar sama sekali. Buku-buku soal tes CPNS yang banyak dijual di toko buku itu membantu kok. Pilih buku yang ada rangkuman materinya, terutama untuk bagian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), jadi sambil ngerjain soal bisa sambil baca-baca materi. Rata-rata temen saya yang nggak lulus CAT itu gagal di bagian TWK, jadi mungkin butuh extra effort untuk belajar TWK. Senior saya di kantor pernah bilang, soal CAT itu tiap tahun sebenarnya berulang. Mungkin benar, tapi masalahnya kemungkinan soalnya itu ada banyaaaak bangeeet. Kalau saya nyaranin untuk belajar materi UUD 1945 termasuk amandemennya karena soal-soal kayak gitu sering banget keluar. Ohiya simulasi CAT di website BKN juga bisa dicoba tuh, cukup membantu.
Kalau tahun lalu (2017), yang lulus CAT itu sejumlah kebutuhan formasi dikali tiga. Jadi kalau formasi yang kamu inginkan itu butuh dua orang, maka yang lulus CAT paling banyak adalah 6 orang. Saya lihat di pengumuman CPNS ESDM, syarat tersebut masih sama (nggak tau kalau di K/L lain ya, tapi mungkin sama). Aturan ini membuat lulus saja tidak cukup tapi nilai kamu juga harus bisa setinggi-tingginya supaya masuk rangking. Saran saya adalah cari nilai sebanyak-banyaknya dari Tes Karakteristik Pribadi (TKP), karena menurut pengamatan saya merhatiin soal TKP di buku latihan soal, jawaban-jawaban TKP yang nilainya 5 itu ada cirinya. Coba kerjain soal-soal TKP di buku jadi bisa membayangkan tipe-tipe jawaban yang nilainya 5 supaya bisa dapat skor setinggi-tingginya. Sebisa mungkin raih nilai tinggi disini karena rada suram kalau ngarep nilai tinggi dari TWK, hehehe. TWK itu punya kemungkinan soal yang random dan banyak. Saya inget banget waktu itu dapat soal tentang UU Agraria, yang mana saya tidak tahu sama sekali jadi nebak deh jawabnya. Seleksi TKD itu memang tidak bisa menjaring kompetensi teknis kamu, jadi mau kamu punya kompetensi sebaik apapun, seleksi ini memang tidak akan bisa melihatnya karena (kayaknya) tujuan TKD memang bukan buat itu, tapi untuk mengeliminasi banyak orang melalui mekanisme yang fair menjadi beberapa orang terpilih yang untuk selanjutnya akan disaring berdasarkan kompetensi.

4. Sabar

 Ini nasihat umum tapi penting banget. Tes CPNS itu beda dengan saat kamu seleksi kerja di swasta. Tes ini diikuti lebih banyak orang. Namanya kegiatan yang melibatkan banyak orang, pasti ada banyak keinginan dan banyak hal yang harus diurus. Jadi ya sabar aja. Ikuti aja aturan mainnya. 

5. Jangan pernah berpikir untuk mainan duit supaya lolos seleksi.

Kalau kamu masih kepikiran hal-hal kayak gitu, maka otak kamu perlu di upgrade karena udah ketinggalan zaman setidaknya 20 tahun. 

6. Kalau udah lulus SKD, maka selanjutnya adalah SKB.

Di sini saya tidak punya tips khusus selain jaga kesehatan, jaga kewarasan dan banyak-banyak berdoa. Pokoknya ikutin aja aturannya dan lalukan yang terbaik. Inget, prinsip “let God do the rest” itu baru berlaku kalau kamu udah “do your best”.

Okee, semoga bermanfaat. Silahkan jika ada yang ingin ditanyakan, semoga saya punya jawaban, hihi.Untuk kita semua yang lagi mengusahakan apapun itu dalam hidup kita, semoga Allah meridhoi usaha kita.  Stay positive guuuys!

Salam,

Venessa Allia

Siapa Berani jadi (C)PNS? (Part 1)

Jauh sebelum 19 September 2018 ketika banyak banget kementerian, lembaga dan pemerintah daerah membuka formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), beberapa teman mengontak saya dan nanya-nanya soal proses seleksi CPNS serta apa aja yang harus dipelajari. Saya jadi kepikiran, mungkin ada manfaatnya kalau saya nulis sedikit tentang pengalaman rekrutmen dulu. Beberapa informasi informal yang sifatnya based on experiences. Kalau soal teknis mah baca aja di pengumuman resmi kementerian/lembaga (K/L) yang buka lowongan. Zaman sekarang pemerintah juga udah melek media sosial, dan secara umum menurut gue media sosialnya sudah difungsikan dengan baik, termasuk terkait pengumuman atau FAQ rekrutmen. Ohiya, sekali lagi tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saat gue berproses di rekrutmen CPNS Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Setiap K/L bisa punya proses rekrutmen dan syarat yang berbeda, walaupun secara garis besar alurnya akan sama karena sudah diatur oleh Badan Kepegawaian Negara. Jadi yaa jangan lupa baca secara teliti syarat dan proses rekrutmen CPNS K/L yang kamu mau yaa.


Tapi sebelum ituuuu, sebelum kamu mulai mempersiapkan semua dokumen persyaratan. Ada baiknya kamu tanya dulu sama diri sendiri. Beneran mau jadi PNS? Udah siap jadi pemerintah yang selalu dituntut dapat membuat kebijakan? Udah siap masuk hutan birokrasi yang tidak semudah itu direformasi?


Berdasarkan 8 bulan pengalaman jadi CPNS, ada beberapa poin konsiderasi yang menurut saya layak untuk dipikirkan sebelum kamu mulai capek-capek mengikuti proses rekrutmen. Kenapa hal ini harus dipikirkan sejak awal, karena menurut saya, ikutan proses seleksi itu artinya kamu harus siap kalah sekaligus siap menang. Kalau kalah, ya yakini saja bahwa usaha yang dilakukan dengan ikhlas adalah ibadah yang akan dihargai Tuhan. Kalau menang, hmmm siap-siap ada konsekuensi dalam kemenangan.

Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, beranikah kamu…

1. Menjadi pegawai negara yang kerjaannya menjadi sorotan dan bisa jadi bahan berita semata-mata karena gaji lo tuh dibayar dari uang pajak rakyat?

Saya ambil contoh, perkara PNS dapat THR yang lebih besar aja jadi berita di media, kalau di swasta, kamu mau dapet THR sepuluh kali gaji juga siapa yang peduli? Hehehe. Kalau nggak siap atau nggak suka, pikir-pikir lagi.

2. Menjadi pegawai negara dengan gaji pokok dan tunjangan yang nilainya bisa kamu lihat di Peraturan Menteri Keuangan.

Sebelum kamu memutuskan mau melalui proses rekrutmen, ada baiknya kamu tau soal berapa sih gaji PNS itu. Emang sih PNS itu gajinya bukan single salary kayak di swasta, ada pendapatan yang sifatnya variabel kayak uang saku dari perjalanan dinas, honor tim, honor kalau suatu hari jadi narasumber, THR dan gaji-13. Tapi yaa itu sifatnya variabel, tergantung kebijakan yang berlaku saat itu, artinya bisa berubah, bisa ada, bisa nggak ada, bisa sedikit, bisa banyak. Memang sih, perkara rezeki itu bukan hanya gaji, dan datangnya bisa dari mana aja. Saya pun bisa hidup sampai sekarang salah satunya karena ayah gue seorang PNS, dan alhamdulillah hidup sejahtera. Tapi karena saat ini saya lagi ngomongin soal pekerjaan untuk nafkah dan/atau untuk hidup mandiri, maka saat ini saya berbicara rezeki dalam konteks yang sangat sempit yaitu gaji. Intinya, sejauh yang saya lihat, pekerjaan ini memang memberikan stabilitas pendapatan, tinggal pinter-pinter aja ngaturnya. Tapi kalau kamu masih punya mimpi punya pekerjaan yang bisa bikin kamu pakai baju branded from head to toe, sering-sering liburan ke luar negeri saat long weekend atau dinner di rooftop restaurant Jakarta setiap malam minggu, kayaknya ini bukan pekerjaan yang cocok deh. Coba pertimbangkan lagi opsi pekerjaan lainnya. Entah kenapa menurut saya penting untuk menyampaikan hal ini. Karena kalau dengan mimpi setinggi itu lo maksa jadi PNS, terus waktu udah jadi PNS (amit-amit) memanfaatkan segala cara untuk dapat uang sebanyak-banyaknya, wah bahayanya dunia akhirat.

3. Kerja dalam sistem birokrasi yang tidak sederhana dan formal.

Jujur ya, awal-awal saya shocked waktu tau kalau untuk komunikasi antar Sub Direktorat aja mekanismenya harus lewat surat. Walau lama-lama terbiasa juga sama urusan surat menyurat ini. Hal-hal kayak begini, dulu saya nggak tau sama sekali, makanya sekarang saya ingin sharing bahwa sekalinya kamu jadi birokrat, bersiaplah dengan cara komunikasi yang birokratis. Bukan berarti pemerintah nggak boleh pakai email yaaa. Email sih ada dan difungsikan juga. Cuma yaaa tetep ada hal-hal yang harus disampaikan secara resmi lewat surat. Buat saya yang dulu pernah kerja di swasta, dan nggak pernah sama sekali bikin surat, agak kaget juga dan merasa ribet banget. Tapi setelah 8 bulan, udah biasa aja sih sekarang. Nah jadi, kalau kamu tipe orang yang nggak suka sama urusan administratif dan formal, yaaa pikir-pikir lagi kalau mau jadi PNS.

4. Melek regulasi.

Apapun formasi yang kamu lamar, namanya pegawai pemerintah ya harus paham, atau setidaknya tahu regulasi dari pekerjaannya. Karena fungsi pemerintah adalah sebagai regulator. Saya dulu setiap disuruh baca Peraturan Menteri bawaannya ngantuk, sekarang masih ngantuk sih, hahaha, tapi mendingan lah, sudah lebih terbiasa baca regulasi. Di formasi yang spesifik pun, kayak peneliti atau dosen, penting untuk paham tentang dasar hukum dan regulasi yang terkait dengan lembaga atau pekerjaannya. Hal-hal seperti ini nggak pernah saya jumpai di pekerjaan gue yang lama. Kayaknya dulu kalau soal regulasi ya diserahkan saja ke bagian Regulatory. Jadi PNS juga harus punya sense untuk berpikir makro, kalau nggak suka akan hal itu, yaa pikir-pikir lagi.

5. Menjadi pelayan publik.

Kalau masih mikir jadi PNS itu artinya kamu akan jadi raja yang dilayani, udah nggak usah ikut rekrutmen sekalian. Sebenarnya sih mental sok raja kayak gitu juga nggak akan berguna di mana pun kamu bekerja. Bukankah bekerja itu artinya kamu memberikan serviceCustomer-nya saja yang bisa beda-beda. Ohiya, kalau kamu masih punya niatan untuk gabung di partai politik, nggak usah capek-capek ikut seleksi ya, ngeribetin panitia aja, karena PNS nggak boleh gabung di parpol.          

Coba pikirkan dulu lima hal tersebut. Gue katakan itu semua karena saya percaya kalau umur kamu udah memenuhi syarat daftar PNS, artinya kamu sudah dewasa. Dewasa artinya berpikir sebelum memutuskan, dan bertanggung jawab dengan konsekuensi dalam setiap pilihan. Walaupun memang sih, tidak semua hal bisa kita prediksi dari awal, termasuk konsekuensi dan keadaan yang berubah. Semoga pilihan kita tidak membuat kita menjadi merugikan orang lain, apalagi menjadi egois.


Saya percaya bahwa sebenarnya setiap keputusan manusia itu dikendalikan oleh value yang dia pegang, termasuk dalam perkara memilih pekerjaan. Anyway, pengalaman bekerja saya hingga sejauh ini (beberapa tahun di perusahaan FMCG yang punya banyak leading brand, beberapa bulan di salah satu well known multinational consulting dan beberapa bulan sebagai CPNS di Kementerian yang ngurusin industri migas tanah air) sudah membawa saya pada keputusan bahwa kerja di mana aja itu sama, karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangan, nggak ada yang sempurna. Jadi bagi saya sekarang pilihannya balik lagi ke value apa yang saya pegang, apa yang saya suka dan apa yang menurut saya penting, itu semua menjadi alasan saya memilih dan bertahan dengan pilihan.

Coba luangkan waktu untuk ngobrol sama diri sendiri. Apa sih yang menurut kamu penting dalam memilih pekerjaan? Mungkin saya punya sedikit panduan:


a. Kalau value tertinggi kamu adalah uang, kayaknya kamu harus berpikir ulang apakah kamu cocok menjadi PNS. Sebenarnya sih kamu juga harus berpikir ulang juga apakah value yang kamu pegang sudah benar, hehehe. Mengutip perkataan Ustad Nouman Ali Khan dalam kajian beliau di Youtube yang berjudul Choosing Career, 

“The world needs more than just people that make money.”

Ustad Nouman Ali Khan

b. Kalau kontribusi pada bidang strategis yang berhubungan dengan hidup banyak orang adalah value penting bagi kamu, maka ya, menjadi PNS adalah salah satu cara yang baik.
c. Kalau kamu suka networkingdefinitely yes jadilah PNS! Sejauh yang saya amati, salah satu bagian terbaik dari menjadi PNS adalah punya jaringan yang luas.
d. Kalau kreativitas adalah value yang penting buat kamu, sejujurnya saya tidak merekomendasikan kamu menjadi PNS. Bukan berarti jadi pegawai pemerintah itu tidak bisa kreatif. Ruang berkreasi itu ada, tapi sejauh pengamatan saya, tidak sebanyak (atau seliar) saat gue bekerja di swasta. Mungkin kamu lebih cocok kerja di start-up company yang lebih agile dan flexible.  
e. Kalau kamu ingin kerja yang santai-santai aja, jangan jadi PNS, jangan kerja di swasta, BUMN, atau manapun juga. Inget nasihat Imam Syafii,

Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup hanya ada dalam kerja keras

Iman Syafii

Be honest. Ask yourself. Ask God to guide your decision. Trust Him, Dia yang Maha Benar. Tulisan saya ini juga pasti banyak salahnya. Apa yang saya tulis, murni dari pengalaman dan pengetahuan saya yang masih cetek banget. Maaf banget kalau kesannya sok tahu. Silahkan jika ada yang ingin melengkapi atau menambahkan, feel free untuk sharing yaa 🙂


Soal pengalaman rekrutmen, dan beberapa info non teknis lainnya, tunggu di tulisan selanjutnya.

Stay positive!

Salam,

Venessa Allia

Hidup Tanpa Target

“Saat ini gue lagi di tahap nggak punya target apa-apa sih”

Kurang lebih, kalimat itulah yang saya ucapkan beberapa jam yang lalu dalam suatu obrolan bersama beberapa teman di meja makan. Entahlah, saya nggak tahu apa mungkin ini ciri-ciri penuaan yang membuat semangat berprestasi menyusut. Secara usia, umur saya masih muda, walau udah bukan ABG sih, tapi terlepas dari ketidaktahuan saya soal jatah umur yang Tuhan kasih untuk saya, usia produktif saya juga masih panjang banget.Achievement lock or unlock, rasanya sudah tidak terlalu penting lagi.
Yang terjadi adalah, in term of career, pendidikan dan pencapaian, saat ini ingin saya lepaskan semuanya. Bener-bener hidup untuk detik ini, menikmati apa yang ada di depan mata, mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan, tanpa terlalu merisaukan yang terjadi di kemudian hari. Berusaha memberikan yang terbaik untuk kondisi saat ini, bukan karena ingin yang lebih baik di masa depan, tapi karena sudah semestinya usaha terbaik itu dilakukan.


Keinginan seperti ini tentunya bukan serta-merta terasa, tapi hasil dari rangkaian kejadian yang sering membuat saya terkesima sendiri.
Apa yang dulu sekali pernah terbayang, benar-benar dikabulkan Tuhan setelah bahkan keinginan tersebut sudah saya kubur dalam.
Apa yang benar-benar saya harapkan dan doakan, tidak dikabulkan oleh Tuhan lewat cara dan jawaban yang manis.
Apa yang tidak pernah saya bayangkan, menjadi sesuatu yang benar-benar saya usahakan dan Tuhan kabulkan.
Pengalaman-pengalaman ini yang membuat saya jadi mikir, “Yaudahlah ya, apa yang ada sekarang, jalanin aja sebaik-baiknya, sambil didoain. Insya Allah jalan kebaikan akan terbuka, dan nanti juga akan tahu harus gimana”
Pikiran itu juga yang membuat saya nggak terlalu ngoyo lagi. Dari dulu udah ingin sekali berhenti sok tahu tentang apa yang paling baik untuk diri sendiri. Kayaknya baru sekarang bisa memahami apa itu pasrah, kenapa pasrah itu penting, dan bagaimana kepasrahan itu berhubungan langsung dengan ketenangan dan pertolongan Tuhan. Yah, memang ada hal-hal yang perlu proses panjang dulu sih baru bisa beneran paham.

Sekarang, kalau pun ada target, biarlah target itu menjadi rahasia saya bersama Tuhan. 

Ada satu lagi pemahaman baru yang Tuhan anugerahkan untuk saya, jika harus ada target dalam kehidupan yang sementara ini, targetnya haruslah besar dan abadi, dan target terbesar itu hanya satu: Surga. Untuk target yang satu ini, tanpa kompromi selama sisa hidup saya, saya harus memperjuangkannya, apapun caranya.

Stay positive ya 🙂

Salam,

Venessa Allia

P.S: Tulisan ini ditulis di salah satu kamar di Wisma PPSDM Aparatur (dulu disebut sebagai Pusdiklat Geologi), kenapa saya bisa ada disini juga bagian dari skenario Tuhan yang bikin saya terkesima. Nanti pada waktunya saya cerita yaah.