Orang Baik Butuh Panggung

Hai semua, lama tak jumpa. Kali ini saya ingin cerita sesuatu.

Baru sejak 2 bulan yang lalu saya membantu tim humas sebuah komunitas bernama @ASNation sebagai content writer. Sesuai namanya, komunitas ini isinya ASN semua (Aparatur Sipil Negara, sinonimnya PNS, yang ini nggak usah gue panjangin pasti udah tau kan singkatannya). To be précised, komunitas ini merupakan kumpulan ASN alumni Universitas Indonesia yang punya misi bahwa ASN itu harus saling berbagi dan menginspirasi. Singkat cerita, takdir membawa saya kenal dengan founder ASNAtion, Pak Ahmad Luthfi, simply because he was my supervisor, wkwkw. Lalu kesuntukan pandemi Covid-19 ternyata mendorong saya untuk melakukan hal-hal yang berbeda. Yaudah karena diajakin juga, saya pun memutuskan bergabung dan membantu tim humas untuk menulis di sebuah rubrik Instagram @ASNation.id yang diberi nama #ASNHighlight.

Rubrik #ASNHighlight ini adalah sebuah konten Instagram berupa profil ASN berprestasi yang layak di-highlight. Yang saya lakukan dari mulai cari sosok ASN berprestasi tersebut, kontak orangnya, mintain datanya, interview singkat untuk kumpulin materi tulisan, lalu tulis dan kirim ke tim. Nanti akan ada yang melakukan proses editing dan release tulisannya. Nah, tantangan pekerjaan ini adalah di step paling pertama, yaitu mencari sosok ASN yang berprestasi. Bukan karena nggak ada, tapi karena saya nggak tau mereka ada di mana. Lack of information. Awal-awal sih masih cukup mudah untuk menemukan sosok-sosok yang layak di highlight karena berita tentang mereka tersedia, tapi karena ini konten mingguan, lama-lama saya kehabisan resource juga. Udah banyak banget akun Instagram Kementerian/Lembaga yang saya buka, berharap dapat informasi, but almost zero result karena konten mereka kebanyakan kegiatan pejabatnya. Ampun. Usaha-usaha sporadis pun dilakukan, tanya-tanya teman yang juga ASN, some of them give me recommendations. Tim humas yang lain juga membantu mencari informasi sehingga, alhamdulillah, kita tetap bisa mengeluarkan satu profil ASN yang memang layak di-highlight setiap minggunya.

Oke, that’s the story, tapi yang ingin saya sampaikan bukan hanya cerita pengalaman. Lebih dari itu, pengalaman ini membuat saya sadar kalau mereka, orang-orang yang sudah sangat baik bekerja untuk negeri ini, sering kali jauh dari spotlight dan kamera, padahal banyak diantara mereka yang layak sekali mendapat penghargaan. Bukan soal ikhlas atau riya, bukan soal pengen dilihat, tapi percaya deh merasa dihargai adalah salah satu kebutuhan manusia.

Lagipula bukankah orang-orang baik itu layak dinaikan ke atas panggung?

thealliaproject

Kalau panggung dunia ini tidak diisi oleh orang-orang baik, maka yang naik pentas adalah mereka yang gagal memberikan kebaikan. Sering nggak sih melihat media sosial terus ngerasa “Orang kayak gini kenapa harus dikasih panggung sih?”, atau sering juga saya dengar jargon “Stop making stupid people famous”.

Dengan perkembangan media informasi saat ini, sebenarnya mudah sekali kalau seseorang mau bikin panggung, tinggal perkara ada yang mau nonton atau nggak, kan? Platform-nya tersedia, konten yang baik pun banyak , lalu apa yang kurang? Meminjam istilah Pak Gita Wirjawan yang lagi sering saya tonton kanal Youtubenya.. yang kurang adalah naratornya.

Gue selalu lihat kalau Indonesia nih narasinya keren banget tapi naratornya kurang. Gue ingin ramu kepentingan kita untuk mengedepankan ilmu alam sama kepentingan kita untuk membuahkan narator sebanyak mungkin.

Gita Wiryawan

Kali ini saya cukup bangga dengan diri saya sendiri karena secara tidak sengaja berhasil sepikiran sama smart person kayak Pak Gita Wirjawan, hehehe. Negeri ini butuh lebih banyak narator yang bercerita tentang betapa baiknya negeri ini, termasuk manusia-manusia di dalamnya. Bukan untuk sombong, bukaaan. Tapi karena kebaikan memang perlu digemakan. Supaya menular, supaya jadi impuls untuk lebih banyak orang berbuat baik.

Kebaikan memang perlu digemakan.

thealliaproject

Ada fakta menarik yang baru juga saya ketahui beberapa tahun terakhir. Keputusan dan sikap manusia itu bukan serta merta tanpa alasan, tapi lahir dari informasi yang diterima oleh mata dan telinga. Jadi kalau manusia terbiasa dengan input informasi yang benar dan baik, maka output keputusan dan sikapnya pun akan benar dan baik. Vice versa. Di satu sisi, hal ini bikin saya sadar bahwa saya harus berhati-hati menjaga informasi yang masuk ke panca indera. Di sisi lain, saya pun merasa bertanggung jawab dalam setiap informasi yang saya berikan, karena output yang keluar dari diri saya, baik perbuatan maupun ucapan, adalah input informasi bagi yang lainnya.

Jangan tanya saya dalilnya apa, tapi yakinlah setiap dari kita bertanggung jawab untuk memberikan informasi yang berguna, yang baik, yang benar, yang inspiratif, apapunlah namanya. Meminjam quote Aryo Pamoragung, salah satu #ASNHighlight yang berhasil dapat penghargaan Top 3 Future Leader Anugerah ASN 2019,

Echo-kan hal baik ke seluruh penjuru negeri.

Aryo Pamoragung

Bismillah. Percayalah bahwa kita semua adalah narator kebaikan.

Terkahir, tulisan ini akan ditutup dengan sebuah doa yang tidak ada hubungannya sih sama narasi panjang di atas, tapi masih sangat valid untuk dipanjatkan saat ini: Semoga pandemi ini segera berlalu, gue kangen ketemu orang di luar Zoom, Webex dan Ms.Team.

Stay positive yaa.

Venessa Allia.

..

Anyway, bicara soal narator, mungkinkah menjadi narator adalah calling saya? Belakangan saya merasa kemauan dan kemampuan menulis yang Allah kasih ini, walau belum bisa saya monetisasi, tapi kayaknya ini jalan saya buat menunaikan tujuan hidup deh. Karena saya percaya, pasti ada alasan luar biasa baik mengapa Tuhan harus menciptakan saya di dunia (dan kamu juga).

Menulis adalah hal yang saya sukai, (cukup) kuasai dan Allah bukakan kesempatannya. I think this is my sweetspot. God, give me your guidance, I always need You.

Amateur Moderator: Biar Hidup Lebih Berwarna

Hai, assalamualaikum. Good morning everyone.

Pagi ini pengen deh cerita-cerita dikit. Udah lama kaan saya nggak cerita.

Masih di kehidupan episode pandemi corona, suatu hari ex-boss saya Whatsapp, intinya sih ngajak saya jadi MC/moderator untuk sebuah acara komunitas di mana dia menjadi foundernya. Sebenernya itu bukan WA pertama bahas komunitas tersebut, cuma ini ceritanya saya bikin singkat aja. Komunitas ini namanya ASNation. Terbaca dari namanya, kalau ini adalah komunitas ASN yang diinisiasi oleh ex-boss saya dan kawan-kawan UI-nya sesama ASN juga. Berdasarkan yang saya pahami, komunitas ini punya misi untuk jadi tempat ASN berbagi inspirasi ke sesama ASN atau masyarakat umum, juga sebagai sarana pengembangan diri. Menurut saya bagus ada sekumpulan ASN yang punya inisiatif seperti ini, they are taking responsibility to do more, to give more. Bentuknya juga komunitas, jadi cocoklah sama karakter orang Indonesia yang doyan guyub, haha. Lagian profesi ASN ini menurut saya citranya emang kaku banget, jadi perlu dibuat fluid dalam wadah komunitas yang bisa jangkau banyak orang tanpa harus ketabrak peraturan kanan kiri.

Oke balik lagi ke konteks judul di atas. Jadi my ex-boss nawarin saya jadi moderator untuk acara webinarnya ASNation. You know for sure, saya bukan profesional MC atau moderator. And I know for sure, kalau saya bukan anak doyan tampil. Tapi kondisinya saat itu, saya merasa bosan sekali dengan rutinitas sehari-hari. Work from home hampir setiap hari dan aktivitas weekend yang hampir sama bikin penat juga. Terus jadi kepikiran “kayaknya gue butuh ngerasain experience baru deh biar nggak bosen. Kayaknya gue butuh adrenalin tambahan biar hidup lebih berwarna”. And for that reason, I said yes. Hahaha.

Mantan bos saya tersebut juga bukan nawarin kesempatan itu secara random sih. Saya memang pernah beberapa kali jadi MC acara kantor, and apprarently for him I did well. Untuk saya sendiri, waktu awal menyanggupi sebenarnya setengah modal nekat juga, hihi. Apalagi waktu tahu kalau narasumbernya tuh pembicara yang udah cukup terkenal, sesungguhnya jadi jiper. Cuma dalam hati (alhamdulillah), kayaknya Allah memang kasih kepercayaan diri. Ada perasaan yang bilang kalau saya bisa melakukannya. Kalau nginget-nginget hobi saya dengerin radio dan nonton talkshow, masa sih sistem alam bawah sadar saya sama sekali nggak sempat merekam cara-cara MC profesional membawakan acara. Pasti ada modal skill yang nyangkut dikit. Nah, supaya makin yakin, saya juga mempersiapkan diri dengan belajar via Youtube. Beneran akses belajar sekarang tuh udah nyaris nggak ada batasnya. Saya nonton beberapa video dari Alan Albana, menurut saya videonya sangat praktikal dan cukup singkat.

Long short story, hadirlah poster diatas dan beneran terjadi tanggal 20 Juni kemarin, saya jadi moderator+MC seminarnya dr.Aisah Dahlan. Masya Allah. Apakah saya khawatir saat menjalankannya? Tentu sajaaaa saya khawatir dari detik pertama saya menyanggupi ajakan tersebut, dan itu wajar :).

If you ask how was it going? All I can say is I am satisfied because I had given my best. Rasanya “fulfill” .

Despite all connection problems which I have tried to mitigate before (dari pinjem laptop yang kamera depannya lebih bagus sampai pasang wifi extender) namun masalah koneksi masih terjadi, alhamdulillah saya masih dapat feedback yang baik, hehe. Acaranya juga sukses dihadiri lebih dari 300 partisipan seluruh Indonesia. Thank You Allah for build the technology :).

Lalu secara keseluruhan, apa yang saya pelajari? Ada 3 hal yang saya catat dalam hati:

1. Ambil kesempatan yang datang, jangan dimentahin (ditolak) karena khawatir. Nekatlah dengan terukur :). Dalam hal apapun juga, selagi judulnya masih kebaikan, saya percaya Allah sudah kasih kita modal kemampuan belajar dan untuk itu kita punya tanggung jawab untuk perluas kemampuan kita. Berkaca dari generasi keemasan Islam terdahulu, hoho mereka semua Muslim Muslimah multitalenta.

2. Saya belajar tentang diri saya sendiri. Walau terasa tidak nyaman pada awalnya, tapi ternyata saya menikmati saat-saat bicara di depan banyak orang (walau dalam format virtual). Menurut saya punya pemahaman diri itu penting. Mendedahkan diri pada lebih banyak pengalaman jadi cara yang efektif untuk verifikasi diri sendiri.

3. Belajar dari pengalaman saya soal koneksi internet yang tetap ada gangguan walau saya sudah coba mitigasi sebelumnya, saya jadi paham kalau pada akhirnya yang bisa saya lakukan adalah berusahalah sebaik mungkin untuk kontrol hal-hal yang bisa diintervensi, dan mengikhlaskan sisanya. Kalau ada masalah yang masih terjadi, yasudah terima dan hadapi saja. Jangan jadi gila karena dream of perfection.

Sebenarnya saya ingin juga sharing banyak ilmu menarik dari materinya ibu dokter Aisah Dahlan soal otak dan emosi, tapi kayaknya mau saya tulis di Instagram (@venessaallia) saja, hehe. Kalau sempat nanti saya buat versi tulisan panjangnya di sini.

Oke, udahan dulu yaa. Senang pagi-pagi bisa cerita. Terimakasih sudah membaca cerita sayaaa.

Salam,

Venessa Allia

Tujuh Belas Hari

Foto ini adalah tribute untuk semua tenaga medis dan non medis yang musti pakai masker sepanjang waktu

Hari ini tepat hari ke-17 sejak kali pertama social distancing berlaku bagi diriku sendiri. Hari ke-17 sejak secara resmi diminta kerja dari rumah dan tidak keluar rumah kecuali benar-benar butuh. Kalau situasinya normal, 17 hari biasanya berlalu dengan kilat. Tapi belakangan ini, waktu seakan-akan melambat.

Biasanya aku suka waktu yang berjalan lambat. Santai. Tenang. Nggak capek. Seringnya aku benci menyadari betapa cepatnya hari berganti. Tapi tidak kali ini. Minggu malam yang berbeda karena 17 hari berlalu dan rasanya lama sekali. Corona berhasil menyalakan tombol ‘pause‘ pada aktivitas manusia bumi yang bergerak ‘fast forward‘. Aku selalu menganggap bahwa wabah ini adalah topik ujian yang sama untuk sebagian besar penduduk dunia. Topik ujian boleh sama, tapi soal ujian bisa beda-beda. Ada yang diuji karena positif Covid menjadi takdirnya, atau takdir orang yang ia cintai. Ada yang diuji dengan kehilangan teramat dalam. Ada yang diuji karena kondisi ini membuat nafkahnya tak selancar biasa. Ada yang harus menahan diri karena tak bisa bertemu keluarga, tak bisa pulang kampung. Ada yang terkurung di rumah, tapi ada juga yang tidak bisa pulang ke rumah.


Sekolompok orang ada yang udah setengah gila karena mendekam di kosan sendirian. Cukup banyak juga yang tersiksa karena situasi ini mengacaukan semua rencana yang sudah disusun sejak lama. Ada yang sedang menunggu pertemuan atau kesempatan berharga lainnya dan khawatir akan penundaan yang entah sampai kapan. Kelompok lain, mereka yang hidupnya relatif lancar tapi sudah mati bosan atau rindu pada kehidupan pra-corona.

Untukku, masa ini sudah berjalan 17 hari dan aku tidak berani bertanya sampai kapan ini semua harus terjadi. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya wabah ini bisa selesai. Aku setuju bahwa realistis itu perlu. Tapi terhadap kasih sayang dan kekuasaan Allah, aku memilih untuk berhenti menggunakan otak dan rasa, lalu membiarkan iman yang bekerja. Kata Ustad Omar Sulaeiman, menjadi Muslim itu artinya harus punya ‘healty balance between hope and feel‘.

Satu hal lagi, percayalah bahwa aku, kamu, kita dan mereka adalah manusia-manusia terpilih yang dikehendaki-Nya mengalami ini semua, dan ini bukan kejadian biasa. Daruratnya bisa sampai mengalahkan kewajiban laki-laki solat jamaah di mesjid, karena menghindari mudarat lebih utama. Semoga kejadian spesial ini berhasil membuat kita juga menjadi lebih spesial di hadapan-Nya.

Semoga setelah ini ada rentang kesabaran yang bertambah, level kesyukuran yang meningkat, serta jiwa kepasrahan yang semakin kuat karena sadar betapa lemahnya kita sebagai manusia.

Semoga kita sama-sama lulus ujian ini dengan nilai yang memuaskan :).

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah.

Salam,

Venessa Allia

Inner Peace

Hai, halo, assalamualaikum,

untuk memulai tulisan ini saya ingin bilang bahwa..

Pengalaman-pengalaman selama bulan November ini mungkin bisa membuat saya menulis hingga besok pagi.

Yang mana hal itu tidak mungkin saya lakukan karena of course I need sleep, dan saya punya PR dari Ustad Nouman Ali Khan. Ustad Nouman Ali Khan ini siapa dan kenapa saya bisa punya PR dari beliau..yeah long short story, saya ikut program belajar bahasa Arab Al Quran bersama beliau tanggal 20-28 November 2019 sehingga sebagai kelanjutan dari progamnya, ada tugas review yang haru saya kerjakan. Anyway, nama program yang saya ikuti adalah Indonesia Dream Worldwide (IDW). I need special page to share this gold experience.

Moreover, I also want to share my “Terang Camp” experience, which is also phenomenal. Ngomongin Terang Camp juga harus satu page sendiri nih, abundant story, hehe. Beneran deh, saya bener-bener harus banyak bersyukur, November ini luar biasa karena Allah izinkan saya ikut banyak kegiatan yang luar biasa juga. Kegiatan yang kasih makanan buat hati saya, as well as memperkaya pemahaman saya.

Sampai bingung mau mulai dari mana.

Okelah, saya mulai dari pengalaman IDW yang paling berhubungan dengan apa yang saya pikirkan dan rasakan malam ini. Sebagai pengantar, untuk siapa saja yang belum tau siapa itu Nouman Ali Khan, ada baiknya cari nama dia di Youtube, kamu akan dapatkan banyak video ceramah atau kuliah beliau (mostly dari channel beliau, Bayyinah Insititute). Beliau adalah seorang moslem scholar yang mengkaji Al Quran dari sisi linguistik. Menarik kan? Udah lupa sih kapan pertama kali tau beliau, tapi dari kali pertama saya nonton videonya, sampai hari ini alhamdulillah selalu dapat banyak hikmah. Ustad Nouman sering kasih sudut pandang yang saya jarang temukan di tempat lain, dan sumbernya juga jelas banget lagi, Quran. I really really really recommend all of you to watch his lecture. Go to Youtube!

Berbekal dari sering nonton beliau di Youtube, baca bukunya, selalu datang kajian beliau di Indonesia (jadi sejauh ini beliau udah 3x ke Indonesia) , saya memutuskan ikut program IDW tersebut (aslinya sih sempet galau ini itu dulu, biasalah godaan syaiton). Program IDW ini intinya adalah belajar bahasa Arab untuk dapat memahami Al Quran secara langsung tanpa harus tergantung dengan tranlasi bahasanya, sehingga dapat terkoneksi langsung dengan Quran a.k.a Allah‘s word. Menariknya selama3 jam setiap harinya, Ustad Nouman Ali Khan nggak cuma kasih kita materi soal bahasa Arab (grammar dan vocab), tapi lebih dari itu, beliau juga sharing tentang mukjizatnya Al Quran, baik dari sisi tata bahasanya, strukturnya, maupun kontennya. Malam ini saya ingin sekali berbagi tentang salah satu bahasan yang beliau sampaikan di kelas (entah kelas hari yang ke berapa). Sebuah fakta menarik soal inner peace.

Nggak peduli seberapa kacaunya situasi yang dihadapi right away di depan mata. Nggak masalah seberat apapun kesulitan yang diderita , tapi yang namanya kedamaian akan selalu bisa dirasakan dari dalam hati, apapun kondisinya.

ekstrak-ekstrak ilmu yang saya dapat dari Ustad Nouman pas IDW

Kebayang ga maksudnya?

Awalnya saya pikir, kedamaian hati manusia itu pasti akan terkait dengan masalah hidupnya. Jadi manusia akan hidup tenang selama nggak punya masalah. Manusia yang masalahnya relatif berat (menurut standar sosial pada umumnya) akan sulit mendapatkan ketenangan. Contoh sederhana, saya nggak habis pikir bagaimana orang-orang yang dalam kondisi perang (muslim Palestina misalnya) bisa merasakan ketenangan dan tersenyum. Kayaknya logis banget kalau menyatakan bahwa hidup mereka 100% nggak akan bisa merasakan tenang dan damai, ya orang tiap saat serangan bom dan senjata bisa mendarat di atas kepala.

Tapi ternyata kata Ustad Nouman, Quran nggak bilang begitu. Faktanya adalah setiap manusia itu pasti mengalami ujian dari Allah, dan ujiannya itu bisa berbeda-beda, kadar berat ringannya sudah Allah takar sendiri, and the most beautiful thing is.. ujian manusia itu nggak berhubungan sama ketenangan di dalam jiwanya. Jadi, mau bagaimanapun kondisi di luar diri sendiri seseorang, dia selalu bisa merasakan inner peace, asal.. inget sama Allah. Jadi kedamaian dan ketenangan hati itu ternyata semata-mata berhubungan dengan seberapa dekat manusia sama Allah. This concept actually makes many things become easier to accept and more logical also.

Tau nggak kenapa saya kepengen banget sharing tentang hal ini?

Karena baru saja beberapa jam yang lalu saya dapat kabar dari grup alumni di WhatsApp, seorang teman “tiba-tiba” terdiagnosa kanker stadium 3. Saya yang dapat kabarnya bukan cuma kaget, tapi langsung aja kebayang bagaimana paniknya dia dan keluarganya. Singkat cerita, teman tersebut muncul di grup, say thanks karena sudah banyak yang mendoakan, dan share tulisan dia di blognya yang bahas tentang dia dan kankernya ini.

Dan dari baca blognya aja, saya merasa kok dia damai banget yaaaaa.

Beneran langsung inget lecture-nya Ustad Nouman. Nggak peduli circumatances di luar diri manusia seperti apa, manusia selalu akan bisa menemukan ketenangan.

Yang dia tulis di blognya bukan keluhan, bukan pula kronologi penyakitnya. Hanya ada sedikit cerita tentang kankernya, dan info bahwa sebentar lagi dia akan mulai kemoterapi. Sisanya adalah rasa syukur bahwa di dalam ujiannya tersebut Allah berikan support system yang luar biasa, juga penghargaan kepada semua orang yang telah menunjukan perhatian, dan yang paling bikin saya merenung adalah penerimaannya bahwa yang penting adalah bisa lebih dekat lagi sama Allah.

No wonder, he found his inner peace.

Buat saya ini pelajaran penting, karena mematahkan teori yang sering saya dengar dari banyak orang. Ternyata ketenangan hidup itu bukan perkara berat dan ringannya masalahnya, tapi perkara jauh dekatnya manusia dengan Tuhan. Manusia sering kali mencari bahagia, padahal sebenarnya yang dia cari adalah ketenangan, dan untuk itu tidak ada alasan untuk menjauh dari Allah. Come closer to Him.

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah.

Precious Thing You Never Have

Hari ke sekian. Malam ke sekian. Jalan yang sama. Rutinitas yang tidak banyak berubah.

Audi baru saja turun kereta. Bagai gerak otomatis dia langsung menuju gerbang keluar, mengambil bagian dalam antrian panjang orang-orang yang ingin pulang. Kakinya rasanya pegal sekali sepanjang hari, masih bagus hari ini dia bisa duduk di kereta. Tahukah Anda bahwa kursi kereta adalah barang mewah bagi semua pejuang commuter line? Heft, lelah sekali hidup di kota ini, waktu habis bagai sibuk sendiri. “Oh Tuhan, layakkah hamba mengeluh?” bisik Audi dalam hati.

Lepas dari gerbang, langkah Audi menuju parkiran. Mobilnya parkir di lokasi yang agak jauh dari pintu masuk, itulah risiko jika berkhianat pada waktu subuh. Habis sembayang subuh malah tidur lagi. “Ya sudahlah, aku memang selemah itu” kata Audi pada dirinya sendiri, lemah.

Dalam langkahnya menuju mobil. Entah pada langkah yang ke berapa. Kalut itu, tidak diminta tidak diundang, muncul lagi. “Bukan hidup seperti ini yang aku mau” keluh Audi. Keluhan kesekian di hari ini.

Sepanjang jalan menuju mobilnya, Audi berpikir. Terus dan terus berpikir, hingga di ujung jalan dia temukan kesimpulan. Audi tersenyum.

Kalau kata Allah untuk saat ini lebih baik begini, maka apa yang bisa lebih baik lagi?

Kalau kata Allah rezeki untukmu saat ini adalah ini, apa kau mau menafikannya, menolak bahkan tidak menghargainya karena sedikit hal lain yang belum kau punya?

Kalau kata Allah “Aku sayang padamu hamba-Ku. Kaulah ciptaan-Ku”. Maka mau apalagi selain percaya pada-Nya?

Hanya sedetik setelah kesimpulan itu Audi temukan. Tak diantar tak diundang, tiba-tiba saja setan nakal berbisik dari sebelah kiri Audi “Kamu yakin semua akan baik-baik saja? Because I dont think so.” Seringai setan memang biadab. Pakai ngomong English lagi.

Audi menarik napak panjang, lalu meludah ke sebelah kiri. Dia membentak tegas dalam hati, “Pergi kau setan. Kesabaranku adalah bukti kasih sayang Tuhan padaku, the precious thing you never have

Setan melengos pergi.
Audi masuk ke dalam mobil.
Kalutnya sudah berhenti.

Bebas: Sebuah Review Film

Bebas. Lepas. Kutinggalkan saja semua beban di hatiku. Melayang dan melayang jauh, melayang dan melayang.

Iwa K.

Siapa yang nggak tau lagu itu?

Kamu nggak tau? Kamu pasti belum lama hidup di dunia :p

Itu adalah penggalan lirik dari mega hits tahun 90an. Sebuah lagu dari Iwa K, “Bebas”. Judul yang sama dengan film yang baru saja saya tonton, dan menjadi inspirasi untuk tulisan pertama di blog baru ini (ciyeee), setelah lama sekali sodara-sodara saya nggak blogging, akhirnya pecah telor jugaaaa.

Anyway, sebelum saya bahas filmnya, pengen cerita sedikit. Awalnya sempet bingung, mau nonton Bebas atau Joker ya? Waktu pertama dengar ada film Joker saya nggak tertarik sama sekali, tapi terpengaruh juga sama netizen Instagram yang muji-muji filmnya. Jadi penasaran kaaan. Tapi perang batin juga, anak cupu kayak gue kuat nggak yaaa nonton Joker, ahaha

Ini kebingungan nggak penting banget sebenarnya. Nonton keduanya atau tidak nonton sama sekali pun nggak ngaruh apa-apa. Tapi saya udah niat dari beberapa hari yang lalu, Sabtu ini saya pengen me time. So, panas matahari siang tadi tidak menyusutkan niat hati untuk pergi ke luar. Sempet mikir juga mending nonton di The Breeze atau AEON ya (hashtag TangselLyfe). Lagi-lagi kebingungan yang tidak penting. Akhirnya memutuskan nonton di The Breeze karena nyari parkir di AEON Sabtu siang bisa lebih susah dari nyari kerja.

Jadi siang tadi, jam 13.40 saya keluar rumah, jam 14.15 udah masuk studio dooong. Efisien sekaliii hidupkuuuu.

Kenapa akhirnya memutuskan nonton film Bebas, instead of nonton Joker yang lagi jadi buah bibir di social media.?

Karena saya tuh tipe pencari hiburan yang sangat mempertimbangkan mental health. Jadi untuk perkara tontonan, saya menghindari film horor, thriller atau film yang ceritanya terlalu suram, seperti Joker. Mending nonton yang aman-aman aja deh, ahaha. Percaya sepenuhnya bahwa Joker film yang bagus, but not for me :). Buat yang nggak tau film Bebas ini tentang apa, nih lihat dulu trailernya.

Yaps, ini adalah film produksi Miles, disutradarai oleh Riri Riza, dan ternyata ceritanya diadopsi dari film Korea berjudul Sunny. Pertama lihat trailernya, ya udah yakin aja sih sama produksinya Miles pasti nggak akan sembarangan. Terus lihat pemainnya, eye candy semua, dan bisa dibilang dari dua generasi. Film ini memang menceritakan kehidupan sebuah geng di masa mereka SMA dan kehidupan 23 tahun kemudian setelah mereka dewasa. Jadi dalam satu film ada dua cerita gitu, zaman dulu dan sekarang. Apa yang saya suka dari film ini yaitu karena menceritakan 2 kondisi, jadi kayak bisa melihat big picture kehidupan si tokoh dan refleksi ke diri sendiri gitu. Jadi bisa terhubung sama cerita filmnya karena menyadari bahwa dalam 23 tahun, memang banyak hal yang berubah, tapi tetap aja ada hal yang exactly sama. Kayaknya film ini Bebas ini memang berusaha menyampaikan hal tersebut. Bayangin dulu zaman SMA diri kita kayak apa, lalu saat ini seperti apa. Apa yang dulu kita inginkan, dan sekarang menjadi apa. Apa yang berubah, dan apa yang tetap bertahan?

Premis filmnya sederhana, Vina (Marsha Timoty) tidak sengaja bertemu dengan Kris (Susan Bachtiar), temen segengnya waktu SMA, yang ternyata sudah divonis dokter bahwa usianya tidak lebih dari 2 bulan lagi. Kris yang kangen banget sama geng SMA mereka, minta tolong Vina untuk mengumpulkan geng mereka lagi. Dari situlah ceritanya berawal dan mengalir selama 120 menit. Kalau ada yang bertanya, bosen nggak sih 120 menit nonton film drama Indonesia?

Jawabannya tidak. Tau nggak kenapa?

Scoring film ini isinya lagu hits 90an. Ya gimana nggak nonton sambil nyanyi dalam hati terus senyum-senyum sendiri kan yaaa.

In my sotoy opinition, film ini emang ditargetkan buat pria wanita dewasa muda yang ngalamin masa remaja di tahun 90an. Bakal relate banget sama scoring-nya, jokes-nya, dan mungkin ya pengalaman life changing-nya. Sebenernya sih ada bagian-bagian yang menurut saya agak zonk dan belum terceritakan dengan baik, misalnya kenapa sih Suci (Lutesha) karakternya galak banget kayak punya masalah khusus atau hubungan Vina dan anaknya yang kayak ada masalah tapi nggak jelas aja. Tapi bisa jadi karena film ini memang menuturkan dua cerita sekaligus jadi yaa nggak bisa detil-detil banget kali yaaa menggali karakternya. Sama satu lagi yang gue nggak suka, beberapa karakter anak SMA bandel di film ini bikin saya bertanya-tanya, ini sekolahan gurunya ngapain aja sih kok bisa anak sebandel itu eksis di sekolahan? Ngeri soalnya bandelnya.

Oke deh, terakhir, saya mau buat quick question untuk recap beberapa hal tentang film ini (ada spoiler dikit nggak apa-apa ya).

Siapa 3 pemain favorit kamu di film ini?

Marsha Timoty yang selalu menawan hingga ku tak paham,
Maizura (i know her, dia peserta The Voice Indonesia season 2), dan Lutesha (aktingnya waktu plot twist oke banget).

Seberapa suka sama film ini? Suka banget, suka aja atau biasa?

Suka aja. Film ini enjoyable cuma menurut saya belum masuk kategori wajib ditonton 🙂

Bagian paling disuka?

Waktu Vina muda (Maizura) dibilang imut terus tiba-tiba ada lagu Cerita Cinta. Kesel-kesel gimanaaaa gitu.

Menurut kamu message film ini tentang apa?

tentang menerima bahwa barangkali yang terbaik adalah membiarkan mimpi masa remaja tetap menjadi mimpi yang manis, juga tentang mensyukuri takdir Allah, tentang totalitas bantu temen, dan terakhir tentang menikmati hidup sih, jangan sampai capek-capeknya hidup bikin lupa buat menikmati kehidupan itu sendiri (deep kan gueeeee)

Terkahir, boleh bawa bocah nggak kalau nonton film ini?

TIDAK. Dialognya ada yang kasar, ada adegan berantem dan relatively dewasa . Kasian kalau anak-anak udah didedahin hal-hal begini duluan. Ini film buat dewasa muda. Jangan bawa anak-anak yaaa please.

Oke cukup. Sekian dulu ceritanya. Saya akan menulis lagi dalam waktu dekat, InsyaAllah. Semoga dari yang receh ini masih ada manfaatnya yaaaa. Yang tidak berfaedah mohon tinggalkan dan maafkan :).

Thanks for coming. Thanks for reading.

Salam,

Allia

Untuk Hati Yang Lain

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lembut.
Hati yang mudah menangisi dosa,
serta mudah tersentuh kebaikan,
juga mudah merasakan yang manusia lain rasakan.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang kuat.
Hati yang tahan digempur omongan,
serta teguh pada niat baik,
juga keras menolak apa yang Pemilik hati tidak inginkan.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lapang.
Hati yang sanggup bersabar,
serta dipenuhi prasangka baik,
juga selalu ingat keberlimpahan.

Terakhir, aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lain.
Hati yang melengkapi hati ini.
serta yang jatuh pada hati ini.
juga yang menangkap jatuhnya hati ini.

Aku berdoa kepada Tuhan, saat ini, ketika jutaan butir hujan turun ke bumi dan ditangkap oleh malaikat-malaikat yang turut mendengar doa-doaku.
Semoga Allah, Tuhan pemilik hati setiap insan mengabulkan.

thealliaproject

Aamiin.

Salam,
Venessa Allia

Tribute to a Cheerful and Brilliant Friend

Ada satu dialog dalam film The Last Samurai yang saya ingat hingga sekarang, padahal nontonnya udah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dialog ketika Emperor Meiji bertanya kepada Nathan Algren tentang bagaimana Katsumoto wafat.


Emperor Meiji: Tell me how he died.
Nathan Algren: I will tell you how he lived.

The Last Samurai

Setiap hari ada manusia lahir, ada manusia wafat.
Kalau yang lahir adalah anak dari kerabat atau sahabat sendiri, kebahagiaan yang hadir pasti terasa berlipat ganda. Demikian pula jika yang wafat adalah kerabat atau sahabat sendiri, duka yang ada pun tidak biasa.

Seperti yang kita semua tahu, 29 Oktober 2018 terjadi kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Kecelakaan itu tidak akan betul-betul membekas dalam memori saya jika tidak ada orang yang saya kenal menjadi salah satu penumpangnya.
Tapi begitulah memang bunyi takdirnya, satu orang yang saya kenal baik menjadi penumpang dalam pesawat tersebut. Dalam perjalanan dinas bersama dua orang rekan satu timnya. Dua orang tersebut tidak saya kenal secara personal, tapi yaa namanya satu kantor, saya pun tahu mereka berdua. Teman saya ini adalah korban pertama yang teridentifkasi dalam kecelakaan JT 610. Seorang yang baru saya kenal sekitar sembilan bulan karena qadarullah kami satu batch penerimaan calon pegawai negeri sipil di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Cewek yang usianya lebih muda dari saya, tapi otaknya jauh lebih brilian dari saya. Namanya Jannatun Cintya Dewi. Yaampun Jan, pernah nggak kamu berpikir kenapa orang tuamu memberimu nama Janna ?


Ini adalah kali pertama (dan semoga tidak akan pernah terjadi lagi) saya mengalami pengalaman seperti ini. Seseorang yang biasa makan siang di kantor bareng saya dan teman-teman yang lain, tiba-tiba dalam waktu yang sangat singkat mengalami musibah, menjadi terkenal dan dibicarakan dimana-mana. Saya coba ketik “Jann” di Google dan salah satu pilihan teratas yang muncul adalah “Jannatun Cintya Dewi”. Teman-teman saya yang nggak kenal Janna sama sekali pun ikut mengucapkan bela sungkawa. Bahkan pejabat selevel Wakil Menteri turut melepas jenazahnya. Yahh.. tapi itulah masalahnya. Janna mungkin tidak akan pernah tahu, karena dia sudah pulang ke rumah yang sebenarnya, dan rumah itu Insya Allah sesuai dengan doa yang tersirat dalam namanya..Jannah, surga. 

Untuk saya pribadi, berada dalam situasi seperti ini terasa bukan hanya sedih (ini sudah pasti), tapi juga aneh dan benar-benar membuat saya berkali-kali menghela napas panjang. Begitu lemahnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa. Begitu mudahnya Dia merubah kondisi dari ada menjadi tidak ada. Kalau sudah begini, pantas saja Khalifah Umar Bin Khatab mengenakan cincin yang bertuliskan: 

“Kafaa bil Mauti waa ‘Idhan yaa Umar” (Cukuplah mati sebagai pengingat untukmu wahai Umar). 

Sayyidina Umar Bin Khatab

Cukuplah mati sebagai pemberi nasihat, sebagai pengingat bahwa hidup di dunia ini bisa berakhir kapan saja, dan ketika sudah berakhir, maka semua kesempatan itu hilang: kesempatan beramal, kesempatan bertaubat, dan semua kesempatan baik lainnya. Tapi ya gimana dong, udah dari “sananya” kehidupan dibuat seperti ini. Dibuat sementara oleh Yang Maha Kekal. Kalau kata Heiji Hattori dalam komik Detective Conan 

“Life is limited, that’s why it’s so precious. Since there’s a limit, we try our best to

Heiji Hattori (Detective Conan)


Tapi bagi Muslim yang percaya adanya kehidupan akhirat, mungkin quote ini perlu disempurnakan menjadi..

“Life is limited, that’s why it’s so precious. Since there’s a limit, we try our best to be able to live in the Jannah.” Tentunya dengan ridho Allah.

thealliaproject

Kalau saya boleh mengutip perkataan Ustad Adi Hidayat,

“Jadikan dunia itu untuk kepentingan akhirat, Insya Allah, Allah akan berkahi kehidupan kita.”

Ustad Adi Hidayat

 Ushikum wa nafsi bitaqwallah. Aslinya ini gue nulis juga sambil deg-degan. Takut cuma bisa nulis doang tapi nggak bisa ngamalin. Huhuhu. Ya Allah, please make it easy for us, don’t make it difficult. Aamiin.

And finally Janna, this is a tribute to you, my cheerful and brilliant friend. Walau kamu tidak akan pernah tahu kalau saya pernah menulis ini di halaman blog ini.

 Saya mungkin bukan orang yang paling sedih dengan kepergian kamu, ada banyak orang lain yang hatinya lebih terluka, yang kehilangannya lebih dalam.

 Saya pastikan juga bukan orang yang paling mengenal kamu. Ada teman-temanmu yang lain, yang mengenalmu lebih lama. Mereka yang lebih memahamimu, mengetahui rahasiamu, dan segala alasan dibalik keputusan-keputusanmu yang tidak pernah kamu ceritakan.

 Tapi perkenalan kita yang singkat, dan cara pergimu yang dahsyat, menjadi wasilah bagi saya dan banyak sekali orang untuk merenung sejenak tentang betapa tipisnya batas antara hidup dan mati. Sungguh apa yang kita kenang darimu adalah kebaikan. Keceriaan dan energimu yang tidak ada habisnya. Kecerdasan yang membuatmu selalu bisa diandalkan. Usiamu boleh muda, tapi pribadimu dewasa. Kamu ibarat perekat dan pelunak suasana.  

 Ada dan tidak adanya kamu memberikan banyak sekali hikmah. Kami disini sudah ikhlas karena kamu ditakdirkan pulang lebih dulu. Semoga di surga nanti, kita bisa berkumpul lagi.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Salam,

Mbak Venes