Celah untuk (Tidak) Bersyukur

Disclaimer: ini tulisan sekitar 5 tahun lalu di blog yang lama. Karena saya suka sama message-nya jadi saya tulis ulang disini dengan beberapa penyesuaian dan tambahan.

Suatu malam, temen saya yang posisinya lagi di luar Indonesia whatsapp begini “Nes, gimana caranya biar bisa bersyukur terus?”

Waktu itu saya kaget juga tiba-tiba diberikan pertanyaan seperti itu, kayaknya saya bukan orang yang tepat untuk menjawabnya. Pertama, karena saya merasa belum menjadi seorang ahli syukur. Kedua, karena saya juga masih mempertanyakan hal yang sama, hehehe. Topik “bersyukur” sering menjadi topik pembicaraan saya dengan diri saya sendiri, hingga lama-lama saya membuat kesimpulan. Sebuah kesimpulan yang bisa jadi benar, bisa jadi salah, dan sangat terbuka dengan revisi seiring dengan pemahaman yang Allah tambahkan.

Seperti apapun kehidupan yang saya jalankan, saya akan selalu punya celah untuk tidak bersyukur. Selalu.

Demikian pula seperti apapun kehidupan yang saya jalankan, saya akan selalu punya celah untuk bersyukur. Selalu.

Sekarang semuanya kembali ke pilihan saya mau fokus ke mana. Fokus ke celah untuk bersyukur, atau ke celah untuk tidak bersyukur.

thealliaproject

Pemahaman di atas adalah sebuah tarikan benang merah dari serangkaian pengalaman dan perasaan yang saya alami, lets say dari rentang kuliah S1 hingga saat tulisan ini saya keluarkan. Kenapa mulainya dari S1 ? Karena bagi saya, masa itu adalah salah satu episode terpenting dalam hidup saya yang berhasil bikin saya berpikir dengan cara yang berbeda.

Dalam sebuah perenungan saya pun sadar, bahwa selama ini apapun yang saya jalani, selalu saja ada celah untuk saya mengeluh dan tidak puas. Selalu. Hingga akhirnya saya paham ternyata perasaan bahagia itu bukan tergantung dari kehidupan apa yang saya jalankan. Bukan pula tergantung dari tercapai atau tidaknya keinginan saya. Tapi tergantung dari bagaimana saya menghargai apa yang Allah berikan untuk saya saat ini. Karena percayalah, jikalau saya punya kehidupan yang sempurna sesuai standar kesempurnaan yang berlaku pada umumnya, saya akan tetap menemukan ketidakpuasan, keluhan dan celah untuk tidak bersyukur.

Ohiya satu lagi, bicara tentang syukur, saya menemukan sebuah jurus ampuh untuk mematikan rasa syukur dan membuat hidup tidak bahagia. Sederhana saja, membanding-bandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Celah untuk kufur akan terbuka lebih lebar saat seseorang mulai melihat hidup orang lain dan membandingkan dengan kondisinya saat ini. So, please stop comparing. Berhenti zalim sama diri sendiri.

Hari ini, saat saya mau mengkorelasikan kesyukuran dengan kebahagiaan, eh qadarullah ada yang posting hal serupa, bagus lagi tulisannya. Yaudah saya izin repost aja sama yang punya hak cipta, hihihi. Hatur nuhun Mbak Eza :*.

Highly recommended to follow, Instagram @eza_dirwan

Ushikum wa iyya nafsiy bitaqwallah. Tulisan ini terlebih lagi adalah peringatan bagi diri saya sendiri. Terimakasih yaa kalau kamu sudah berkenan untuk membacanya.

Stay positive!

Salam,
Venessa Allia

Apa Artinya “Allah Maha Mengetahui”?

Disclaimer: Tulisan di bawah ini adalah resume kajian Youtube Ustad Nouman Ali Khan di channel Bayyinah Institute berjudul What Does it Means That Allah Knows, dengan sedikit penyesuaian tanpa merubah makna. Resume ini utamanya adalah nasihat bagi diri saya sendiri, sekaligus nasihat bagi kita bersama karena saya pribadi menemukan banyak pemahaman di dalamnya.

Lets start. Mari kita simak ayat di bawah ini.

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati

Q.S At-Taghabun : 4

Saya cukup yakin bahwa muslim secara umum sudah tahu bahwa Allah memiliki sifat Alim, yaitu Maha Mengetahui. Tapi tahu akan tersebut saja tentu tidak cukup, karena mengetahui dan mengimani menghasilkan konsekuensi tindakan yang berbeda. Pertanyaannya sederhana, jika sudah tahu, lantas apakah sudah yakin?

The best way to appreciate Allah’s name is to actually understand our own limit, so we can appreciate the perfection of Allah and how insignificant we are.

Ustad Nouman Ali Khan

Let put this in some perspectives.

Allah punya pengetahuan yang melampaui sejarah. Catatan sejarah secara umum hanya dapat merekam soal tempat, tanggal, siapa yang menang perang dan siapa yang kalah, tapi catatan sejarah yang dibuat manusia tidak akan bisa mendokumentasikan bagaimana Allah mendokumentasikan kisah masa lalu dalam Quran. Allah tidak hanya memberi tahu apa yang terjadi dan di mana tapi bahkan apa yang dirasakan di dalam hati pelakunya. Sejarah mana yang bisa menyatakan apa yang Firaun rasakan? Allah mendokumentasikannya dalam Quran. Kemudian bagaimana Allah mendokumentasikan Nabi Ibrahim A.S hingga sedetil doa apa yang ia panjatkan. Jadi Allah tahu sejarah lebih dari manusia bisa tahu, bahkan dari sudut pandang yang tidak akan sejarah yang bisa mencatatnya. Orang-orang munafik akan menyanggah Quran dengan bilang bahwa Quran tidak menyatakan sejarah lengkap dengan tanggal dan waktunya. Faktanya hal-hal yang Allah biarkan manusia tahu, tidak dinyatakan lagi dalam Quran, tapi dalam Quran, Allah mengatakan hal-hal yang manusia tidak akan bisa tahu.

Sejarah manusia hanya mencatat masa lalu dan saat ini, tapi Allah mengetahui lebih dari itu, Allah mengetahui masa depan. Bahkah hanya Allah yang punya pengetahuan soal afterlife. Bagaimana manusia bisa tahu apa yang akan terjadi setelah mati? Apa yang terjadi pada tubuh kita? Pertanyaan apa yang akan kita hadapi? Judgement day itu seperti apa?

Allah jugalah yang punya pengetahuan soal science. Bayangkan sejak lebih dari 1400 tahun lalu melalui Quran manusia mengetahui bahwa langit memiliki 7 lapisan. Allah pula yang bilang bahwa langit paling bawah didekorasi dengan bintang. Sekarang, saat tahun 1441 Hijriah (tahun 2020 Masehi), semua teknologi yang kita punya hanya mampu melihat langit paling bawah. Allah juga mengetahui hal-hal gaib, misalnya ketika kita bicara soal malaikat. Seperti apa sih malaikat? Gimana kita tahu kalau sebenarnya dengan kembali kepada Allah dan meminta ampunannya akan berdampak pada pada rezeki, kesehatan, dan segala urusan kita. No science/lab/research can observe this.

The biggest mystery of all, bagaimana Allah itu? What kind of God is He? Relationship seperti apa yang Dia inginkan? apa yang Dia suka? apa yang Dia rencanakan dan harapkan dari manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kita harus memaknai Al-Alim dengan lebih dalam lagi.

Dia Mengetahui Segalanya

Bayangkan ketika kita sakit lalu kita pergi ke dokter, dokter lalu memeriksa badan kita, lalu memberikan diagnosa “I think you have a bacterial infection, or virus or allergy, etc”. Tapi mungkin nggak kalau diagnosis dokternya salah? Tentu saja mungkin, sering terjadi malah. Karena dokter bisa jadi hanya cek satu bagian, namun tidak periksa bagian lainnya. Persis seperti itulah pandangan manusia. We only look at one thing and we don’t realize that some other thing happening that maybe related. Misal nih ada orang punya masalah tekanan darah, lalu dokter memberikan saran untuk perbaiki pola makan, padahal teryata akar masalah dari penyakit tersebut adalah karena stres di rumah. Sometimes we only see one side of the problem, dan tidak melihat keseluruhan sisi untuk mendiagnosa apa yang sebenarnya terjadi.

Selanjutnya bayangkan, ketika kita sedang ada masalah lalu kita minta saran atau nasihat dari orang lain. Kadang kala rasanya nasihat itu nggak mempan untuk kita karena merasa orang tersebut nggak benar-benar memahami masalahnya apa dan keseluruhan situasinya seperti apa. And if you try to explain the whole picture to them, still they don’t understand, dan dia tetep beri nasihat yang membuat kamu merasa they just don’t understand. Kadang orang memberikan nasihat tapi tidak berdasarkan full knowledge of what we truly experiencing, and somehow mendengarkan mereka membuat frustasi

Bahkan ketika kita mencoba menasihati diri sendiri yang tertimpa masalah, it is just not working. Even if we diagnose our self, it is still bias, we cant give neutral-free advice to even our self. Not capable to doing that.

Ketika Allah berkata bahwa diri-Nya mengetahui segalanya, Allah pula menyatakan bahwa Dia memberikan kita nasihat. Seperti dinyatakan dalam Quran “Allah is teaching you and Allah knows everything”. Artinya apa? Artinya Allah tahu situasimu completely, even better than you and I. Dia tahu apa yang ada di pikiran kita.

Ketika seseorang bertanya padamu “Whats wrong?”, lalu kamu menjawab “Nothing”. Padahal dalam hati kamu sedang memendam sesuatu. Allah knows that your ‘nothing’ is something. And knowing all of that, He gives advice.

Disadari atau tidak, seorang muslim sering berlaku tidak adil saat menganggap bahwa Quran itu peranannya untuk memberikan kita religious advice, dokter untuk kasih medical advice, akuntan utuk kasih financial advise, dsb. Masalahnya Allah is not limited with religion. Pengetahuan Allah itu tentang semua hal dalam hidup. Semua yang terbaik untukmu secara fisik, finansial, sosial, emosional, psikologis, spiritual, kesehatan, semuanyaaa! Karena semua itu Allah yang buat, sehingga Dia-lah yang paling tahu persis. Nasihat Allah juga nggak dari satu sudut pandang aja. Allah melihat semua pandangan, termasuk perspektif yang kamu punya.

Jujur deh, kadang ketika baca Quran pernah merasa “oke this is good, but my situation is different/special, it does not applied for me”. Masalahnya, Allah tentu saja tahu your full circumtances. Dan advice yang Allah kasih ke manusia berdasarkan pengetahuan Allah terhadap setiap insan dan semua masalahnya dan semua kebutuhannya. Itulah maknanya ketika Allah bilang bahwa Dia yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

Di banyak bagian Al-Quran, nama yang disandingkan dengan Alim (knowledgable/Maha Mengetahui) adalah Maha Mendengar. Innnalaha samiun alim. Since the beginning of history, Allah mendengarkan manusia. Allah dengar manusia menangis kepada-Nya, mendengar manusia menangis ke manusia lain, mendengar semua pembicaraan, bahkan pembicaraan manusia dengan dirinya sendiri. Allah dengar semuanyaaa! Dan semua itu udah dijadikan pertimbangan ketika Allah menurunkan wahyu. That is a mercy from Allah Azza wa Jalla.

That counsel has come to you from your Rabb, it come to heal what inside on your chest, because He knows.

Ustad Nouman Ali Khan

Dan sama halnya dengan hasil diagnosis dokter yang kadang tidak terlalu menyenangkan tapi merupakan keputusan terbaik, sometimes the advice from Allah could be painful. Tapi hal itu bukan untuk membuat manusia menjadi semakin sakit tapi justru untuk menyelamatkan manusia dari kerusakan. Bisa jadi kamu menyukai sesuatu yang tidak baik untukmu, dan bisa jadi kamu membenci sesuatu yang baik untukmu. Allah memberikan kita nasihat dan pengajaran berdasarkan pengetahuan Allah, berdasarkan apa yang baik untuk kita, terlepas dari kita bisa lihat atau tidak.

Mengetahui yang Benar dan yang Salah

Bicara soal benar dan salah, Allah pada dasarnya sudah memberikan manusia kemampuan untuk mengindetifikasi mana yang benar dan mana yang salah. Contoh, terlepas dari apapun agama, budaya atau asalnya, kita tahu kalau berbohong, mencuri, menyakiti seseorang itu salah. Hal-hal itu sudah Allah programkan dalam diri kita sebelum kita lahir di bumi ini. Sifatnya universal. Tapiii jauh lebih dari itu, ada sesuatu yang kita nggak akan bisa tahu kalau itu benar atau salah. Contoh, (kalau nggak Allah ajarin melalui Quran dan Sunatullah) saya nggak tahu kalau beberapa hewan itu nggak baik untuk dimakan, saya juga nggak tahu kalau pray in certain schedule adalah baik sekali untuk saya.

Jadi ngomongin benar dan salah, manusia memang punya some sense of it, but Allah have full picture of it. Jadi, ketika Allah bilang ke kamu dan saya kalau sesuatu itu benar (right) atau sesuatu itu salah (wrong), maka kita (manusia) harus menyampingkan pengetahuan kita tentang apa yang kita tahu soal benar dan salah, and we have to submit our self to the fact that Allah knows more that we can ever know. That Allah is Al Alim.

Ustad Nouman Ali Khan

Apa yang Allah katakan benar adalah sesuatu yang pasti lebih baik untuk kita. Apa yang membuat kita ragu/resisten untuk mengikuti apa yang Allah katakan/perintahkan/nasihatkan adalah karena kita berpikir kalau kita mengikuti apa yang Allah katakan maka akan menghasilkan kesusahan atau kesakitan (pain). Pada faktanya, jika kamu mengikuti apa yang Allah katakan, pada beberapa kasus it does cause pain. It is the fact of life. Ngikutin perintah Allah itu bisa jadi not lead to comfort, but difficulty. Lihat saja kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, orang-orang terbaik yang mengikuti perintah Allah, hidup mereka tidak mudah kan? Tapi..

..that difficulty is way better for you than any ease that come to you. That’s the truth. Vice versa, if you do not follow Allah, and find some easy way to yourself, you might feel you saver, but the truth is you are heading to your self in to destruction.

Ustad Nouman Ali Khan

Semoga Allah menolong kita dengan memberikan kita pemahaman akan sifat Allah sebagai Al Alim. What it means of Allah knows everything. Semoga Allah juga mempermudah kita untuk meyakini semua nasihat dan perintah-Nya, dan hidup sepenuhnya dengan hal-hal tersebut.

Ushikum waiyya nafsi bitaqwallah

What does it mean that Allah knows – Reminders of the Last 10 Night Part 2

Salam,

Venessa Allia

Tujuh Belas Hari

Foto ini adalah tribute untuk semua tenaga medis dan non medis yang musti pakai masker sepanjang waktu

Hari ini tepat hari ke-17 sejak kali pertama social distancing berlaku bagi diriku sendiri. Hari ke-17 sejak secara resmi diminta kerja dari rumah dan tidak keluar rumah kecuali benar-benar butuh. Kalau situasinya normal, 17 hari biasanya berlalu dengan kilat. Tapi belakangan ini, waktu seakan-akan melambat.

Biasanya aku suka waktu yang berjalan lambat. Santai. Tenang. Nggak capek. Seringnya aku benci menyadari betapa cepatnya hari berganti. Tapi tidak kali ini. Minggu malam yang berbeda karena 17 hari berlalu dan rasanya lama sekali. Corona berhasil menyalakan tombol ‘pause‘ pada aktivitas manusia bumi yang bergerak ‘fast forward‘. Aku selalu menganggap bahwa wabah ini adalah topik ujian yang sama untuk sebagian besar penduduk dunia. Topik ujian boleh sama, tapi soal ujian bisa beda-beda. Ada yang diuji karena positif Covid menjadi takdirnya, atau takdir orang yang ia cintai. Ada yang diuji dengan kehilangan teramat dalam. Ada yang diuji karena kondisi ini membuat nafkahnya tak selancar biasa. Ada yang harus menahan diri karena tak bisa bertemu keluarga, tak bisa pulang kampung. Ada yang terkurung di rumah, tapi ada juga yang tidak bisa pulang ke rumah.


Sekolompok orang ada yang udah setengah gila karena mendekam di kosan sendirian. Cukup banyak juga yang tersiksa karena situasi ini mengacaukan semua rencana yang sudah disusun sejak lama. Ada yang sedang menunggu pertemuan atau kesempatan berharga lainnya dan khawatir akan penundaan yang entah sampai kapan. Kelompok lain, mereka yang hidupnya relatif lancar tapi sudah mati bosan atau rindu pada kehidupan pra-corona.

Untukku, masa ini sudah berjalan 17 hari dan aku tidak berani bertanya sampai kapan ini semua harus terjadi. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya wabah ini bisa selesai. Aku setuju bahwa realistis itu perlu. Tapi terhadap kasih sayang dan kekuasaan Allah, aku memilih untuk berhenti menggunakan otak dan rasa, lalu membiarkan iman yang bekerja. Kata Ustad Omar Sulaeiman, menjadi Muslim itu artinya harus punya ‘healty balance between hope and feel‘.

Satu hal lagi, percayalah bahwa aku, kamu, kita dan mereka adalah manusia-manusia terpilih yang dikehendaki-Nya mengalami ini semua, dan ini bukan kejadian biasa. Daruratnya bisa sampai mengalahkan kewajiban laki-laki solat jamaah di mesjid, karena menghindari mudarat lebih utama. Semoga kejadian spesial ini berhasil membuat kita juga menjadi lebih spesial di hadapan-Nya.

Semoga setelah ini ada rentang kesabaran yang bertambah, level kesyukuran yang meningkat, serta jiwa kepasrahan yang semakin kuat karena sadar betapa lemahnya kita sebagai manusia.

Semoga kita sama-sama lulus ujian ini dengan nilai yang memuaskan :).

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah.

Salam,

Venessa Allia

Surat yang Romantis

Hai. Assalamualaikum. Meet me again!

Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah event bernama Quran Talk yang dibikin sama Yuk Ngaji Bintaro. Acaranya diadakan di Skup Gelato Bintaro (deket Mc.D sektor 9). Narasumbernya ada Mbak Ratu Anandita, Mas Mario Irwinsyah dan yang paling bikin saya penasaran, ada timnya @quranreview hadir di event ini.

Sudah pernah denger tentang @quranreview? Jadi ini adalah akun Instagram yang isinya mengupas ayat-ayat Al Quran dengan cara yang menyenangkan. Tagline mereka adalah “Quran is Millenial-able”. Jadi sesuai tagline, cara mereka mengkomunikasikan Al Quran pun fresh dan menggunakan analogi-analogi yang relate sama millenial. Sebagai old soul lady yang nggak merasa masuk generasi millenial (walau secara definisi, aku masih millenial loh, haha), saya pun merasa nyambung banget sama penjelasan-penjelasan @quranreview. Pada setiap post mereka mengupas 1-2 ayat Al Quran, dan Masya Allah membaca isi “unboxing” ayatnya bener-bener kasih pesan bahwa Quran itu deket banget sama kita, dan ayat-ayat Quran (tanda-tanda kebesaran Allah) itu ada di every single thing kehidupan manusia.

Nah menariknya lagi dari si @quranreview ini, mereka mengupas Al Quran juga dari sisi linguistik Bahasa Arab-nya, jadi buat saya yang qadarullah lagi belajar Bahasa Arab level pre-basic-beginner, yaa jadi makin tertarik ajaaa. By the way, soal Bahasa Arab, akhirnya setelah ikut IDW kemarin (please check my previous post), saya bisa memahami kenapa harus Bahasa Arab yang jadi bahasa Al Quran. Karena memang bahasanya itu precise dan detil banget. Satu kata itu bisa menggambarkan satu kejadian yang spesifik. Kebayang ga? Jadi ya cocoklah buat bahasa kitab suci yang di dalamnya juga memuat hukum-hukum. Bahasa hukum kan nggak boleh bias, harus tepat dan jelas, persis seperti karakter Bahasa Arab. Detil Bahasa Arab ini juga yang membuat bahasanya jadi indah banget. Ibarat karya seni yang mahal, pasti punya banyak detil, ada keteraturan dan ketidakaturan, unik dan sulit untuk ditiru. Yaps, persis Bahasa Arab juga begitu. Masya Allah.

Balik lagi soal event Quran Talk yang tadi saya sebut di awal. Tim @quranreview (sebenernya bukan tim sih, yang hadir cuma 1 orang, wkwk) menyampaikan materi soal surat Ad-Dhuha ayat 1 -5. Pas banget timing-nya, Sabtu Dhuha di Bintaro kita bahas soal surat Ad-Dhuha. Surat yang dari SD sudah saya hafal tapi baru paham maknanya sekarang, dan ternyata isi suratnya tuh romantis dan menyentuh sekali, huhu. Lets we unboxing these ayahs together :).

Latar belakang turunnya surat ini adalah ketika Rasulullah SAW sedih banget karena sudah cukup lama wahyu Allah nggak turun. Rasulullah sedih dan merasa Allah tinggalkan, terus Rasulullah SAW curhat ke Khadijah r.a. Kata Khadijah kurang lebih begini “Tidak mungkin Allah meninggalkanmu ya Rasulullah, Allah mengawali ini dengan baik, maka pasti mengakhiri ini semua juga dengan baik”. Beneran istri sholehah, bikin adem, real role model.

Long story short, turunlah surat Ad Dhuha. Ini saya copy paste 5 ayat pertama (berikut terjemahannya) yang dibahas waktu Quran Talk aja yaa.

وَالضُّحَىٰ (Demi waktu matahari sepenggalahan naik)

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (dan demi malam apabila telah sunyi (gelap) )

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ( Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu)

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ (Dan sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan))

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.)

Pada ayat yang pertama, ada huruf وَ yang menunjukan Allah bersumpah demi waktu dhuha. Hal ini menunjukan waktu dhuha itu termasuk hal yang sangat penting. Manusia aja nggak mungkin bersumpah dengan sesuatu yang receh (misal “gue bersumpah demi chiki ball rasa keju”, sounds silly kan). Di lihat dari sifatnya, waktu dhuha itu juga merupakan saat di mana matahari sudah bersinar terang tapi nggak panas kayak matahari jam 12 siang. Ibu-ibu aja jemur bayinya di waktu dhuha karena diketahui matahari saat dhuha itu banyak vitamin D-nya. Jadi memang banyak keutamaan. Nah, Al Quran itu ibaratnya seperti Dhuha, bersinar terang tapi nggak bikin kepanasan.

Waktu dhuha itu penting, Allah saja bersumpah menggunakan waktu tersebut. Jadi jangan dilewatkan sembarangan, jangan males solat dhuha dan dzikir pagi.

In Allia’s mind as lesson learned #1

Masuk ke ayat kedua, Allah menyebutkan tentang malam. Nah kalau penjelasannya @quranreview nih, malam ini adalah ibarat hati di saat tidak ada Quran. Gelap gulita. Ini nih kalau katanya @quranreview, isi Quran tuh juicy banget. Analoginya tuh tepat. Nah, masuk ke ayat ketiga, ayat yang paling saya suka, Allah mulai menghibur Rasulullah dan menegasikan kekhawatiran Rasulullah sebelumnya dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan meninggalkan Rasulullah dan tidak pula benci padanya. Pada ayat ketiga ini juga digunakan kata مَا, secara bahasa kata ini digunakan ketika membuat negasi (ingkaran) sekaligus melakukan koreksi. Kalau ngikuti analoginya @quranreview, misal ada yang nanya sama kamu “Kamu selingkuh ya?”, terus kamu jawab “Saya nggak selingkuh, karena saya tahu dosanya dan saya sayang suami saya dan anak-anak kami jadi saya nggak mungkin selingkuh.” Nah, untuk mengungkapkan negasi dan penjelasan (koreksi) sebagaimana di atas, yang dipakai sebagai negasi adalah مَا. Yah kurang lebih kemarin penjelasannya secara bahasa seperti itu. Semoga saya nggak salah tangkep, wkwk.

Pada ayat ketiga ini juga ada kata قَلَىٰ (sayangnya saya lupa kata dasarnya apa). Menurut penjelasan @quranreview, قَلَىٰ ini tuh maksudnya kondisi dimana sesuatu yang berguna itu dibuang setelah habis dipakai, analoginya kayak deterjen gitu deh, habis dipakai buat ngilangin noda di baju yaa dibuang gitu ajaaa. Nah disini kelihatan lagi bagaimana luar biasanya Bahasa Arab, satu kata saja bisa mendefinisikan satu kejadian. Hal-hal seperti ini nggak akan berasa kalau hanya baca terjemahan.

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat ketiga Surat Ad-Dhuha, Allah itu nggak akan pergi, kayak siang dan malam yang hadir setiap hari. Allah nggak akan pergi.

In Allia’s mind as lesson learned #2

Ayat keempat wajib dicamkan oleh siapa aja yang lagi hopeless. Allah lagi-lagi menghibur Rasulullah SAW dengan berkata bahwa hari esok itu lebih baik daripada yang permulaan. Permulaan itu maksudnya saat ini, jadi Allah membesarkan hati Rasulullah dengan mengatakan bahwa hari esok itu pasti akan lebih baik. Kebayang nggak sih kalimat ini disampaikan oleh Allah langsung ke Rasulullah yang lagi sedih karena berasa ditinggal, myeeeeee. Secara tersirat, sebenarnya ayat ini juga meminta kita untuk percaya sama Allah.

Dalam asumsi dan pikiran manusia yang mengkhawatirkan masa depan bakal kayak apa, maka perlu untuk kita (saya) ingat kembali makna ayat ini ketika Allah mengatakan hari esok akan lebih baik dari saat ini. Trust Allah.

In Allia’s mind as lesson learned #3

Masuk ke ayat kelima, di sini Allah kembali menghibur Rasulullah SAW dengan menjanjian akan memberikan sesuatu hingga hati Rasulullah menjadi puas. Nah menariknya, sebenarnya di ayat ini tidak ada keterangan lebih detil yang mau diberikan itu apa (kalau di terjemahan sih disebutkan karunia). Jadi ternyata tafsirnya, kalau di Quran nggak disebut secara jelas apa yang akan diberikan, artinya yang akan diberikan itu luaaaas bangeeeet. Itulah mengapa di Quran juga nggak disebutkan apa yang akan didapatkan cewek nanti di surga (kalau cowok kan well described yaa dapat apa aja di surga), alasannya karena cewek itu by default punya banyak keinginan, dan di surga nanti mereka akan dapat semua yang diinginkan. Masya Allah.

Menyadari diri ini adalah wanita yang banyak keinginan sampai kadang bingung sendiri, hehe, yakin aja kalau semua keinginan itu nanti achieved di surga. Makanya selagi masih hidup yang penting sekarang bukan caranya menggapai keinginin duniawi semata, tapi yang penting gimana caranya biar bisa masuk surga :).

In Allia’s mind as lesson learned #4

Saat membahas ayat kelima ini juga, @quranreview menyebut alasan sebenarnya mengapa Rasulullah sedih. Wahyu yang sudah lama tidak turun ternyata membuat Rasulullah SAW sedih karena lama tidak mendengarkan Al Quran lagi.

Jangan-jangan selama ini kalau saya sedih, karena lama nggak berinteraksi sama Quran 🙁

In Allia’s mind as lesson learned #5

Oke, demikianlah hasil ‘unboxing‘ lima ayat pertama surat Ad-Dhuha yang berhasil saya catat sehingga bisa saya tulis ulang disini. Sebenarnya sih ayat-ayat selanjutnya juga sempat dibahas, tapi cuma sedikit-sedikit gitu, mungkin karena keterbatasan waktu, dan sayangnya saya nulisnya nggak utuh, jadi kalau ditulis ulang khawatir salah pengertian, hehe.

Tambahan terakhir deh, yang ini walaupun nulisnya nggak utuh tapi saya cukup ingat karena dijelasin agak panjang. Soal makna ayat ke-11 dimana Allah bilang:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan/nyatakan.)

Ternyata yang dimaksud nikmat disini adalah kenikmatan yang dirasakan ketika ada kesulitan lalu mendapatkan pertolongan Allah. Menyiarkan atau menyatakan kenikmatan yang seperti ini akan baik jika didengarkan oleh orang yang lain, terutama jika mereka sedang dalam kesulitan karena akan memberikan harapan bagi mereka juga akan pertolongan Allah. Hati-hati menyiarkan kenikmatan, karena kalau nggak diperhatikan niatnya, khawatir bisa terjerumus riya.

It’s a wrapped! Ushikum wa iyya nafsi bi taqwallah. Jazzakumullah khairan untuk @quranreview , panitia Quran Talk dan pemateri lainnya yang sudah membuat saya jatuh cinta dengan Surat Ad-Dhuha. Keep up the good work! Semoga Allah memberkahi semua usahanya untuk membuat kita lebih dekat dan lebih paham lagi sama isi Al Quran. Thank you also for two scoops of the gelato, I’ll be back again to try another flavor, Insya Allah :).

Salam,

Allia

Inner Peace

Hai, halo, assalamualaikum,

untuk memulai tulisan ini saya ingin bilang bahwa..

Pengalaman-pengalaman selama bulan November ini mungkin bisa membuat saya menulis hingga besok pagi.

Yang mana hal itu tidak mungkin saya lakukan karena of course I need sleep, dan saya punya PR dari Ustad Nouman Ali Khan. Ustad Nouman Ali Khan ini siapa dan kenapa saya bisa punya PR dari beliau..yeah long short story, saya ikut program belajar bahasa Arab Al Quran bersama beliau tanggal 20-28 November 2019 sehingga sebagai kelanjutan dari progamnya, ada tugas review yang haru saya kerjakan. Anyway, nama program yang saya ikuti adalah Indonesia Dream Worldwide (IDW). I need special page to share this gold experience.

Moreover, I also want to share my “Terang Camp” experience, which is also phenomenal. Ngomongin Terang Camp juga harus satu page sendiri nih, abundant story, hehe. Beneran deh, saya bener-bener harus banyak bersyukur, November ini luar biasa karena Allah izinkan saya ikut banyak kegiatan yang luar biasa juga. Kegiatan yang kasih makanan buat hati saya, as well as memperkaya pemahaman saya.

Sampai bingung mau mulai dari mana.

Okelah, saya mulai dari pengalaman IDW yang paling berhubungan dengan apa yang saya pikirkan dan rasakan malam ini. Sebagai pengantar, untuk siapa saja yang belum tau siapa itu Nouman Ali Khan, ada baiknya cari nama dia di Youtube, kamu akan dapatkan banyak video ceramah atau kuliah beliau (mostly dari channel beliau, Bayyinah Insititute). Beliau adalah seorang moslem scholar yang mengkaji Al Quran dari sisi linguistik. Menarik kan? Udah lupa sih kapan pertama kali tau beliau, tapi dari kali pertama saya nonton videonya, sampai hari ini alhamdulillah selalu dapat banyak hikmah. Ustad Nouman sering kasih sudut pandang yang saya jarang temukan di tempat lain, dan sumbernya juga jelas banget lagi, Quran. I really really really recommend all of you to watch his lecture. Go to Youtube!

Berbekal dari sering nonton beliau di Youtube, baca bukunya, selalu datang kajian beliau di Indonesia (jadi sejauh ini beliau udah 3x ke Indonesia) , saya memutuskan ikut program IDW tersebut (aslinya sih sempet galau ini itu dulu, biasalah godaan syaiton). Program IDW ini intinya adalah belajar bahasa Arab untuk dapat memahami Al Quran secara langsung tanpa harus tergantung dengan tranlasi bahasanya, sehingga dapat terkoneksi langsung dengan Quran a.k.a Allah‘s word. Menariknya selama3 jam setiap harinya, Ustad Nouman Ali Khan nggak cuma kasih kita materi soal bahasa Arab (grammar dan vocab), tapi lebih dari itu, beliau juga sharing tentang mukjizatnya Al Quran, baik dari sisi tata bahasanya, strukturnya, maupun kontennya. Malam ini saya ingin sekali berbagi tentang salah satu bahasan yang beliau sampaikan di kelas (entah kelas hari yang ke berapa). Sebuah fakta menarik soal inner peace.

Nggak peduli seberapa kacaunya situasi yang dihadapi right away di depan mata. Nggak masalah seberat apapun kesulitan yang diderita , tapi yang namanya kedamaian akan selalu bisa dirasakan dari dalam hati, apapun kondisinya.

ekstrak-ekstrak ilmu yang saya dapat dari Ustad Nouman pas IDW

Kebayang ga maksudnya?

Awalnya saya pikir, kedamaian hati manusia itu pasti akan terkait dengan masalah hidupnya. Jadi manusia akan hidup tenang selama nggak punya masalah. Manusia yang masalahnya relatif berat (menurut standar sosial pada umumnya) akan sulit mendapatkan ketenangan. Contoh sederhana, saya nggak habis pikir bagaimana orang-orang yang dalam kondisi perang (muslim Palestina misalnya) bisa merasakan ketenangan dan tersenyum. Kayaknya logis banget kalau menyatakan bahwa hidup mereka 100% nggak akan bisa merasakan tenang dan damai, ya orang tiap saat serangan bom dan senjata bisa mendarat di atas kepala.

Tapi ternyata kata Ustad Nouman, Quran nggak bilang begitu. Faktanya adalah setiap manusia itu pasti mengalami ujian dari Allah, dan ujiannya itu bisa berbeda-beda, kadar berat ringannya sudah Allah takar sendiri, and the most beautiful thing is.. ujian manusia itu nggak berhubungan sama ketenangan di dalam jiwanya. Jadi, mau bagaimanapun kondisi di luar diri sendiri seseorang, dia selalu bisa merasakan inner peace, asal.. inget sama Allah. Jadi kedamaian dan ketenangan hati itu ternyata semata-mata berhubungan dengan seberapa dekat manusia sama Allah. This concept actually makes many things become easier to accept and more logical also.

Tau nggak kenapa saya kepengen banget sharing tentang hal ini?

Karena baru saja beberapa jam yang lalu saya dapat kabar dari grup alumni di WhatsApp, seorang teman “tiba-tiba” terdiagnosa kanker stadium 3. Saya yang dapat kabarnya bukan cuma kaget, tapi langsung aja kebayang bagaimana paniknya dia dan keluarganya. Singkat cerita, teman tersebut muncul di grup, say thanks karena sudah banyak yang mendoakan, dan share tulisan dia di blognya yang bahas tentang dia dan kankernya ini.

Dan dari baca blognya aja, saya merasa kok dia damai banget yaaaaa.

Beneran langsung inget lecture-nya Ustad Nouman. Nggak peduli circumatances di luar diri manusia seperti apa, manusia selalu akan bisa menemukan ketenangan.

Yang dia tulis di blognya bukan keluhan, bukan pula kronologi penyakitnya. Hanya ada sedikit cerita tentang kankernya, dan info bahwa sebentar lagi dia akan mulai kemoterapi. Sisanya adalah rasa syukur bahwa di dalam ujiannya tersebut Allah berikan support system yang luar biasa, juga penghargaan kepada semua orang yang telah menunjukan perhatian, dan yang paling bikin saya merenung adalah penerimaannya bahwa yang penting adalah bisa lebih dekat lagi sama Allah.

No wonder, he found his inner peace.

Buat saya ini pelajaran penting, karena mematahkan teori yang sering saya dengar dari banyak orang. Ternyata ketenangan hidup itu bukan perkara berat dan ringannya masalahnya, tapi perkara jauh dekatnya manusia dengan Tuhan. Manusia sering kali mencari bahagia, padahal sebenarnya yang dia cari adalah ketenangan, dan untuk itu tidak ada alasan untuk menjauh dari Allah. Come closer to Him.

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah.

Pengalaman Pertama Datang Kajian Sirah Nabawiyah Terang Jakarta

Hai! Assalamualaikum.

Di minggu siang yang alhamdulillah panas ini, saya ingin berbagi pengalaman sehabis datang kajian Sirah Nabawiyah bersama Ustad Abi Makki yang diadakan oleh komunitas Terang Jakarta (TJ). Jadi, singkat cerita, sudah cukup lama saya tahu bahwa setiap Kamis jam 19.00 di Mesjid Raya Pondok Indah, ada kajian Sirah Nabawiyah yang diorganisir sama Terang Jakarta. Sudah beberapa kali ingin datang ke sana, tapi ada aja alasan nggak bisanya (mostly alasan yang nggak terlalu penting). Alhamdulillah, Kamis kemarin Allah mudahkan saya untuk hadir. Sekitar jam 16.30 sudah cabut dari kantor di Rasuna Said (fyi, jam kantor saya 08.00-16.30), jam17.30 udah sampai di Pondok Indah doong. Ngopi bentar di Anomali Coffee samping masjid, biar nggak ngantuk pas kajian, hehehe.

Tepat ba’da Isya kajian Sirah bersama Ustad Abi Makki dimulai, and it was super exciting. Denger cerita Ustad Abi Makki selama 2 jam nggak kalah seru dari nonton bioskop 2 jam, bahkan ini jauuuh lebih luar biasa. Ya namanya juga nyeritain kehidupan Rasulullah SAW, utusan Allah yang paling mulia dan paling baik akhlaknya, pastinya bukan cerita kehidupan yang biasa-biasa aja. I think I got the complete package by attending the event: ilmu, semangat, inspirasi, positivity, sekaligus merasa terhibur, and the most important feeling: calm and fulfilled

Finally, waktu kajian kemarin saya menyimpulkan sebuah teori. Teorinya benar atau salah, silahkan dibuktikan sendiri.

Obat dari jiwa raga yang lelah adalah majelis ilmu.

Kenapa? Karena majelis ilmu selalu akan membawa kita untuk berpikir kembali tentang visi tertinggi: surga, kehidupan terbaik di akhirat yang abadi. Fokus kita jadi teralih, it is not only about how to live this life well, but a lot more than that, hot to get “there”? How to get Jannah? Lelah babak belur di dunia juga jadi terobati dengan sendirinya, karena kita jadi sadar, dunia ini cuma sementara aja, capeknya nggak akan selamanya. Plus, jadi sadar juga, lelah di dunia juga suatu kebaikan, asal lelahnya bikin kita deket sama Allah, lelahnya bikin kita bisa pulang ke surganya Allah. Hehehe, saya obviously bukan ustadzah, tapi ada satu dalil yang sampai kepada saya, Nabi Muhammad SAW bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ


“Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya,”apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab,”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).”

Riwayat At-Tirmidzi

Di tulisan selanjutnya, saya ingin sharing secuil ilmu terkait materi kajian Kamis kemarin. Topiknya tentang Yaumul Furqon (masa-masa setelah Perang Badar). I have some notes in my book, let me rewrite on this blog. Kajian Sirah Nabawiyah Terang Jakarta Insya Allah akan ada di setiap Kamis minggu pertama setiap bulannya (jadi cuma 1 bulan sekali). Insya Allah jam 19.00-21.00 WIB di Mesjid Raya Pondok Indah. Jangan khawatir laper, karena disini ada bazar, dan di sekitar mesjid juga banyak tempat jajan, hehe.

Sebagai penutup, paragraf terakhir ini adalah sedikit bahan berpikir terutama bagi diri saya sendiri untuk bisa lebih serius hadir kajian, khususnya kajian Sirah Nabawiyah.

Dear myself,

1. Sudah berjuta kali syahadat, tapi seberapa kenal sih saya sama Nabi Muhammad SAW? Lebih dari itu, seberapa cinta saya dengan Rasulullah SAW yang sungguh saya butuhkan syafaatnya? Seberapa rindu saya dengan Rasulullah SAW yang hingga akhir hayatnya pun masih memikirkan nasib umatnya? Logikanya, mana mungkin mau cinta dan rindu, kalau kenal pun hanya sekedarnya.

2. Masih kepikiran kalau kajian sepulang kerja itu capek banget? Think again, kalau saya masih bisa main sepulang kerja, maka apa dasarnya saya nggak bisa kajian sepulang kerja? Dont let syaitan defeat your sincere intention.

Ya Nabi Salam ’AlaikaYa Rasul Salam ’AlaikaYa Habib Salam ’AlaikaSholawatullah ’Alaika

Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah (Aku menasehati kamu semua dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah.)

Ar-Rahmaan, Ar-Rahim

“ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ”

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”(Q.S. Al-Fatihah:1)

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, sebuah ayat yang saya yakin sangat akrab bagi umat muslim, bahkan yang non-muslim sekalipun. Ayat yang selalu ada di setiap solat, juga disebutkan di setiap akan memulai aktivitas. Translasi ayat ini pun sangat mudah diingat, tapi menariknya ternyata translasi yang berlaku umum selama ini belum dapat menggambarkan makna sesungguhnya dari Rahmaan dan Rahiim. Kalimat basmallah ini bisa jadi sudah ribuan kali kita ucapkan dengan lisan, saatnya kita pahami makna ayat ini dengan hati. Seriously, I am amazed by this verse, and you should too.    

Pengertian Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dijelaskan pada video kajian Ustad Nouman Ali Khan (NAK) yang berjudul Ramadhan Gems 2019 Day 3. Pada kajian tersebut, Ustad menjelaskan tentang dua hal utama, yaitu pengertian dasar dari Rahmaan dan Rahiim, serta perbedaan diantara keduanya. Oke, saya bahas soal pengertian dasar dari Rahmaan dan Rahiim dulu yaa (tentu saja berdasarkan penjelasan dari Ustad NAK, hehe)

Dalam bahasa Inggris, kata Rahmaan sering ditranslasikan sebagai mercy, atau dalam bahasa Indonesia biasanya diartikan sebagai pemurah atau pengasih. Translasi ini sebenarnya kurang tepat karena sifat mercy berlaku saat seseorang yang akan diberikan maaf atau kemudahan sedang berada dalam kesulitan. Misal seorang murid yang akan diberi nilai jelek oleh gurunya, lalu murid tersebut meminta keringanan dari si guru, maka disebutlah dia meminta mercy (belas kasihan) dari guru. Sementara kata Rahmaan pada Surat Al-Fatihah ayat 1 tidak berhubungan sama sekali dengan kondisi seperti itu. Selain itu dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, terjemahan Rahmaan dan Rahiim seperti memiliki makna yang sama, padahal Rahmaan dan Rahiim adalah dua nama Allah yang maknanya berbeda.

Kata Rahmaan dan Rahiim berasal dari kata dasar yang sama yaitu rahmah. Kata rahmah ini berhubungan dengan kata rahim (uterus) ibu. Jadi dalam konteks ini sebenarnya, Allah memberikan nama-Nya untuk dijadikan sebutan bagi perut/uterus ibu (organ dimana janin akan berkembang sebelum lahir ke dunia). Sekarang muncul pertanyaan baru dong, “Mengapa Allah menggunakan kata rahim?”

Coba kita perhatikan bagaimana hubungan antara seorang ibu dengan bayi di kandungannya. Seorang ibu akan setengah mati menjaga kandungannya, tanpa si bayi tahu apa yang ibunya lakukan. Ibu mengalami segala sakit dan ketidaknyamanan saat hamil, tapi ibu tidak mengeluh, dia bahkan menikmati dan mensyukuri kehadiran janin dalam rahimnya. Dan saatnya tiba, sang ibu harus berdarah-darah bahkan sangat dekat dengan kematian untuk dapat melahirkan bayinya ke dunia. Tidak seperti hubungan antara manusia yang lainnya, hubungan ibu dan bayi dalam kandungan adalah hubungan cinta tanpa syarat (unconditional love). Seorang ibu tidaklah memberikan mercy (belas kasihan) kepada bayinya, tapi dia memberikan cintanya, perhatian serta perlindungan kepada sang bayi tanpa si bayi tahu apa yang ibunya telah lakukan. Dan begitulah cara Allah mencintai hamba-Nya, sementara kita manusia tidak memahami betara besar perlindungan, kasih sayang dan cinta yang Allah anugerahkan.

Selanjutnya Ustad NAK membahas perbedaan antara Rahmaan dan Rahiim, dan menurut saya penjelasan ini mindblowing. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam kata Rahmaan. Dalam Bahasa Arab, pada kata yang memiliki bunyi ‘aan’, maka berarti 3 hal:

  1. Kata tersebut bersifat sangat ekstrem (saya iseng cek di google translate Indonesia-Arabic, saya input sangat lapar, dan keluar hasilnya jayie jiddaan). Dengan demikian Rahmaan bermakna bahwa kasih sayang dan cinta Allah itu jumlahnya sangat ekstrem, bukan kasih sayang dan cinta yang biasa-biasa saja.
  2. Kata tersebut juga bermakna terjadi saat ini juga (it is happening immediately! right now!). Analoginya seperti ini: Misal si X cerita ke si Y kalau si Z itu anaknya sabar banget, tapi saat si X cerita, si X kan tidak benar-benar tahu apakah saat itu si Z dalam kondisi sabar atau tidak (bisa aja kan saat si X cerita ke si Y soal kesabaran si Z, si Z malah lagi marah-marah sama tukang ojek). Sementara, jika bunyi –aan ada dalam satu kata maka menyatakan bahwa kualitas itu sedang terjadi saat itu juga. Dengan demikian Rahmaan berarti bahwa kasih sayang dan cinta Allah yang ekstrem itu sedang menghujani kita saat ini juga.
  3. Poin ketiga adalah bagian paling serem, karena kata tersebut juga bersifat tidak permanen. Misal kata jiddaan (sangat lapar), logikanya orang yang lagi dalam keadaan lapar banget pun akan hilang laparnya dengan misal sepotong roti. Dengan demikian akan ada sesuatu yang dapat menghilangkan keadaan tersebut. Begitu pula dengan Rahmaan, ada sesuatu yang dapat menyingkirkan kita dari kasih sayang yang dahsyat ini. Ada hal-hal yang jika kita lakukan akan dapat mendiskualifikasi kita dari kualitas ini. Hal ini sekaligus yang membedakan Rahmaan dengan Rahiim.

Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat memahami hal ini. Rahmaan adalah untuk semua manusia di bumi, diberikan kepada semua orang termasuk orang-orang yang bangga dengan dosanya, orang-orang yang menghina Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Al-Quran. Sementara Rahiim yang berarti selalu mencintai dan menyayangi (bersifat permanen). Rahiim hanya untuk orang-orang yang beriman dan untuk akhirat.

Kembali lagi ke Surat Al Fatihah Ayat 1. Misal Allah katakan bismillahir-rahmaan, maka artinya cinta Allah adalah ekstrem dan saat ini, tapi bisa jadi tidak selamanya. Kalau Allah katakan bismilahir-rahim, maka berarti cinta Allah akan selamanya tapi tidak ada jaminan terjadi saat ini. Melalui Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, Allah ingin kita mengerti bahwa cinta Allah adalah Rahmaan dan Rahiim. Allah memberikan cinta dan kasih sayangnya saat ini dengan mengatakan Ar Rahmaan dan menyayangi kita di masa depan dengan mengatakan Ar Rahiim.

Ada beberapa pertanyaan menarik. Pertama, kenapa Allah tidak katakan Rahiim dulu baru Rahmaan? Karena tentu saja Allah memahami ciptaan-Nya. Saat manusia menghadapi masalah saat ini (misal sakit, lapar), kita tidak dapat berpikir tentang masa depan. Ketika kondisi kita saat ini dipastikan sudah terjaga, barulah diri kita akan mulai berpikir tentang masa depan.

Kedua, diantara banyak nama Allah, mengapa Rahmaan dan Rahim yang dilekatkan dengan Bismillah (dengan menyebut nama Allah)? Ada dua hal:

  1. Allah memilih dua nama ini untuk kita sebut saat memulai segala sesuatu. Allah ingin kita sadar bahwa apapun yang kita lakukan dapat terjadi karena Allah mengizinkannya (kasih sayang Allah).
  2. Ketika ketika kita mengatakan Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dan usaha kita masih gagal, maka kita kita harus sadar bahwa kasih sayang dan cinta yang Allah berikan adalah berdasarkan sudut pandang-Nya, dan manusia bisa jadi tidak selalu dapat memahaminya. Contoh kisah Nabi Yusuf, bandingkan pengorbanan yang Nabi Yusuf alami dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan oleh masyarakat luas karena dirinya (baca kisah Nabi Yusuf).

Kesimpulan terakhir, apapun yang terjadi pada hidup kita, jangan lupa sisi ini, bahwa Allah tidak pernah berhenti mencintai, tidak pernah berhenti menyayangi hamba-hamba-Nya.

Sumber: Bayyinah Institute